Review Buku Menjadi Pribadi yang Memikat Karya Marc Reklau: Menjadi Disukai Bisa Dipelajari
Buku Menjadi Pribadi yang Memikat Karya Marc Reklau

Saya bukan tipe orang yang mudah berbicara di depan umum. Sejak kecil, saya sering gugup saat harus tampil di kelas atau menyapa orang yang baru saya kenal. Rasanya seperti ada dinding yang memisahkan saya dari dunia luar. Saya tahu saya ingin berubah—tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Sejak membaca buku Menjadi Pribadi yang Memikat karya Marc Reklau, pandangan saya mulai berubah. Saya sadar bahwa menjadi pribadi yang disukai itu bukan soal berbicara paling banyak atau jadi pusat perhatian. Justru yang lebih penting adalah bagaimana kita hadir secara tulus dan memberi makna dalam hidup orang lain.

Buku ini membuat saya melihat bahwa menjadi pribadi yang memikat bukanlah soal bakat sejak lahir, tapi soal sikap dan kebiasaan yang bisa dibentuk. Lewat strategi-strategi sederhana, buku ini membimbing saya untuk mulai membuka diri, membangun rasa percaya diri, dan menjalin hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.

Buku ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari buku aslinya yang berjudul How to Become a People Magnet karya Marc Reklau, seorang pelatih, pembicara, dan penulis asal Jerman yang terkenal dengan karya-karya pengembangan diri yang praktis.

Versi terjemahan ini diterbitkan oleh Penerbit Gemilang dan menyajikan 62 strategi sederhana untuk membangun hubungan yang akrab dan memberi dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang membuat buku ini menarik adalah pendekatan Marc Reklau yang langsung, to the point, dan bisa langsung dipraktikkan. Tidak ada teori yang berbelit, melainkan panduan yang terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, terutama mereka yang ingin membangun hubungan sosial yang lebih sehat dan bermakna.

Baca juga: Review Buku Is it Bad or Good Habits Karya Sabrina Ara

Sinopsis dan Ulasan Buku Menjadi Pribadi yang Memikat karya Marc Reklau

Buku ini berisi 62 strategi yang berguna agar pembaca bisa membangun hubungan dan memberikan dampak positif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di awal buku, terdapat penafian (disclaimer) dari penerbit yang menyatakan bahwa buku ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti konseling, karena isi dalam setiap bab hanyalah pendapat penulis.

Salah satu strategi yang paling saya sukai adalah strategi “Tepat Waktu” yang terdapat di halaman 130. Penulis menjelaskan bahwa datang lebih awal tidak hanya menunjukkan profesionalisme, tetapi juga membuat kita merasa lebih tenang dan menghargai waktu orang lain.

Sumber: Canva

Saya mencoba menerapkannya saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Biasanya saya datang mepet waktu, tapi kali ini saya datang 10 menit lebih awal. Hasilnya, saya bisa mempersiapkan diri lebih baik, terlihat lebih disiplin, dan pelatih pun mulai mempercayai saya sebagai anggota yang bisa diandalkan.

Strategi favorit lain adalah “Ucapkan Terima Kasih.” (Halaman 70). Terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya sering terlupakan. Penulis menekankan bahwa ucapan terima kasih bukan hanya bentuk sopan santun, melainkan pengakuan atas kehadiran dan kontribusi orang lain.

Sejak membaca bagian ini, saya mulai membiasakan diri mengucapkan “terima kasih” kepada guru setelah pelajaran selesai, atau kepada teman yang membantu hal kecil sekalipun. Saya perhatikan, hubungan saya jadi lebih hangat. Bahkan ada teman yang bilang, “Kamu sekarang beda, ya, lebih perhatian.” Itu membuat saya sadar bahwa kebiasaan kecil bisa membawa perubahan besar.

Bukan hanya strategi besar yang ia berikan, tetapi juga hal-hal kecil yang sangat berdampak, seperti menghargai orang lain, bersikap ramah, dan rendah hati. Dalam bukunya, penulis juga menyisipkan contoh kalimat dan sikap yang bisa diterapkan sehari-hari agar pembaca benar-benar memahami dan mempraktikkannya. Meskipun strategi yang ditawarkan terkesan sederhana, jika kita melihat lingkungan sekitar, banyak di antaranya yang sering diabaikan.

Buku ini mendorong pembaca untuk memulai dari hal kecil namun konsisten, agar bisa membangun hubungan sosial yang sehat, mempermudah jalan menuju keberhasilan, dan menemukan kebahagiaan dalam interaksi sehari-hari.

Manfaat Buku yang Saya Rasakan

1. Lebih Tenang Saat Menghadapi Tekanan

Dulu, ketika saya menghadapi tekanan besar—baik dari orang tua, guru, maupun orang lain—mental saya langsung down. Namun buku ini mengajarkan bahwa manusia tidak bisa mengontrol hasil akhir. Yang bisa dikendalikan hanyalah usaha dan sikap kita terhadap tekanan yang datang.

Buku ini juga memberi motivasi agar tidak mudah menyerah dan berusaha semaksimal mungkin. Hasilnya, saya menjadi lebih disenangi oleh guru, teman, orang tua, dan orang-orang di sekitar saya karena sikap saya dalam menghadapi tekanan.

2. Tidak Lagi Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Saya menyadari bahwa membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang waktu. Setiap orang ingin dikenal dengan caranya sendiri. Dari situ, saya mulai fokus pada pengembangan diri. Tanpa disadari, saya mulai dikenal banyak orang bukan karena membicarakan orang lain, tetapi karena pertumbuhan diri saya sendiri.

3. Terhindar dari Orang-Orang yang Tidak Menyukai Saya

Buku ini juga memberikan cara-cara untuk meminimalkan konflik dengan orang lain, terutama orang-orang di sekitar. Jika ada satu orang yang tidak menyukai saya, tetapi banyak orang lain yang menyukai saya, itu seperti memiliki benteng perlindungan dari energi negatif.

4. Dikenal oleh Orang-Orang Baru

Ini sangat penting, terutama dalam dunia luar di mana kita akan bertemu banyak orang yang belum tentu mengenal kita. Buku ini membantu saya memilih orang yang tepat untuk dijadikan teman dan membangun relasi, serta memberi batasan yang jelas agar terhindar dari risiko yang tidak diinginkan.

5. Lebih Mudah Memulai Percakapan dengan Orang Baru

Sebelumnya saya sering merasa canggung ketika harus memulai percakapan dengan orang yang belum saya kenal. Namun setelah membaca buku ini, saya mulai belajar bagaimana membangun koneksi dengan orang lain melalui sikap terbuka dan bahasa tubuh yang ramah.

Sumber: Canva

Buku ini mengajarkan bahwa sapaan sederhana atau senyuman bisa membuka pintu untuk sebuah percakapan yang berarti. Sekarang saya merasa lebih percaya diri saat berinteraksi di lingkungan
baru, seperti saat mengikuti kegiatan sekolah atau organisasi.

    Meskipun saya menyukai buku ini, ada beberapa kekurangan yang saya temukan. Misalnya, pada poin 4, buku ini menyarankan agar kita sebisa mungkin menyetujui pendapat orang lain dan hanya tidak setuju jika benar-benar tidak punya pilihan.

    Namun, di poin 16, penulis mengatakan, “Hal terburuk yang dapat Anda lakukan adalah mengatakan sesuatu atau setuju dengan orang lain hanya untuk menyenangkan mereka.” Ini membuat saya bingung karena terasa bertentangan, seolah penulis belum konsisten dalam menyampaikan pesan.

    Kontradiksi ini cukup membingungkan bagi pembaca, terutama bagi orang yang sedang mencoba membentuk kepribadian sosial yang sehat. Di satu sisi ingin menyenangkan orang lain agar diterima, tetapi di sisi lain dilarang melakukan itu demi kepalsuan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi membangun hubungan sosial memang tidak selalu hitam putih, dan kadang perlu konteks serta penilaian pribadi.

    Selain itu, beberapa strategi juga terasa diulang-ulang dengan pembahasan yang mirip. Meskipun mungkin dimaksudkan untuk memperkuat pesan, bagi saya hal ini sedikit mengurangi semangat membaca secara terus-menerus. Namun, saya tetap mengapresiasi gaya penulis yang ringan dan tetap relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Baca juga: Upaya Membangun Habit sebagai Sebuah Eksperimen

    Simpulan

    Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya memberikan teori atau pendapat penulis, tetapi juga panduan praktis yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Meski tidak lepas dari kekurangan seperti beberapa strategi yang terkesan berulang dan bertentangan, nilai yang ditawarkan tetap sangat bermanfaat.

    Buku ini mengingatkan kita bahwa menjadi pribadi yang tangguh secara emosional bukan berarti harus sempurna, melainkan mampu mengendalikan diri sendiri dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Bagi siapa pun yang sedang mengalami kesulitan dalam hubungan sosial, buku ini bisa menjadi panduan yang membantu—termasuk bagi saya sendiri.

    Membaca buku ini seperti bercermin, ada bagian yang membuat kita merasa relate, dan ada juga bagian yang membuat kita merenung karena menyadari bahwa ada hal-hal penting yang belum kita miliki dalam diri.

    Share Artikel Ini

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Lainnya