Semua yang ada pada diriku terasa salah dan janggal, aku yang biasanya lincah memanjat pohon jambu kristal kini harus mengatupkan kedua pahaku. “Anak gadis jangan manjat-manjat nanti tidak perawan.” Tegur seorang guru perempuan seolah dia tidak menikmati jambu hasil petikkanku. Saat itu aku tidak tahu apa itu perawan, tapi menjadi tidak perawan terdengar sangat berdosa jadi aku memutuskan untuk tetap perawan. Saat itu aku duduk di kelas 3 sekolah dasar.
Pubertas ternyata sangat menyakitkan, sulur darah di sela pahaku membuatku tak bisa berlari mengejar bola kasti yang tidak pernahku lewatkan dari bocah-bocah lain, nafasku sesak dan perutku dialiri listrik yang mengejutkan membuatku membungkuk kaget. Aku kesal, sangat kesal. Sebenarnya aku ini kenapa? Saat itu aku kelas 6 sekolah dasar.
Aku kira saat bisa melewati semua itu, maka segalanya sudah usai. Namun, saat aku ingin memeluk sosok yang kuanggap sebagai keluarga, penolakan menjadi hal lumrah. “kamu sudah besar tidak bisa sembarangan peluk lelaki.” Dia orang yang ikut membesarkanku, masih memiliki hubungan darah dengan ibuku dan aku menyayangi sebagai seorang ayah. Apa yang salah dengan menyayangi saat sudah dewasa? saat itu aku kelas 1 sekolah menengah pertama.
Tiga fase ini aku jalani dengan bimbang, membentukku menjadi perempuan skeptis dan sinis. Aku pikir perempuan yang tidak perawan tidak boleh menyuarakan aibnya dengan keras, hal itu harus dikubur dalam di dasar laut, memalukan. Namun, bagaimana dengan dia yang dilukai? dia yang dipaksa? dia yang terenggut? Aku ikut menangis bersama temanku kala itu, dia mengaku diremas dadanya oleh rekan sekelas kami yang lelaki. Lelaki itu membela diri dengan mengatakan tidak sengaja, tapi telapak tanganku mengakhiri kalimatnya. Lelaki tidak akan paham betapa menakutkanya menjadi tidak perawan. Sehingga, mereka tidak bisa menjaga diri sendiri.
Menstruasi bukanlah kendala bagiku seiring berjalannya waktu, beginilah aku hidup. Berkutat dengan amis darah, aku pikir semua perempuan menjalaninya sepertiku. Saat itu aku kelas 1 sekolah menengah akhir, kami sekelas menjenguk teman yang absen hampir satu minggu karena sakit. Aku mengernyitkan dahi saat mendengar alasan dia sakit, mens begitulah kami menyingkatnya. Memangnya bisa separah apa sampai dia harus absen selama itu? Bukankah kita perempuan mengalaminya setiap bulan? Saat melihat bibirnya yang tidak dialiri darah dan tanganya dililit selang infus, mataku bergerak liar menelusuri tubuhnya yang lemas dan tidak berdaya. Takut, itulah yang terbesit dipikiranku.
Akhirnya aku mulai berpikir, terlahir menjadi perempuan ialah kutukan. Kutukan yang harus aku jalani sampai akhir hayat, sampai tubuh ini membusuk dan tidak ada yang tahu apakah ini tubuh perempuan atau lelaki. Mungkin saat itu terjadi aku bisa bahagia?
Melewati angka belasan, kini aku sudah pada usia yang di cap dewasa. Aku sudah bisa memilih dan bertindak. Hal pertama yang ku lakukan ialah mencintai, aku mencintai keponakan lelakiku dengan sepenuh hati, aku tidak ingin batasan yang aku rasakan dulu mengahalangi cintaku pada anak-anakku. Orang dewasa kadang lupa kalau cinta yang dimiliki seorang anak sangat tulus juga tanpa alasan. Indah bagai anugerah di gersangnya kehidupan. Saat keponakan pertamaku lahir, aku melihat dunia denga cara baru. Segala hal harus indah untuknya. Aku memeluknya hangat, aku menciumnya lembut.
“Jangan cium dia seperti itu” Ibunya menegur, kakak perempuanku. Aku menatapnya bingung saat dia berlalu pergi dengan sapu lidi yang sudah rontok, aku lalu menatap keponakanku yang baru berusia 1 tahun 6 bulan menggeliat dipangkuanku. Ada rasa sakit yang menusuk hatiku. Secepat inikah batasan itu digores? Aku masih ingin mencintainya.
Mungkin cintaku dinilai janggal dan asing, mengekspresikan diri apa adanya saja sudah sulit. Ini lagi harus berurusan dengan penolakan, aku tidak punya cukup energi untuk itu. Aku selalu berpikir orang-orang dewasa sangat buruk dalam memaknai cinta, hingga kini pun aku masih berpikir demikian. Bahkan setelah mengetahui alasan dibalik semua itu aku tetap tidak bisa memahmi cara mereka mengartikan cinta. Perasaan yang murni disandingkan dengan tindakan kekerasan tidak terbaca dengan benar olehku.
Bagaimana mungkin cintaku diindikasikan sebagai pemicu nafsu bagi anakku kelak?
Bagaimana mungkin ketulusanku terlihat sebagai tindakan penuh nafsu?
Bagaimana mungkin kasih sayangku dicap kotor dan asing?
Apa karena aku perempuan dan keponakanku lelaki hal ini terjadi? Sejak hari itu aku berdoa untuk dihadirkan keponakan perempuan agar cintaku dapat terlihat benar. Namun, sampai detik ini anugerah itu tidak pernah hadir.
Mungkin aku memang salah, ada sesuatu yang tidak pantas telah aku lakukan sebagai seorang perempuan. Aku mulai mencari cara menjadi perempuan yang baik dan benar. Aku masih perawan, sudah tidak memanjat pohon atau berlarian. Siklus mens ku berjalan dengan baik dan benar. Aku sudah tidak memeluk atau mencium keponakanku sendiri. Aku sudah mulai menerima tugas-tugas perempuan dengan lebih ikhlas, mencuci piring dan baju, menyapu, menyetrika, antar jemput, memasak, beberes kamar tidur, kamar mandi, bakar sampah, buang sampah, menyetrika….
Aku merasa tidak hidup, rutinitas itu mencekik leherku. Segalanya menjadi teror yang jika tidak aku selesaikan aku akan gagal menjadi seorang perempuan. Aku bagaikan makhluk tidak bernyawa yang hilang arah. Lalu, satu kalimat hadir menyentakku sadar.
“Tetangga sebelah baik dan sudah kerja, siap menikah” Aku pun memutuskan untuk kuliah, lari dari siklus yang sudah tidak sanggupku jalani. Hidup sebagai perempuan sempurna mungkin bukan jalanku. Sedikit cela akan terlihat cantik di kulitku. Aku memutusan untuk tidak menikah dan melanjutkan pendidikan sampai akhir hayatku, mengabdi untuk manusia-manusia kecil yang lugu cintanya terasa bagai angin segar untukku. Seolah mengobati diriku yang yang berusia 10 tahun, diriku yang dipaksa dewasa, diriku yang dipandang asing, diriku yang terluka.
Menemukan harapan diantara keputusasaan sudah cukup untukku menjalani hidup sebagai perempuan, Kenapa harus gundah saat aku terlahir sebagai makhluk yang bisa melahirkan makhluk lain? Kenapa harus bersedih disaat aku ialah perempuan yang penuh rasa dan cinta? Kenapa?
“Aku sudah tidak perawan.” Aku hampir menangis mendengar pengakuan dari perempuan yang sudah kuanggap bagian dari hidupku, mataku bergerak liar tidak sanggup bertatap dengannya. Dia menuturkan dengan santai, menguraikan peristiwa itu bagaikan jalinan anyaman tikar yang membentuk bunga. Aku menarik senyum tipis, mencoba mengikuti arus ceritanya meski darah sudah surut dari wajahku. Punggungku menggigil saat dia menyatakan bahwa dia sendirilah yang memilih untuk hal ini terjadi. Telingaku berdenging berunlangkali seolah mengahalangi suarnya yang sudah familiar di gendang telingaku.
Malam itu aku menatap langit kelam yang tak berbintang, mencoba mencari pertolongan dari sesak yang menghimpit dadaku. Dia bukan perempuan utuh lagi, dia menyerahkannya begitu saja tanpa ikatan pernikahan. Dia sudah melukai dirinya sendiri, dia mengecewakan aku yang perempuan juga, dia….
Suaraku menyatu dengan suara guru yang menegurku dulu, dengan suara kakakku dulu, suara yang memerintahku dulu, suara yang membatasiku dulu, suara yang membentuk diriku dulu, suara denging yang menyakitiku dulu.
Aku menggenggam tangannya, “Tidak ada yang berubah.” Dia tersenyum, lalu menangis lirih. Mungkin beginilah cara dia mencari tahu cara mencintai, meski rancu dan janggal, meski tidak yakin dan bimbang. Keberaniannya untuk mencari tahu sudah cukup membuktikan betapa hebatnya dia sebagai seorang perempuan. Tidak ada yang hilang dari dirinya, dia tidak kekurangan apapun justru dari dia aku mendapati anugerah terbesar.
Kutukan menjadi perempuan tidak pernah ada, kesempurnaan tidak pernah ada, perempuan baik tidak pernah ada dan semua itu tidak apa-apa. Aku yang terpaku pada pelabelan itu melupakan satu hal bahwa kita juga manusia dan manusia ialah anugerah.
Penulis : Nur Hidayah Nazri, lahir di desa dan tumbuh di lingkungan yang homogen, membuat saya cenderung takut dengan perubahan. Namun, sejak menempuh pendidikan di UIN Suska Riau dan bertemu dengan rekan-rekan dari berbagai ras, suku dan agama. Saya menjadi tertarik dengan perbedaan, ini juga yang membuat saya ikut dalam penelitian mengenai penganut penghayat. Menulis merupakan bagian dari fase hidup saya terutama saat saya merasa down, menulis ialah bentuk pelampiasan emosi. Terutama saat saya frustasi mengenai masalah gender yang sedang terjadi akhir-akhir ini, banyak hal yang ingin saya tuang dalam tulisan saya dan salah satunya ialah tulisan ini.
Editor & Ilustrasi: Hamimie
