Di Balik Gemerlap Kota Surabaya

Kota Surabaya berdiri megah seperti cermin peradaban modern yang megah, sibuk, dan dingin. Di malam hari, kilau lampu-lampu gedung mencakar langit, seolah menantang bintang-bintang untuk tak lagi menjadi pusat cahaya. Jalanan dipenuhi orang yang berjalan cepat, seakan waktu sedang memburu mereka.

Di tengah pusaran kehidupan yang riuh itu, Tama, seorang manajer muda berusia tiga puluhan, hidup dalam gemerlap keberhasilan. Jasnya licin, sepatunya mengkilap, dan setiap langkahnya menggaungkan ambisi. Di dunia kerja, namanya harum. Di media sosial, ia jadi panutan: wajahnya tampan, mobil sport merah, olahraga mahal, dan perjalanan ke luar negeri.

“Kerja keras harus dirayakan dengan kesenangan,” ujarnya kepada rekan kerjanya, Dimas, di sela menyeruput kopi lima puluh ribu di lobi kantor.

Dimas mengangguk, menepuk bahunya.

“Kau benar, Tam. Hidup itu soal siapa yang paling cepat menangkap peluang, bukan siapa yang paling bersabar.”

Keduanya tertawa. Dunia mereka penuh persaingan, tapi juga keserakahan dan obsesi. Kantor mereka sering menjadi arena pamer, siapa yang mengenakan jam tangan lebih mahal, siapa yang liburannya paling esklusif, siapa yang memiliki apartemen dengan view terbaik.

Mereka tak sadar bahwa di balik tembok kaca tempat mereka bekerja, ada manusia-manusia lain yang memandang gedung itu dari kejauhan, kagum sekaligus menyimpan iri dalam hati. Betapa nasib begitu tak adil.

Lain Tama dan Dimas, lain pula Sinta, teman kuliah Tama dulu, memilih jalan beda, menjadi aktivis. Ia mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak di kampung kumuh pinggiran kota. Setiap pagi, ia berjalan di jalanan becek, menembus bau got, dan menyapa senyum polos yang menanti di depan rumah-rumah reyot.

Sinta sering melihat unggahan Tama di media sosial berupa foto-foto pesta, jendela pesawat business class, dan kota-kota klasik di benua Eropa. Dalam hatinya ada sejumput getir, bukan iri, tapi sedih. Tama yang dulu idealis kini menjelma simbol zaman yang hedonisme, serba instan, pamer kemewahan, tapi kehilangan arah.

Suatu malam, reuni kampus mempertemukan mereka kembali. Restoran mewah di pusat kota penuh cahaya dan musik yang mengalun lembut. Tama datang dengan jas abu-abu dan aroma parfum mahal. Dimas menyertainya, sibuk memotret makanan untuk diunggah di media sosial.

Di pojok ruangan, Sinta duduk dengan gaun sederhana. Saat melihat Tama, matanya berbinar, kerinduan pada sahabat lama yang sempat bercita-cita mulia, ‘memperjuangkan dunia yang lebih baik.’

“Tama, kamu terlihat sukses sekali,” kata Sinta pelan. “Ya… Akhirnya semua kerja keras terbayar.”

“Tapi, kamu masih sempat menelpon ibumu di kampung kan?” Pertanyaan itu memukul pelan, tapi telak mengenai sasaran.

Tama terdiam sejenak, menatap meja. Sudah hampir dua tahun ia tak pulang. Bahkan, ia dua kali melewatkan ulang tahun ibunya karena sibuk temu rapat dengan klien. Dimas yang duduk di sebelahnya tertawa kecil.

“Ah, Sinta, jangan terlalu sentimental. Ibu mana pun pasti bangga kalau anaknya sukses. Bukankah begitu, Tam?”

Tama tersenyum hambar. Ia mencoba ikut tertawa, tapi dadanya berat. Dalam sekejap, percakapan itu membuatnya merasa asing di tengah keramaian.

Sinta memandangnya lembut. “Kau tahu, Tam. Kalau semua orang sibuk hanya dengan dirinya, siapa yang akan peduli pada mereka yang tertinggal?”

Waktu berlalu cepat.

Suatu pagi, kantor Tama menemui nasib buruk.   Perusahaannya bangkrut karena investasi bodoh, ambisi dan keserakahan berpangkal. Dimas menghilang, kabarnya kabur membawa sebagian dana proyek. Dunia Tama runtuh dalam semalam. Mobil ia jual, apartemennya disita, kartu kreditnya diblokir.

Ia mencoba menghubungi teman-teman kerjanya, tapi tak ada yang menjawab. Dunia yang dulu ramai, sunyi tiba-tiba.

Untuk pertama kalinya Tama menyadari betapa rapuhnya hidup yang dibangun di atas rasa gengsi. Ia berjalan di kota yang sama, Kota Surabaya yang megah tapi dingin. Gedung-gedung tinggi terasa seperti raksasa bisu yang menertawakan kejatuhannya.

Suatu malam, tanpa arah, Tama melangkah ke pinggiran kota. Angin membawa aroma tanah basah dan asap dapur sederhana. Di ujung gang, cahaya lampu redup menyorot wajah anak-anak kecil yang sedang tertawa riang.

Di sanalah ia melihat Sinta. Wajahnya berkeringat, namun matanya bersinar. Sinta sedang mengajar anak-anak menulis huruf di papan kayu. Di balik kesederhanaan itu, Tama melihat yang telah lama hilang dari hidupnya, suatu kedamaian.

“Sinta…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

“Tama,” Sinta menoleh, tersenyum lembut. “Akhirnya kau datang juga.” “Aku kehilangan segalanya,” ujarnya lirih.

“Tidak, Tama. Kau cuma kehilangan apa yang seharusnya tak kau kejar. Yang benar-

benar berharga tak pernah pergi.”

Tama menunduk. Air matanya jatuh, membasahi tanah yang kotor namun nyata. Ia membantu Sinta malam itu, mengangkat papan, menulis alfabet untuk anak-anak, dan mendengar tawa mereka bergema di antara dinding papan yang reyot.

Hari berganti, dan Tama mulai datang setiap sore. Ia bukan lagi manager yang sibuk, melainkan guru sukarela yang belajar kembali tentang hidup. Anak-anak memanggilnya ‘Kak Tama,’ dan di matanya, ia melihat versi dirinya yang dulu, apa adanya, rendah hati dan optimis bahwa pendidikan dapat mengubah dunia.

Sinta kadang menatapnya diam-diam, bangga dan haru jadi satu.

“Dulu kamu berburu cahaya di rooftop gedung-gedung jangkung itu, Tama. Sekarang kamu nyalakan cahaya di hati orang lain.”

Tama tersenyum. “Mungkin harus kehilangan segalanya dulu agar aku tahu arti berada.”

Kota Surabaya masih berkilau setiap malam. Cahaya lampu-lampu neon tetap menari di atas gedung kaca, tapi bagi Tama, cahaya itu kini tak lagi berarti. Ia telah menemukan kilau sejati.

Dan di bawah cahaya sederhana di gang sempit itu, Tama akhirnya paham, kebahagiaan bukan tentang seberapa terang kita bersinar, melainkan seberapa banyak cahaya yang kita bagi untuk menerangi sesama.

Penulis: Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018). Dapat disapa lewat akun instagram: @pitruspiet.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya