Fenomena mahasiswa abadi adalah rupa-rupa degub di universitas. Pasalnya, makhluk ini bagaimanapun harus diterima sebagai bagian dari universitas sejak namanya resmi nangkring dalam data mahasiswa. Tak ada alasan kuat menolak, lebih-lebih menendangnya dari gelanggang kampus.
Sebenarnya setiap mahasiswa sangat memungkinkan lulus tepat waktu, karena kuliah bukan laiknya gedebug cinta, mendadak obrak-abrik habitus. Seperti halnya di sekolah, tenggat belajar di universitas normal ditempuh dalam waktu yang pasti, senyampang mahasiswa menjaga nilainya tidak merah dan tidak mengambil cuti tengah semester untuk bekerja atau menikah. Hanya saja, bayangan indah itu akan tumpah dan pecah di lapangan. Faktanya, mahasiswa kerap menghadapi berbagai distraksi.
Remaja yang labil, masa muda penuh nafsu materialistik, mabuk idealisme, serta kewajiban-kewajiban berbentur dengan sifat kanak-kanak, merupakan potret kehidupan mahasiswa. Belum lagi naluri ketertarikan pada lawan jenis yang membopongnya ke gua narsistik, sehingga sifat-sifat menjijikkan layaknya kesombongan atau egois, tumbuh subur di sana. Tidaklah semua ini kecuali bagian dari “ghurur” alias tertipu. Terbayang betapa gampangnya manusia mudah tertipu bahkan oleh gelagatnya sendiri.
Sejak masa orientasi, mahasiswa sudah dikenalkan dengan pernak-pernik organisasi, komunitas, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang tersedia di kampus. Hal tersebut seperti pajangan etalase warteg “sedia menu apa saja”. Beberapa pemangku kepentingan (stake holder) berlomba-lomba “menjajakan” produk mereka, berharap mahasiswa atau calon anggota tertarik dan tergerak bergabung. Semua akan “ngecap” pada waktunya, karena produk olahan kedelai hitam itu selalu mengiklankan dirinya nomor satu. Sejak itu pula, mahasiswa baru, menaruh ancang-ancang bakal gabung dengan grup tertentu sesuai bakat dan minat. Namun, juga tidak sedikit yang nimbrung tanpa alasan yang cukup dipertimbangkan. Dari sini mahasiswa terberai dua mazhab: mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat) dan kupu-kupu (kuliah-pulang).
Apakah suatu keharusan, mahasiswa berorganisasi? Jawabnya iya dan tidak. Mahasiswa yang sedari melepas topi SMA sudah bercita-cita menjadi aktivis, penggerak di bidang tertentu, atau berorganisasi, adalah insan masa depan yang amat mulia, di mana alam imajiner yang membentang dalam batok kepalanya, setidaknya menurut pandangan pragmatis. Lingkaran dengan ruang luas dapat diperoleh dari organisasi kampus lebih dari batas yang praktis didapat saat mengikuti OSIS, misalnya. Karena tanpa disadari atau tidak, predikat mahasiswa mendapat kursi agak tinggi di masyarakat karena dianggap lebih dewasa meskipun tetap ditaruhi curiga.
Bagi mahasiswa seperti ini, tentu waktu adalah pisau yang jika tidak ia awasi dan gunakan dengan baik akan menggorok tuannya. Di mana ia harus cakap mempermainkan waktu, menggeser kepentingan sekunder di bawah kepentingan primer. Ketika berbenturan antara keharusan mengikuti kelas dan rapat anggota, tentu yang pertama wajib didahulukan, karenanya adalah kepentingan primer (maksud utama). Sementara, rapat anggota atau konsolidasi bersama pembina tidak sampai pada tingkat darurat kecuali jika amat terdesak. Hematnya, ia harus pandai mensiasati prioritas sesuai besar-kecilnya maslahat.
Adapun mahasiswa yang tidak muluk-muluk mencapai target ini itu, setidaknya ia harus tetap menyibukkan diri dengan banyak membaca buku dan ngopi sejauh-jauhnya. Karena sejatinya hidup adalah pelarian, dari kopi satu ke kopi lain. Meski ia tidak terjaring dalam satu komunitas tertentu, tidaklah elok menjadikan waktu luang sebagai alasan untuk leha-leha. Justru tantangan terbesar baginya adalah memperoleh pengalaman serupa mahasiswa lain yang benar-benar “sibuk” berorganisasi. Bukankah rugi, dengan tagihan semester yang sama, tuntutan jam kuliah yang sama, tetapi menelorkan hasil yang berbeda-beda? Jomplang jauh dengan kolega?
Agaknya penting menyitir kalimat Charles Bukowski, “and when nobody wakes you up in the morning, and when nobody waits for you at night, and when you can do whatever you want. what do you call it, freedom or loneliness?” Dua bilah yang tipis sekali sekatnya, kebebasan dan kesepian adalah dua ‘siksaan’ yang berbeda.
Masihkah “idealisme” merupakan satu-satunya kemewahan yang tersisa bagi pemuda, seperti kata Tan Malaka, ataukah ia sudah berubah penyakit yang memontang-pantingkan pemiliknya? Tentu untuk menjawabnya butuh jutaan tinta dan (cuma) satu percobaan.