Aku bukan Kanvasmu

Ada yang bilang seni adalah bahasa jiwa. Aku percaya itu bahkan sebelum aku tahu cara mengucapkannya.

Pertama kali aku memegang kuas, dunia terasa berbeda. Warna bukan sekadar warna. Merah bisa berarti rindu, biru bisa berarti ruang untuk bernafas, dan putih, putih adalah kemungkinan yang tak terbatas. Di atas kanvas, aku tidak perlu menjadi siapa pun selain diriku sendiri. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu dibuktikan.

Aku masuk kedalam ruang penuh ekspresi, tidak ada batas, bebas, liar, indah. Ruang yang sebelumnya sangat ingin aku berada di dalamnya. Lorong-lorong berbau cat dan terpentin, dindingnya penuh karya yang berteriak dan berbisik sekaligus. Aku merasa akhirnya menemukan tempat di mana aku masuk akal.

Aku percaya bahwa setiap keindahan adalah titipan, bahwa seni yang lahir dari tangan manusia adalah cara kecil untuk mensyukuri apa yang Tuhan ciptakan. Ketika melukis, itu adalah caraku bersyukur. Caraku hadir.Ia datang dengan tanda salib dan patung Bunda Maria yang tenang di sudut mejanya. Menyambut dengan kata-kata yang terdengar seperti puisi, sangat dalam, meyakinkan, seolah ia mengerti hal-hal yang orang lain tidak mampu rasakan. Ia berbicara tentang ekspresi, tentang keberanian berkarya, tentang bagaimana seni adalah tindakan paling jujur yang bisa dilakukan manusia. Aku tidak melihat perbedaan, aku hanya melihat seseorang yang juga tampak mencintai keindahan. Aku pikir kecintaan pada seni adalah bahasa yang melampaui semua batas.

Aku percaya. Tentu saja aku percaya. Karena aku mencintai seni, dan ia berbicara dalam bahasa yang sama. Yang tidak aku sadari, ia tidak sedang berbicara tentang seni. Ia sedang berbicara tentang aku. Memetakan di mana aku rentan. Mencatat di mana aku paling terbuka. Kuas yang kupegang perlahan berpindah tangan, dan aku bahkan tidak menyadarinya sampai kanvasku sudah penuh dengan warna-warna yang bukan pilihanku.

Seni yang mengajariku bebas, dipakainya guna mengurungku. Dulu kami berada di bawah langit yang sama. Aku tertawa bahagia di sana, menangis sedu pun di sana, dalam pelukan yang terasa seperti rumah. Tapi rumah bisa berubah tanpa peringatan. Langit yang sama tiba-tiba terasa muram. Pelukan yang sama terasa asing. Ia masih ada, tapi seperti lukisan yang warnanya mulai memudar perlahan, hampir tidak terlihat, sampai suatu hari kamu sadar yang tersisa hanya kanvas kosong dan bayang-bayang warna yang pernah ada.

Aku tahu aku harus pergi. Tapi tahu dan mampu adalah dua hal yang berbeda, seperti melukis langit dan benar-benar bisa terbang. Ada rasa yang belum usai di dalam diriku, ada bagian kecil yang masih menunggu sesuatu berubah, masih mengetuk pintu yang sudah lama tidak dibuka dari dalam.

Aku bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena tidak melihat tanda-tandanya aku melihat, aku selalu melihat. Tapi mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh membuat ku belajar mencari alasan untuk tetap tinggal. Aku terus berusaha, terus mengulurkan tangan, terus meyakini bahwa kalau aku cukup sabar, cukup hadir, cukup mencintai, semuanya akan kembali seperti dulu. Seperti warna yang bisa dipulihkan hanya dengan menambah lapisan baru di atas kanvas yang sama.

Tapi ada yang tidak bisa dipulihkan dengan cara itu. Dan tubuhku tahu lebih dulu dari pikiranku.Rasa itu tidak tertahankan lagi.Malam sunyi terakhir kami berada di gereja. Udara dingin menyelinap pelan, angin bergerak di sela-sela lilin dan doa yang bergantung di langit-langit tinggi. Di depan patung Bunda Maria yang dulu pertama kulihat tenang di sudut mejanya di tempat semua ini dimulai, di tempat aku pertama kali percaya aku mengatupkan tangan.

Ini bukan keyakinanku. Tapi aku percaya Tuhan hadir di mana pun. Di atas kanvas yang kosong, di ruang yang berbau cat dan terpentin, di malam yang paling sunyi sekalipun. Tuhan tidak pernah salah memilih tempat untuk hadir, dan malam itu Ia hadir di sana, di antara dingin dan doa yang hampir tidak bisa kuucapkan.

Tuhan, aku titipkan dia. Aku akan pergi. Ini berat, sangat berat. Tapi aku tidak bisa terus mencintainya sambil terus kehilangan diriku sendiri.Ia tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya bergolak di balik senyumku. Tidak tahu berapa kali aku hampir berkata sesuatu lalu menelannya kembali. Tidak tahu bahwa malam itu, di tempat yang ia anggap suci, aku diam-diam berpamitan bukan kepadanya, tapi kepada versi diriku yang terlalu lama tinggal.

Aku melangkah keluar. Kaki terasa berat, luka belum punya nama, angin masih sama dinginnya. Tapi langkah itu tetap kulangkahkan satu, lalu dua, lalu seterusnya membawa pergi semua yang belum usai, semua yang mungkin tidak akan pernah benar-benar usai.

Ketika aku kembali memegang kuas, rasanya seperti menggenggam sesuatu yang sudah lama menungguku asing, tapi hangat dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Seperti pulang ke rumah yang pintunya masih sama, tapi aku yang membukanya sudah berbeda.Tangan ini masih berat. Setiap goresan masih menyimpan endapan yang belum sepenuhnya mengering. Kadang yang ingin kulukis masih tentang dia, tentang langit yang pernah terasa milik kami berdua, tentang warna-warna yang lahir dari musim yang sudah berlalu. Aku tidak melawannya. Luka yang jujur lebih indah dari kanvas yang berpura-pura kosong.

Tapi kali ini, kuasnya ada di tanganku. Benar-benar di tanganku.Kanvas ini baru, putih seperti kemungkinan, seperti napas pertama setelah lama menyelam terlalu dalam. Tidak ada bekas warna yang dipaksakan. Tidak ada goresan yang lahir dari ketakutan. Di sini aku bisa melukis apa yang sungguh-sungguh, aku mau bebas, benar-benar bebas. Bahkan kalau hasilnya tidak sempurna, bahkan kalau tanganku masih sesekali gemetar mengingat.Ia pernah membentukku. Pernah menjadi tangan yang menggerakkan kuas tanpa aku sadari. Dan untuk waktu yang lama, aku membenci kenyataan itu membenci betapa mudahnya aku percaya, betapa dalam aku membuka diri kepada seseorang yang sedang memetakan di mana aku paling rapuh.

Tapi perlahan, seperti cat yang mengering di atas kanvas, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda. Mungkin inilah yang Tuhan maksudkan bahwa dari tangan yang salah pun, sesuatu yang nyata bisa terlahir. Bahwa setiap luka adalah guratan yang membentuk siapa kita, bahwa sakit yang paling dalam kadang adalah guru yang paling jujur.

Aku sedang dalam perjalanan kembali kepada diriku. Yang lebih baru. Yang lebih utuh. Yang berjalan beriringan dengan mimpi-mimpinya sendiri, di bawah langit yang kini terasa lebih luas dari sebelumnya.

Lukisan ini mungkin tidak sempurna. Tapi ia milikku sepenuhnya, seutuhnya milikku.Dan kali ini, tidak ada yang bisa memindahkan kuasku.

Penulis: Yulinda Rahma Meilani, lulusan Ilmu Komunikasi yang memiliki ketertarikan pada isu sosial, gender, media, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui pengalaman akademik dan berbagai kegiatan organisasi, ia mengembangkan minat dalam penelitian, penulisan, serta advokasi sosial. Baginya, menulis merupakan sarana untuk merefleksikan pengalaman, menyampaikan gagasan, dan mendorong perubahan yang lebih baik di masyarakat.

Editor & Ilustrasi: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya