Kirab budaya dalam acara sedekah bumi yang di daerahku lebih dikenal dengan “tegal desa” sudah dimulai. Rombongan dari berbagai kelurahan yang mengenakan berbagai busana –dari busana adat hingga modifikasi modern dengan warna-warna cerah, melewati jalan yang sudah ditutup total. Diiringi gending campursari yang telah diaransemen ulang menjadi musik yang menghentak dan menggelegar dari sound horeg. Di antara rombongan itu, puluhan ancak raksasa pun bergerak menuju lapangan kecamatan yang merupakan tempat diadakan acara doa dan syukuran dan diakhiri dengan makan bersama.
Ratusan penonton yang telah menunggu di sepanjang jalan, kini bergerak mendekati ancak-ancak yang dihias dengan berbagai macam buah dan aneka sayuran. Ancak-ancak itu dikreasi dengan bentuk yang menarik, tidak hanya gunungan, ada juga yang dibentuk karakter fiktif, hewan purba, dan lainnya. Tingginya pun bisa mencapai dua hingga tiga meter. Ancak paling menarik biasanya dijadikan rebutan pengunjung yang ingin mendapatkan berkah dari aneka buah-buahan dan sayur-mayur itu. Para lelaki berdiri di sekeliling ancak yang diangkut dengan gerobak khusus atau mobil bak saking beratnya. Mereka mengamankan ancak dari jangkauan pengunjung yang tidak mau sabar menunggu hingga dimulainya acara ngalap berkah.
“Selalu saja muncul orang-orang serakah yang tidak sabaran,” pikirku sambil memandangi suami dan dua jagoanku yang berbaur dengan pengunjung lain, saling mendorong dan menyikut untuk sampai lebih dulu di ancak yang diincar. Jika tujuannya untuk mendapatkan berkah, tentu semua pengunjung tidak perlu berebut mengambil satu buah atau sayur dari puluhan ancak yang ikut kirab. Namun, tetap saja ada orang-orang tidak mau rugi karena telah mengeluarkan uang ratusan ribu untuk iuran dalam rangka memeriahkan acara tegal desa ini.
Berpikir tentang jumlah iuran membuatku ingin segera pergi dari acara kirab ini. Mungkin kalau aku pulang dan mengisi kembali termos es lilin yang kubawa, hasil yang kudapat masih cukup untuk membayar utang iuran itu. Matahari masih terik dan kurasa orang-orang bodoh ini tidak akan merasa palum hanya dengan memakan buah.
Aku melayangkan pandangan ke jalan utama. Karena anak serta suamiku masih berjuang mendapatkan buah dari ancak nomor lima, maka kuputuskan untuk berjalan pulang mengambil dagangan. Sepertinya aku bisa menambahkan botol-botol air mineral dingin juga. Tidak sedikit pengunjung yang lebih suka air putih dibanding es lilin.
Setelah tiga menit menyusuri gang-gang sempit, aku tiba di kontrakan dan mendapati Mak Surti, penghuni kontrakan sebelah, tertidur di lantai menghadap kipas angin yang berputar kencang. Sudah beberapa tahun ini Mak Surti enggan untuk melihat keramaian kirab. Tegal desa sudah tidak seperti dulu lagi, katanya. Memang nuansa sakral dan tradisional dari kirab
budaya sudah menipis sejak maraknya penggunaan musik modern. Namun, bagiku tak ada bedanya. Keramaian di luar ruangan dan matahari yang terik adalah pintu rezeki bagi pedagang asongan seperti kami.
Perlahan aku menutup pintu kontrakan Mak Surti dan membuka pintu kontrakanku. Kontrakan lima pintu yang kutempati benar-benar lengang, bahkan seluruh rumah-rumah di gang yang kulewati tadi pintunya tertutup rapat. Sebelum kembali ke jalan raya, aku mengecek tempat bumbu yang kupakai untuk menyembunyikan hasil jualan. Masih aman. Aku mengeluarkan lembaran-lembaran yang tertata rapi dari nominal terbesar hingga terkecil, dari yang paling bagus sampai yang paling kucel, lalu menyelipkan hasil penjualanku pagi tadi pada bagian-bagian yang sudah kutentukan. Kini, di dompetku hanya ada lembaran receh yang akan kugunakan sebagai uang kembalian. Semuanya juga tertata rapi agar aku dengan mudah mengambilnya ketika ada pembeli yang memerlukan kembalian.
Semua aman. Aku mengunci pintu lalu bergegas kembali ke jalan raya dengan sedikit beban di kedua tanganku. Kedua kakiku sudah hafal langkah mana yang harus kutuju, bahkan sampai ke posisi lubang di jalan sempit yang hanya bisa dilewati satu motor itu, sehingga otakku lebih sibuk menghitung berapa banyak uang yang dapat kuhasilkan seandainya semua es lilin dan air mineral yang kubawa laku terjual. Beras untuk besok beserta lauk-pauknya sudah pasti dapat terbeli. Selain membayar iuran kirab sebesar seratus lima puluh ribu, uang buku si bungsu sepertinya juga bisa terbayar. Semoga Tuhan bermurah hati kepada kami hari ini. Doa itu kurapal berulang-ulang sambil terus berjalan menuju lapangan kecamatan. Siapa tahu banyak orang yang lupa membawa botol minum sehingga mereka merelakan recehannya kutukar dengan daganganku.
Tiba-tiba perutku berbunyi. Aku baru sadar bahwa sudah hampir tengah hari dan perutku baru terisi sepotong arem-arem yang disodorkan bungsuku tadi pagi. Kupercepat langkah melewati kerumunan orang sambil terus menjajakan dagangan. Semoga keluargaku mendapatkan tempat duduk di dekat tumpeng yang besar dan enak, dan anak-anakku dapat menyiapkan satu tempat untukku. Mereka lebih perhatian dibanding suamiku yang tahunya hanya makan, rokok, hape, dan nongkrong. Sebuah keajaiban jika ia mau keluar rumah membawa peralatan nguli dan kembali membawa beberapa puluh ribu.
Sebenarnya aku sudah muak menerima bentakannya setiap meminta uang, tetapi aku selalu bertahan dengan mengatakan bahwa dua anak kami adalah darah daging yang perlu ia urus. Entah mengapa hanya alasan itu yang ia terima. Jika sudah menyangkut anak, lelaki kerempeng yang menikahiku lima belas tahun lalu itu akan bergerak meninggalkan kasur lipat tipis, kumal, dan bau apak yang merupakan singgasananya lalu kembali dengan uang yang jumlahnya sesuai dengan permintaanku. Itulah mengapa aku sering menyuruh anak-anak meminta sendiri keperluan mereka kepada bapaknya. Kadang mereka meminta lebih dan kelebihan yang mereka terima masuk ke dompetku.
“Besok masak soto ayam, ya, Mak,” pesan si bungsu sambil menyerahkan “todongan” ke bapaknya kemudian kami saling diam dengan penuh arti. Tetapi, jangan harap hal itu terjadi pada si sulung. Dia seakan tidak menyadari bagaimana kehidupan ekonomi kami.
Mengenai uang buku si bungsu kali ini, sebenarnya suamiku sudah memberikan uang itu, tetapi belum sempat dibayarkan, uang itu justru pindah ke tangan Dokter Bagus karena si sulung demam berhari-hari dan tidak kunjung sembuh setelah minum paracetamol. Kali ini suamiku tidak mau tahu dan terus-terusan sibuk dengan persiapan acara tegal desa. Terpaksa aku harus pontang-panting mencari uang tambahan.
Ketika aku sampai di lapangan, orang-orang sudah duduk rapi lesehan di atas terpal yang digelar di bawah tenda, berhadap-hadapan dengan tumpeng-tumpeng kecil di tengah-tengah mereka, siap menunggu dimulainya acara makan bersama. Ancak-ancak yang sudah gundul berjajar di belakang panggung. Sebuah nasi tumpeng raksasa berdiri megah di sisi kanan panggung.
Sound musik horeg mengguncang lapangan sehingga mustahil bagimu tuk mendengar suara orang yang berbisik di sebelahmu. Kamu harus berteriak. Maka aku mengunci telingaku, menyenggolkan termos-termosku ke sana dan ke mari agar orang-orang tau aku berjualan. Setengah daganganku sudah terjual di jalan menuju lapangan dan aku harus berjuang menghabiskan dagangan sebelum sampai di tenda sisi kiri panggung yang menjadi titik kumpul keluargaku. Bajuku sudah basah oleh keringat, tetapi aku masih harus berjalan sekitar sepuluh meter lagi.
Nasib baik berpihak padaku hari ini. Termos-termosku kosong ketika aku berkumpul dengan suami dan kedua anakku. Pemotongan tumpeng belum dimulai karena Pak Camat belum datang, kata si sulung sambil menyerahkan sebutir apel fuji kepadaku. Kugigiti apel itu dengan rakus untuk menghentikan kegaduhan di perutku. Ketika apel itu lenyap, dentuman musik yang menghantam dada ini berhenti, lalu seorang bapak dengan baju adat Jawa Timur berdiri di tengah panggung mengumumkan bahwa acara puncak kirab budaya akan dimulai.
Semua orang tegang menunggu. Akhirnya camat yang sedang mengenakan baju batik berbicara sebentar, memimpin doa, lalu memotong ujung tumpeng raksasa dan semua orang mengikutinya membuka tumpeng di dekat mereka. Syukurlah pembagian tumpeng berjalan tertib tanpa ada acara berebut seperti saat mengambil buah dan sayur dari ancak di jalanan tadi. Mungkin karena sekarang semua orang duduk.
Aku dan keluargaku pun segera mendapat bagian. Makan bersama ratusan orang di tempat terbuka ditemani angin yang kadang berembus kecil, kadang cukup menerbangkan dedaunan pohon trembesi yang selalu meninggalkan rasa yang tenang. Untung saja panitia tidak menyalakan musik selama acara makan bersama. Mungkin karena memang mendekati waktu azan duhur, sehingga suasana akrab dan hangat itu dapat kami rasakan. Pantas saja tegal desa menjadi acara yang selalu ditunggu meskipun banyak yang mengeluhkan jumlah iuran yang tiap tahun makin meningkat. Aku dan keluargaku yang baru lima tahun di lingkungan Surabaya Barat juga sangat menikmati rangkaian acara ini tanpa tahu perbedaan tegal desa dulu dan sekarang seperti yang dimaksud Mak Surti.
Suamiku lekas menghilang setelah makan dengan cepat. Kedua anakku juga mengatakan bahwa mau cepat pulang karena akan mengikuti lomba gulat okol di kelurahan selepas duhur. Mereka memang menyukai pertandingan gulat yang menyerupai sumo Jepang. Sudah beberapa hari ini mereka berlatih menjatuhkan lawan tanpa menyentuh langsung bagian tubuh mereka melainkan menggunakan udeng/ikat kepala dan selendang. Kuperingatkan si sulung untuk mengingat kondisi tubuhnya dan berhenti ketika merasa lemah.
Tak lama setelah anak-anakku pulang membawa termos-termosku yang kutitipkan pada mereka, azan berkumandang dan aku jadi teringat Mak Surti. Dia pasti masih tertidur di kontrakan. Aku membungkus sisa-sisa nasi tumpeng yang belum terjamah untuk Mak Surti agar dia juga dapat menikmati hidangan layaknya hadir di lapangan bersama kami.
Aku tidak langsung pulang melainkan membantu membersihkan sampah sisa acara. Entah mengapa pengunjung enggan membuang sampah tempat-tempat yang telah disediakan pantitia. Sayang sekali acara rutin yang bertujuan mensyukuri nikmat Tuhan harus ditutup dengan sampah berserakan. Padahal, botol-botol bekas itu cukup bernilai untuk ditukarkan di bank sampah. Akhirnya aku beranjak pulang dengan satu kantong sampah besar penuh botol bekas saat iqomah terdengar.
Tangerang, 15 Januari 2026
Penulis: Em Indah
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
