Rumah itu ramai tapi sunyi. Terop sudah terpasang depan rumah dengan gelaran tikar melapisi jalan gang sempit. Beberapa berdiri dan menyandarkan diri ke motor yang terparkir miring di depan rumah warga. Bau kopi dan bunga ronce jadi satu. Suara ibu-ibu mengaji yasin di ruang tamu tercampur oleh desing piring dari dapur. Air mata ku mengalir tak terkendali melihat ia yang terbaring dengan rapi dan wajahnya tenang adalah bapak.
Aku berdiri lama di ambang pintu. Menahan diri dari kaki ku yang lemas. Tidak ada yang menyapaku hanya anggukan kecil dan lirikan singkat. Seolah semua orang tahu bahwa aku baru datang dari jauh dan belum sepenuhnya tiba.
Empat jam yang lalu aku masih di apartemenku, lantai 22 di Jakarta Barat. Aku baru pulang dari acara makan malam kantor pada jam dua pagi dini hari lalu menerima telepon dari ibu. “Nduk, bapak sudah tiada umur. Ayo muleh,” begitu ujar ibu di telepon dengan suara paraunya dari sisa tangisan.
Aku tau, ibu menahan diri dalam telepon. Kalimat itu keluar begitu saja darinya, tidak dramatis dan tidak panjang. Tapi kepalaku mendengung kebingungan. Aku hendak mengambil air, terdiam di sana. Tubuhku lemas dan langsung terduduk depan dispenser. Mataku menatap bumbung dan berdiri lagi tanpa benar-benar tahu harus apa.
Sesaat kemudian, kuputuskan langsung berkemas seadanya dan berangkat ke bandara. Layar keberangkatan, antrean yang tidak terlalu padat di subuh hari dan petugas yang sudah berjaga. Aku mencari penerbangan tercepat ke Surabaya, berapapun harganya. Kali ini aku benar-benar dikejar waktu meski sudah ditinggal bapak lebih dahulu.
Aku tiba ketika bapak sudah dipakaikan setelan terakhirnya di ruang tamu. Kembali ke ambang pintu, aku mulai mendekati bapak. Kusentuh kulitnya yang dingin. Aku menggenggam sebentar lalu tangis histeris pecah. Hatiku kacau balau. Ibu-ibu di ruang tamu ada yang mencoba menenangkanku dengan memberiku air minum, mengulung tisu, juga memelukku dari belakang. Mereka tetanggaku.
Beberapa waktu setelahnya kami beranjak ke pemakaman. Proses pembumian berlangsung cepat. Bapak dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di daerah pegirian ampel. Kulihat wajah-wajah yang kukenal sejak kecil, tetapi terasa asing karena lama aku tidak melihatnya. Aku berjalan di samping ibu sambil mendengarkan orang-orang bicara tentang cuaca yang tidak terik dan liang kubur yang telah disiapkan sejak pagi.
Bapak diturunkan, tanah diuruk, doa selepas talkin, selesai. Para pakde itu menyuruh aku dan ibu kembali ke rumah dengan naik becak saja agar tidak lelah. “Cak, terno yo nak Petukangan gang 2,” ujar Mas Feri tetangga depan rumahku ke tukang becak di depan makam sembari memberi uang ongkos kepada bapak becak. Di perjalanan, aku membayangkan rumah akan sepi hanya aku dan ibu. Ibu terus menggenggam tanganku selama perjalanan di atas becak tanpa mengucap sepatah kata apapun. Setiba di rumah, justru yang kulihat rumahku ramai tetangga.
Panci-panci besar berjajar di atas kompor yang dibuka di pelataran rumah tetangga. Nasi mengepul dan aroma sayur asem dengan dadar jagung memenuhi jalanan gang rumahku. Beberapa ibu menyiapkan makan untuk para pakde yang akan kembali setelah memakamkan dan yang lainnya menata air mineral serta jajan di atas tikar. Dari arah belakang ada remaja lelaki baru datang menaiki motor dengan membawa dua kardus botol air mineral lalu memasukkannya ke rumah tanpa banyak bicara.
Aku berdiri, bingung harus ke mana. Pemandangan ini membuat kepalaku berputar ke masa lain. Dulu, aku pergi dari kampung ini karena aku lelah. Lelah pada komentar yang selalu terasa menyempitkan. Lelah pada tatapan yang seolah tahu segalanya tentang hidupku. Aku adalah perempuan yang saat itu berusia 25 tahun yang lulus kuliah selama 7 tahun tentu saja pertanyaan rutinan itu terus diuarkan; mau kerja apa, sudah ada calon atau belum, kuliah lama-lama kok nganggur. Bahkan paket yang mendarat di rumahku pun ditandai sebagai keborosan perawan yang tidak bekerja.
Aku menyebutnya julid dengan kampung yang terlalu ingin tahu. Aku memutuskan untuk pergi merantau sekalian jauh ke ibu kota dengan teguh pada keyakinan bahwa di kota metropolitan seperti Jakarta kehidupanku akan lebih ringan karena tak ada yang mencampurinya. Bapak sudah berusaha menahanku agar tetap di kampung saja, toh aku anak satu-satunya, perempuan pula. Tapi tetap saja, berbekal tekad dan nekat aku berangkat dari terminal Bungurasih. Pesan terakhir bapak di terminal masih kuingat sampai sekarang “Ojo lali asalmu nduk, ojo lali omah,”. Sudah lima tahun aku merantau tanpa pulang kampung dan hidup di apartemen tentu rutinitas lingkungannya adalah yang aku dambakan.
Sekarang, di pemandangan ini keyakinan itu terasa goyah merapuh. “Nduk..” suara ibu memanggilku kembali ke situasi ini. Ia berdiri di ambang pintu rumah, wajahnya lelah tapi tenang. Aku menghampirinya dan ibu mengajakku masuk kedalam kamarnya. “Nanti malam enaknya tahlilan jam berapa ya nduk?”, tanya ibu dengan wujud tegarnya seolah tidak ada dunianya yang runtuh hari ini.
Aku menatap sekeliling mencoba menyadarkan diri. “Ibu, ini tadi semuanya ini gimana ya bu?” Tanyaku pelan. “Maksudku.. kebutuhan bapak, liangnya, makanan yang disuguhkan, orang-orang. Ini siapa bu yang ngurus? Uangnya mau kuganti, Bu,” lanjutku. Ibu tersenyum kecil memahami kebingunganku. “Iki sinoman nduk..” ujar ibu. “Memang sudah begitu dari dulu. Ada dana kematian dari iuran kampung. Ada yang masak, ada yang ngurus, semua orang kampung sudah di tugasnya sendiri.”
Aku terdiam. “Bapak dulu juga sering ikut, Nduk,”, lanjut ibu. “Yaa.. kalau ada orang yang meninggal ya datang bantu. Ibu juga ikut rewang, memasak sama ibu-ibu lain. Sekarang gantian kita yang di bantu.” Aku menelan ludah di kepalaku, potongan-potongan lama berjatuhan. Obrolan di gang sempit yang dulu kuanggap gosip. Orang-orang yang sering datang tanpa janji. Semua yang kuanggap mengganggu, ternyata adalah cara kampung ini saling memastikan tidak ada yang sendirian di saat yang paling rapuh.
Ibu duduk di kasur lalu mencoba mengingat nama kerabat lain yang perlu diikutsertakan untuk kirim doa. Aku menyandarkan diri di dipan kasur dan melihat keluar dari pintu. Kulihat Budhe Hasna mengantar lusinan piring dan sendok dibantu oleh menantunya. Iya, Budhe Hasna yang selalu tanya kapan aku akan menikah dan membandingkan dengan putrinya yang sudah menikah dan mendapat suami pegawai Bank itu.
Pakde Soleh, pria yang sering bertanya kenapa aku kok belum saja bekerja sesaat setelah lulus saat ini membantu ibu-ibu mengganti gas. Ada anak-anak muda yang seingatku dulu sebelum pergi merantau mereka masih SMA kalau tidak salah itu Mira dan Annisa di ruang tamu yang sedang membuat daftar belanjaan untuk pergi ke pasar. Tidak ada yang terlihat bingung, tergesa-gesa dan menunggu perintah. Semuanya bekerja dengan bagian tugas masing-masing.
Aku kembali menatap ibu lalu foto ibu dan bapak di pigura jadul yang menempel di dinding kamar ibu. Bapak bisa pergi dengan tenang, barangkali karena ia tahu kampung ini tidak akan meninggalkan keluarga kecil yang ia tinggalkan. Untuk pertama kalinya, ketika pulang aku tidak berdiri sebagai tamu dan aku tidak merasa harus lari lagi. Mereka para tetangga yang kuanggap menyakitkan ternyata paling awal dan terdepan ketika aku, pun, keluargaku merapuh. Aku memang mencintai kehidupan di apartemen kota besar itu dengan hingar bingar jam padat yang memenuhi hari, namun jika begini, adakah yang mau memberikan tenaga dan waktunya tulus ikhlas seperti ini?
_
Penulis: Nadiya Tri Aryani, seorang mahasiswa magister psikologi yang berfokus pada Social & Environmental Psychology. Penelitian yang telah ia lakukan berkaitan dengan bagaimana dinamika perilaku warga khususnya di perkampungan kota Surabaya terhadap kelestarian lingkungan dan juga terkait pilihan sikap berpolitik Gen Z di kota Surabaya. Selain itu, Nadiya juga saat ini sedang aktif menulis terkait bagaimana perilaku kekerasan dapat terjadi di lingkungan pendidikan dan juga demonstrasi.
Editor: Azkal Azkia Nurrohmat
Foto: Unsplash.com/Shakib Uzzaman
