Review Buku Kimchi Confessions Karya Xaviera Putri
Cover Buku Kimchi Confessions Karya Xaviera Putri

‘’Just do your best in everything you do, leave no regrets, accept and learn, then trust it to
God, cause everything will go well.’’
Xaviera Putri.

Apakah kalian membayangkan rasanya jika mendapat kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan SMA di luar negeri? Yap! Bukan jalan-jalan, kerja, atau kuliah, melainkan SMA! Dan pengalaman tersebut telah dirasakan oleh seorang Xaviera Putri.

Anak bungsu dari 3 bersaudara ini menjalani pendidikan SMA di Korea Selatan pada saat ia menginjak usia 15 tahun. Terlahir dalam keluarga yang sederhana dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, membuat Kak Viera kecil selalu ingin mencoba hal baru dan penuh tantangan.

Sampai suatu ketika, Kak Viera berkeinginan untuk pergi sekolah di luar negeri. Kak Viera sendiri memiliki mindset yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil, ‘’If you want something, work for it.’’ Mulai dari situ Kak Viera selalu berpikir untuk mencari cara agar keinginan Kak Viera untuk sekolah di luar negeri terwujud.

Maka, dibantu oleh sang kakak, Kak Viera pun mulai mencari beasiswa di luar negeri. Perjalanan Kak Viera mencari beasiswa pun bisa dibilang amat plot twist ,ya, Teman-teman! Kalian akan menemukan cerita perjalanan Kak Viera mencari beasiswa sekolah di luar negeri hingga akhirnya menemukan beasiswa SMA
Korea, pada halaman 9, bab 1 pada buku ini. Tidak saya ceritakan di sini, karena itu akan jadi surprise untuk kalian ketika membaca buku ini.

Baca juga: Review Buku Kimchi Confessions: Bukan K-Drama, Realitas Sekolah di Korea

Juga, mengenai lika-liku Kak Viera daftar beasiswa hingga ia diterima beasiswa di SMA Korea. Tak lolos di tahun pertama dan tetap optimis untuk mencoba di tahun kedua pada 2016 yang di mana saat itu bertepatan dengan sibuknya persiapan Ujian Nasional, karena Kak Viera sudah kelas 3 SMP pada saat itu.

Tak terbayang oleh saya betapa repotnya Kak Viera membagi waktu untuk belajar persiapan Ujian Nasional serta belajar untuk persiapan beasiswa. Dan dalam setiap pengorbanan pasti memiliki hasil. Kak Viera sudah membuktikannya saat itu.

Kak Viera diterima beasiswa full di SMA Korea. Saya bahkan dapat ikut merasakan betapa bahagianya Kak Viera ketika mendapat kabar bahwa Kak Viera diterima beasiswa full di SMA Korea.

Tentu sudah tidak asing lagi Negeri Gingseng ini di telinga kalian bukan? Tempat di mana lahirnya para oppa-oppa tampan yang berbakat. Jangan lupakan makanan andalan Negeri Gingseng ini! Semangkuk samyang hangat yang disajikan bersama kimchi serta kimbab segitiga, lalu ditutup dengan sebotol banana uyu. Ah, sangat menggiurkan!

Baca juga: 5 Cafe Must-Visit di Korea Selatan, Terbaik di Naver!

Nah, lewat buku berjudul Kimchi Confessions inilah Kak Viera menyalurkan pengalaman suka maupun duka selama menempuh pendidikan di Negeri Gingseng. Meskipun terdengar keren dan menyenangkan memiliki pengalaman SMA di luar negeri, ternyata dibalik semua itu banyak pengorbanan serta kerja keras yang harus dilalui oleh Kak Viera selama menempuh pendidikan di luar negeri.

Mulai dari berlatih bahasa negara tersebut, maupun berlatih pelajaran akademik yang tingkatannya setara dengan pelajaran akademik di SMA luar negeri.

Di dalam bukunya, Kak Viera menyebutkan bahwa SMA yang akan Kak Viera tuju di Negeri Gingseng termasuk SMA bergengsi. Dan memiliki kriteria masuk yang super amat ketat, lho! Karena SMA yang dituju Kak Viera ini merupakan SMA ‘khusus’ Sains dan menjadi satu-satunya SMA di Korea yang diawasi oleh Kementrian Pendidikan dan Kementrian Sains dan Teknologi.

Uniknya, Science-gifted High School atau SMA ‘khusus’ Sains yang dimasuki Kak Viera ini bukan sekolah internasional, lho! Kalian pasti bertanya-tanya, kok bisa menerima siswa internasional, ya? Padahal bukan sekolah internasional?

Tuntaskan rasa penasaranmu ketika membaca buku Kimchi Confessions ini, ya! Tipe SMA Kak Viera ini termasuk tipe boarding school, jadi murid wajib tinggal di asrama. Peraturan asrama di sekolah luar negeri ini tak jauh berbeda dengan asrama di Indonesia, yakni memiliki waktu-waktu tertentu untuk siswa diperbolehkan untuk berada di asrama.

Seperti saat jam makan siang, jam makan malam, dan setelah sesi belajar malam, atau self-study session berakhir. Di SMA Kak Viera, self-study session itu baru berakhir saat jam 10 malam. Wow! Lama banget ‘kan teman-teman!

Peraturan selanjutnya di asrama Kak Viera adalah setiap pukul 12 malam, laptop akan dikumpulkan di kabinet masing-masing yang akan dikunci guru asrama dan hanya bisa diambil saat sekolah akan dimulai, yakni jam 9 pagi!

Lalu setelah pukul 12 malam lampu di setiap kamar akan dimatikan, hanya study lounge khusus yang ada di setiap lantai yang dinyalakan. Belum lagi, selama Kak Viera SMA di Korea, walaupun sudah dituntut wajib belajar sampai jam 10 malam, masih banyak yang belajar lagi hingga pukul 3 pagi, termasuk Kak Viera sendiri. Jika melanggar peraturan asrama, murid akan dikenakan penalty point. Saat penalty point menumpuk, harus dibayar dengan sanksi.

Namun dalam bukunya, Kak Viera menuliskan bahwa “Euphoria yang aku rasakan saat tiba di Korea berakhir setelah masa orientasi selesai dan orang tuaku pulang ke Indonesia.” Kenapa, ya, kira-kira? Ternyata tahun pertama menjadi tahun tersulit Kak Viera di Korea. Salah satu rintangan terbesar yang membuat tahun pertamanya di Korea terasa sulit seperti sembelit yang melilit adalah ‘mengenal bahasa Korea’.

Meskipun diadakan pre-education bahasa Korea dari SMA sebelum berangkat, ternyata itu tidak cukup. Seiring berjalannya waktu, Kak Viera sering dihadapkan dengan miss-communication terkait hal-hal yang berkaitan dengan pengumuman sekolah di portal SMA Kak Viera karena semua pengumuman menggunakan bahasa Korea dan tidak ada reminder sama sekali dalam bahasa Inggris.

Masih banyak tantangan yang Kak Viera hadapi selama menempuh 3 tahun SMA di Korea. Dalam buku ini Kak Viera juga berbagi tips tentang strategi belajar selama di Korea. Buku Kimchi Confessions milik Kak Viera ini ditutup dengan tips and trick yang berguna untuk anak rantau.

Ketika sampai di penghujung buku, campur aduk rasanya. Terharu, bahagia, dan tentunya termotivasi. Ada kalanya ketika membaca buku ini, saya tersentuh karena tekad kuat yang dimiliki Kak Viera serta pengorbanan besar yang dilalui oleh Kak Viera untuk mencapai mimpinya. Banyak pelajaran penting walau terlihat sepele dalam perjalanan merantau Kak Viera.

Saya belajar dari Kak Viera bahwa bukan finansial, kecerdasan, maupun ketenaran yang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, melainkan seberapa besar tekad dan kerja keras orang tersebut untuk menggapai kesuksesan itu sendiri.

Baca juga: Review Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya: Sebuah Refleksi Tentang Ketidaksempurnaan dan Harapan

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya