Di tahun 2025 ini, berbagai film blockbuster berlomba-lomba dalam perilisan di bioskop. Tak ketinggalan bagi DC Studios yang merupakan “rival” dari Marvel Studios, dikenal saling berkompetisi mengenai pahlawan super yang digemari oleh banyak kalangan termasuk anak-anak.
Setelah sukses dengan produksi ulang film Batman (2022), kini DC Studios resmi luncurkan film Superman (2025) yang menjanjikan. James Gunn, selaku sutradara Superman berusaha semaksimal mungkin supaya film Superman ini begitu comic accurate. Disamping itu, terdapat satu hal menarik yang cukup menghebohkan publik. Plot dibalik Superman ini menyuguhkan pertikaian politik antara negara Jarhanpur dengan Boravia. Hal ini begitu mencerminkan dengan konflik yang sedang terjadi antara Palestina dan Israel.
Sinopsis Superman (2025)
Superman versi James Gunn pada dasarnya menceritakan tentang Clark Kent, atau yang kita kenal sebagai Superman (David Corenswet), sosok pahlawan berkekuatan super yang datang dari Planet Krypton. Pahlawan super dengan kostum khas berwarna biru dan merah ini terlibat dalam perselisihan politik di dalam dan luar negeri, antara Boravia dan Jarhanpur.
Tindakan Superman ini dipertanyakan setelah potongan pesan terakhir dari kedua orang tua kandungnya bocor ke publik. Lex Luthor (Nicholas Hoult), seorang miliarder teknologi, menuduh Superman dikirim ke Bumi untuk menguasai seluruh alam semesta, bukan menjadi penolong ulung. Miliarder tersebut begitu terobsesi dalam menjatuhkan Superman.
Kent di lingkungan kerjanya sebagai jurnalis, memiliki kekasih bernama Lois Lane (Rachel Brosnahan) dengan berprofesi serupa. Lane dibantu oleh anggota Justice Gang, yang terdiri dari Mr. Terrific (Edi Gathegi), Guy Gardner (Nathan Fillion), dan Hawkgirl (Isabela Merced), berusaha membantu Kent untuk membuktikan bahwa Superman adalah seorang pahlawan, bukan penghancur. Superman harus mengatasi konfrontasi tersebut tanpa melibatkan pengorbanan manusia yang tak bersalah.
Ketika Superman Berpihak ke Jarhanpur (Palestina) [Spoiler Alert!]

Perselisihan politik antara Boravia dengan Jarhanpur begitu menghebohkan publik. Memang kedua negara tersebut hanyalah sekadar fiksi yang diciptakan oleh DC Comics, namun hal itu begitu mencerminkan dengan konflik panas yang terjadi di Gaza, Palestina yang hingga saat ini mengalami genosida oleh Israel.
Jarhanpur adalah sebuah negara yang terletak di Eropa Timur yang menghadapi invasi oleh Boravia. Negara ini digambarkan sebagai negara miskin, lemah, dan terpinggirkan. Apabila dianalisis secara teori, Jarhanpur begitu mencerminkan Gaza, Palestina. Tidak hanya dilihat dari kedudukannya tetapi juga ras penduduk yang mayoritas gelap dan menyerupai wilayah Timur Tengah atau Asia Selatan.
Di dalam adegan Superman, suasana Jarhanpur begitu terancam oleh para tentara Boravia yang siap menyerang penduduk Jarhanpur yang hanya dipasok senjata seadanya. Man of Steel harus membuat keputusan tepat untuk memilih apakah dia akan datang menyelamatkan Jarhanpur atau menghentikan serangan keretakan lintas dimensi oleh LuthorCorp di Metropolis. Akhirnya Superman membuat keputusan bahwa ia beserta anjing kesayangannya, Krypto, dibantu oleh Lois Lane untuk menjatuhkan LuthorCorp dan menyelamatkan penduduk Metropolis. Kemudian Justice Gang diberangkatkan ke Jarhanpur untuk melawan para tentara Boravia.
Adegan pertama yang menjadi pusat perhatian publik adalah ketika anak-anak Jarhanpur mengangkat bendera Superman yang terpasang dalam tongkat panjang lalu menancapkannya di tanah Jarhanpur. Salah satu anak itu berharap Superman akan datang menolongnya dikala dirinya terancam akan serangan tentara Boravia.
Berdasarkan data dari @so.informed (16/07), hingga kini jumlah korban genosida terhadap Palestina terhitung 58.386 jiwa, termasuk kurang lebih 17.500 anak-anak. Anak Jarhanpur pada adegan tersebut tergambar dengan gamblang bahwa anak-anak Palestina menjadi sasaran utama dalam serangan genosida.
Adegan kedua yaitu seorang warga Timur Tengah bernama Malik. Kedekatan Malik dengan Superman menyoroti sisi kemanusiaan Man of Steel. Ketika Luthor menculik Malik untuk memaksa Superman mengungkapkan identitas orang tuanya, ia menyuruh Superman untuk tetap diam dan membiarkan dirinya dikorbankan. Malik hanyalah seorang pedagang gerobak Falafel.
Dilansir Middle East Eye, di samping pesan yang dirasakan film tersebut tentang Gaza, banyak penonton mengatakan film tersebut mengambil sikap pro-imigrasi yang kuat – sikap yang muncul di saat kritis di Amerika Serikat di tengah penggerebekan deportasi ICE di seluruh negeri. Beberapa penggemar mengaitkan peristiwa dunia nyata ini dengan penggambaran Superman dalam film, yang secara historis digambarkan dalam komik dan film sebagai alien dari planet lain yang dibesarkan di Midwest, Amerika Serikat. Penonton daring menafsirkan pembingkaian ini sebagai penekanan yang disengaja pada identitas imigran.
Lex Luthor, Sang Pembenci Superman dan “ATM Berjalan” untuk Pemerintahan Boravia (Israel)
Lex Luthor dikenal sebagai musuh bebuyutan Superman. Sifatnya yang egomania, sosiopat, dan xenophobia membuat dirinya adalah sosok jenius dan brilian namun hanya untuk keuntungan pribadi serta melanjutkan dendam pahitnya terhadap orang-orang yang ia rasa telah berbuat salah padanya. Luthor mendirikan LuthorCorp di Metropolis dalam berinovasi menciptakan senjata serta perencanaan jahatnya untuk mengalahkan Man of Steel.
Berdasarkan Superman (2025), Luthor bekerjasama dengan Vasil Ghurkos (Zlatko Buric), Presiden Boravia, untuk menggagalkan aksi Superman dalam mempertahankan Jarhanpur. Ghurkos memimpin inisiasi pendudukan Jarhanpur dan menerima pasokan senjata dari Amerika Serikat. Ada banyak alasan di balik invasi Boravia terhadap Jarhanpur. Dalam upayanya untuk mengambil alih negara, Ghurkos telah mencapai kesepakatan dengan Luthor untuk membagi wilayah Jarhanpur menjadi dua. Separuh wilayah itu akan diubah menjadi Boravia, dan separuh lainnya akan dimiliki Luthor untuk membangun negara utopia baru bernama Luthoria.
Peristiwa ini dikaitkan dengan konflik Palestina – Israel sebagai contoh miliarder nyata (Jeff Bezos atau Elon Musk) bekerjasama dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai “ATM berjalan” bagi invasi Israel ke Palestina. Dilansir Al-Jazeera, terhitung pada 2024 saja, Amerika Serikat menghabiskan $17.9 miliar untuk bantuan militer bagi Israel.
Berkat unsur politik yang begitu kuat, Superman (2025) picu perdebatan publik. Sejumlah netizen Pro-Israel menyatakan kemarahannya melalui media sosial terutama X. Sebaliknya, pihak Pro-Palestina justru memuji dan berterima kasih kepada James Gunn, selaku sutradara film tersebut.
Walaupun James Gunn belum mengkonfirmasi secara publik mengenai referensi apapun, tetapi penonton daring menyebut film ini sebagai salah satu kisah superhero paling bermuatan politis dalam ingatan baru-baru ini, dengan perbandingan serangan Israel di Gaza dan penggerebekan imigrasi Amerika Serikat menjadi pusat perhatian dunia.
Terhitung Superman sudah diproduksi dalam berbagai versi sebanyak 21 film sejak 1978. Situs perfilman Rotten Tomatoes menunjukkan bahwa Superman (2025) berhasil menduduki posisi ke-3 terbaik setelah Superman The Movie (1978) dan Superman II (1980). Antusiasme publik memberikan Superman (2025) penilaian 7.6/10 (IMDb), 86% (Rotten Tomatoes), dan 4/5 (Letterboxd).
Baca Juga: Mengenal Teater Broadway John Proctor is the Villain: Adaptasi Kritis dari The Crucible
Referensi
https://www.middleeasteye.net/trending/did-superman-call-out-israel
https://editorial.rottentomatoes.com/guide/superman-movies-ranked/
