Setelah tiga tahun sejak Motomami, Rosalia kembali dengan sebuah proyek ambisius yang nyaris ritualistik: Lux. Album keempatnya ini bukan sekadar kumpulan lagu pop—ia adalah upaya merombak bahasa pop melalui penulisan yang lintas-bahasa, aransemen orkestra skala besar, dan tema-tema religius serta mistik yang konsisten sepanjang rekaman. Pengumuman resmi menyebutkan bahwa Lux dirilis lewat Columbia Records pada 7 November 2025, sebuah era baru yang diposisikan sebagai ‘pencarian cahaya’ oleh sang artis. Jika Motomami menandai fase dekonstruksi identitas pop Rosalia, maka Lux adalah proses rekonstruksi: lebih lambat, lebih berat, dan jauh lebih spiritual.
Album ini sekaligus mempertegas posisi Rosalia sebagai salah satu musisi pop kontemporer paling berani dalam mengambil resiko artistik. Lux tidak berusaha menyenangkan semua orang; ia justru mengundang pendengar masuk ke ruang kontemplatif yang sunyi, megah, dan terkadang tidak nyaman.
Makna Lux: Cahaya sebagai Metafora Artistik

Foto: Sony Music

Foto: Sony Music
Judul album, Lux (Latin untuk “cahaya”), menjadi bingkai konseptual: menyelidiki gagasan cahaya yang muncul dari retakan, pengorbanan, dan figur-figur suci perempuan. Ide ini berulang kali muncul baik dalam lirik maupun pendekatan musikal: dari komposisi yang perlahan berkembang hingga aransemen yang seolah membuka ruang demi ruang emosional. Rosalia menempatkan album ini sebagai karya yang menuntut perhatian penuh pendengar—bukan scroll cepat di timeline, melainkan mendengarkan dari awal sampai akhir.
Tema spiritualitas dalam Lux tidak hadir sebagai dogma, melainkan sebagai pencarian personal. Referensi terhadap santo dan santa perempuan, ritual, doa, serta bahasa liturgis berfungsi sebagai simbol ketahanan dan devosi—terutama dari perspektif feminin. Dalam konteks ini, Rosalia memposisikan dirinya bukan sebagai ‘pengkhotbah’, tetapi sebagai ‘peziarah’. Kritikus mencatat bagaimana pilihan itu menggeser persona publiknya dari pop kontemporer ke sesuatu yang mendekati pengalaman musikal ‘sakral’.
Berbeda dari album pop konvensional, Lux dirancang sebagai sebuah siklus musikal. Lagu-lagunya tersusun seperti gerakan dalam komposisi klasik, dengan dinamika naik-turun yang terukur. Beberapa bagian terasa hampir seperti interlude sakral, sementara bagian lain meledak dalam bentuk arioso atau komposisi vokal berlapis.
Pendekatan ini membuat Lux terasa lebih dekat dengan karya musik klasik kontemporer ketimbang album pop arus utama. Rosalia secara sadar mengaburkan batas antara lagu, doa, dan komposisi orkestra—sebuah keputusan yang menantang ekspektasi pendengar modern.
Salah satu aspek paling mencolok dari Lux adalah penggunaan banyak bahasa. Rosalia bernyanyi dalam bahasa Spanyol, Catalan, Italia, Jepang, dan beberapa bahasa lain. Alih-alih menjadi gimmick, pendekatan multibahasa ini memperkuat tema universal album: spiritualitas dan emosi sebagai pengalaman lintas budaya. Selain itu, daftar kolaborator (antara lain Björk dan Yves Tumor di single lagu “Berghain”) menunjukkan kemauan Rosalia untuk memadukan suara eksperimental dan tradisional.
Dalam proses riset, Rosalia menemukan banyak kebetulan yang ia anggap signifikan. Ia menyebut nama-nama seperti Santa Rosalia dari Palermo, Hildegard von Bingen, Vimala, hingga Santa Olga dari Kyiv. “I ‘met’ many amazing women. And I wanted, in some way, to channel their stories,” tuturnya dalam wawancara bersama Zane Lowe. Kisah-kisah tersebut tidak dihadirkan sebagai narasi literal, melainkan sebagai lapisan emosional yang saling bertumpuk.
Vokal Rosalia dalam Lux juga mengalami transformasi signifikan. Ia lebih sering menggunakan teknik vokal mendekati nyanyian klasik—panjang, terbuka, dan emosional—dibandingkan gaya ritmis dan terpotong yang mendominasi Motomami. Suaranya menjadi instrumen utama, memimpin orkestra sekaligus larut di dalamnya.
Orkestra sebagai Tubuh Album Lux
Salah satu perbedaan terbesar dibandingkan era sebelumnya adalah keterlibatan orkestra besar; album direkam dan diaransemen dengan London Symphony Orchestra di bawah konduktor Daniel Bjarnason—upaya yang menghadirkan skala sinematik dan tekstur orkestra yang jarang ditemui dalam produksi pop modern.
Pilihan ini menandai pergeseran besar dalam pendekatan produksi Rosalia. Jika sebelumnya ia mengeksplorasi tekstur digital dan minimalisme, kini ia merangkul maksimalisme—namun dengan kontrol ketat. Setiap lapisan suara terasa memiliki fungsi emosional yang jelas, bukan sekadar ornamen.
Rosalia, Lux, dan Arsitektur Spiritual di Balik Lagu-Lagunya
Dalam perbincangannya bersama Zane Lowe untuk Apple Music, Rosalia tidak membicarakan Lux sebagai album yang digerakkan oleh logika single atau performa tangga lagu. Ia justru memposisikannya sebagai sebuah proses kesabaran, komitmen untuk menyelesaikan ide hingga tuntas, dan keberanian membiarkan ketidaksempurnaan menjadi jalan masuk cahaya. “Each project teaches me to be more patient… I wanted to let the light in,” ujar Rosalia—sebuah kalimat yang merangkum filosofi dan inti emosional Lux.
Alih-alih menjelaskan album ini secara kronologis atau teknis, Rosalia memilih berhenti pada lagu-lagu tertentu yang baginya menjadi pilar emosional dan spiritual. Lagu-lagu ini lahir dari perjumpaannya dengan kisah para mistikus, santa, dan tokoh spiritual perempuan—figur-figur yang hidupnya ditandai oleh pengabdian, intensitas, dan keberanian menempuh jalan yang tidak umum. Melalui lagu-lagu itulah, Lux memperlihatkan dirinya sebagai album yang tidak mengejar kecepatan, melainkan ketahanan.
Reliquia: Perjalanan, Relik, dan Jejak Perempuan dalam Waktu
“Reliquia” jelas Rosalia, adalah lagu tentang perjalanan—tentang pernah berada di sini dan di sana. Lagu ini terinspirasi oleh Santa Rosa dari Lima, khususnya oleh kenyataan bahwa relik-reliknya tersebar di berbagai belahan dunia. Penyebaran ini menjadi metafora tentang perpindahan, ketercerabutan, sekaligus kesinambungan spiritual.
Melalui Reliquia, Rosalia berbicara tentang mengubah hatinya menjadi relik, sehingga kekasihnya dapat membawanya ke mana pun dia pergi.
Magnolias: Kematian Tanpa Ratapan
Inspirasi di balik “Magnolias” datang dari Anandamayi Ma, seorang pemimpin spiritual Hindu yang pemakamannya dipenuhi bunga dan ketenangan. Rosalia menceritakan bagaimana orang-orang yang hadir merasakan kedamaian dan kegembiraan, bukan kesedihan. Pengalaman membaca kisah ini membuatnya merenung: bagaimana jika kematian tidak selalu harus diratapi?
Dalam lagu ini, Rosalia membayangkan kematian sebagai perayaan. “Tolong jangan sedih ketika aku meninggal,” seolah ia berkata, “tolong rayakan.” Gagasan ini diperkuat oleh kutipan dari penyair Spanyol Manuel Molina, yang ia jadikan tato di punggungnya:
“Semoga tak seorang pun menangis di hari aku mati; lebih indah bernyanyi, meski bernyanyi dalam duka.”
Bagi Lux, kematian bukan akhir, melainkan transformasi—sebuah perpindahan menuju bentuk lain dari cahaya.
Mio Cristo Piange Diamanti: Persahabatan sebagai Pengabdian
Salah satu lagu yang paling lama dikerjakan Rosalia adalah “Mio Cristo Piange Diamanti” Ia mengungkapkan bahwa lagu ini memakan waktu sekitar satu tahun untuk diselesaikan. Inspirasi utamanya datang dari hubungan mendalam antara Santa Clara dari Assisi dan Santo Fransiskus dari Assisi—sebuah persahabatan spiritual yang berakar pada kepercayaan, kesetiaan, dan kebersamaan.
Rosalia mendekati lagu ini seperti menulis sebuah aria, membiarkan vokalnya bergerak panjang dan terbuka. Dengan begitu, lagu ini menjadi salah satu momen paling rapuh dalam Lux, di mana kesabaran tidak hanya menjadi metode, tetapi juga makna itu sendiri.
Porcelana: Ekstremitas, Pengorbanan, dan Devosi
Untuk “Porcelana” Rosalia terinspirasi oleh Ryōnen Gensō, seorang biksu Zen Jepang. Kisah hidupnya mencakup tindakan ekstrem: merusak wajahnya sendiri demi diterima di sebuah biara. Rosalia menyebut cerita ini sebagai sesuatu yang “gila”—bukan dalam arti merendahkan, melainkan sebagai pengakuan akan besarnya pengorbanan yang dilakukan.
Melalui Porcelana, Rosalia merefleksikan bagaimana tindakan ekstrem sering kali dicap sebagai kegilaan, padahal bisa jadi merupakan bentuk devosi paling radikal. Lagu ini tidak menawarkan pembenaran, melainkan mengajak pendengar untuk duduk bersama ketidaknyamanan.
Berghain: Labirin Pikiran
Meski berjudul “Berghain”, diambil dari sebuah klub malam yang terkenal sulit untuk mendapatkan akses masuk, Rosalia mengaku belum pernah mengunjungi ke klub legendaris Berlin tersebut. Baginya, Berghain bukan sekadar tempat fisik, melainkan metafora. Ia menggambarkannya sebagai labirin dalam kepala, hutan pikiran tempat seseorang bisa tersesat.
“So it’s like Berghain can be that head, can be your mind. It’s your mind,” katanya. “It’s everybody’s mind.” Sebagai lagu ‘pembuka’, Berghain menetapkan nada Lux: menelusuri kegelapan batin sebagai jalan menuju pencerahan.
Berbicara tentang tokoh-tokoh santa perempuan, Berghain terinspirasi dari kisah hidup Hildegard von Bingen. Ia bukan hanya seorang wanita yang serba bisa, tetapi juga seorang polimat, yang berarti ahli dalam berbagai bidang pengetahuan. Ia adalah seorang penulis, komposer, filsuf, mistikus, visioner, penulis medis, dan praktisi. Ini sangat tidak biasa bagi seorang wanita di Abad Pertengahan, tetapi ia mampu melakukannya karena ia mengklaim pengetahuan itu datang kepadanya sebagai penglihatan ilahi. Terutama di bidang musik, Hildegard mendobrak batasan dengan menulis melodi yang megah dibandingkan dengan jangkauan terbatas dalam nyanyian Gregorian tradisional.
Bagi Hildegard, itu adalah berbagai bentuk pengetahuan, sedangkan bagi Rosalia itu bisa berupa keilahian atau cinta yang tak berbalas.
Selain itu, Berghain juga mengambil kisah dari biarawati Buddha, Vimala. Legenda mengatakan bahwa Vimala adalah seorang wanita penghibur yang jatuh cinta pada Maudgalyayana, salah satu dari dua murid utama Buddha. Suatu hari ia melihat Maudgalyayana sedang mengemis dan mengikutinya sampai ke rumahnya dengan maksud merayunya. Maudgalyayana menegurnya dan malah memberinya ajaran tentang Dharma, aliran pemikiran utama Buddhisme. Ia menjadi pengikut Buddha dan kemudian dengan bantuan Maudgalyayana memasuki ordo monastik dan mencapai pencerahan penuh.
Pada bagian outro Berghain, terdapat sebaris lirik yang dinyanyikan oleh Yves Tumor berbunyi, “I’ll f*ck you ’til you love me” yang mencerminkan transisi Vimala dari prostitusi ke spiritualitas.
La Yugular: Mencintai Tanpa Takut dan Tanpa Imbalan
Dalam “La Yugular” Rosalia terinspirasi oleh Rabi‘ah al-‘Adawiyya, seorang mistikus Sufi yang dihormati dalam tradisi Islam. Rabi‘ah mengajarkan cinta kepada Tuhan tanpa pamrih—bukan karena takut hukuman, bukan demi ganjaran.
Rosalia menyebut bahwa lagu ini mengandung bahasa Arab dan lahir dari keputusan sadar untuk mengeksekusi ide secara utuh. Ketertarikannya pada Islam membuatnya merenungkan konsep keterhubungan—bahwa segala sesuatu saling terikat. Gagasan ini ia tuangkan dalam bagian penutup lagu, menjadikan La Yugular sebagai salah satu pernyataan spiritual paling jelas dalam Lux.
Memoria: Melupakan Diri Sendiri
Lagu “Memoria” menghadirkan lirik karya Carminho, penulis dan penyanyi fado asal Portugal. Rosalia mengungkapkan kekagumannya pada tulisan Carminho, yang baginya menangkap esensi album ini: betapa mudahnya seseorang melupakan siapa dirinya—dulu maupun sekarang.
Dalam Lux, ingatan bersifat rapuh. Identitas tidak pernah benar-benar tetap. Memoria tidak memberikan jawaban, melainkan pengakuan.
Lux sebagai Keseluruhan: Menyelesaikan Ide dan Keberanian pada Maksimalisme
Sepanjang wawancara, Rosalia berulang kali menekankan satu komitmen utama dalam proses Lux: menyelesaikan ide secara utuh. “I promised myself to make an album where I would complete the idea, not break the song just for the sake of it,” ujarnya kepada Zane Lowe. Pernyataan ini terdengar seperti manifesto sunyi—sebuah keputusan untuk tidak memotong emosi, struktur, atau narasi hanya demi efisiensi.
Dalam konteks ini, Rosalia secara eksplisit membedakan Lux dari album sebelumnya. “Motomami was minimalist. This is maximalism,” katanya. Jika Motomami bergerak dengan reduksi—potongan pendek, struktur rapuh, dan energi instan—Lux justru membangun dirinya lewat lapisan: orkestra, narasi panjang, dan kesabaran dalam membiarkan lagu bernapas.
Maksimalisme dalam Lux bukan sekadar soal jumlah instrumen atau kepadatan suara, melainkan tentang keberanian untuk tinggal lebih lama di dalam sebuah gagasan. Lagu-lagu tidak dipaksa menuju klimaks cepat; sebaliknya, mereka berkembang seperti tubuh—perlahan, penuh detail, dan terkadang tidak nyaman. Dalam percakapannya dengan Zane Lowe, Rosalia memperlihatkan bahwa cahaya yang ia maksud dalam Lux tidak datang dari kejelasan instan, melainkan dari kesediaan untuk bertahan cukup lama dalam keraguan.
Baca Juga: Catatan Kecil dari Focus on Hong Kong Short Films di JAFF 2025
Referensi
https://www.sonymusic.ca/press_release/Rosalia-announces-new-album-lux-out-november-7
https://www.theguardian.com/music/2025/nov/03/Rosalia-lux-review-bjork-london-symphony-orchestra
https://www.Rosalia.com/credits
https://pitchfork.com/reviews/albums/Rosalia-lux
https://instagram.com/alexis_sakellaris
