Pernah scroll TikTok dan nggak sengaja denger lagu nostalgia era 2000-an yang bikin nostalgia? Jadi langsung ingat masa-masa sekolah? Kamu gak sendirian!
Lagu-lagu era 2000-an memang selalu punya tempat dan memori indah. Meskipun sudah lawas, tapi vibes-nya masih terasa. Tren musik juga terkadang mengangkat lagu 2000-an. Media sosial seperti TikTok dan YouTube jadi tempat mengulang memori indah itu.
Mulai dari lagu dengan tema kisah asmara saat SMA sampai lagu-lagu galau yang suka berseliweran rasanya bikin kembali ke masa lalu. Mungkin kalau orang yang nggak familiar dengan lagu-lagu lawas mendengarnya seperti lagu biasa saja. Tapi bagi orang lain bisa jadi tempat nostalgia dan flashback ke masa silam.
Penasaran, apa sih yang bikin lagu era 2000-an ini selalu melekat ke hati?
Baca juga: Soundgarden di Pinkpop Festival 1992: Detik-detik Terakhir Hair Metal Selamanya Dibikin Ompong
Nostalgia dan Fase Dewasa Awal

Mengenang masa muda bukan cuma tentang seorang anak yang dilarang main oleh orang tuanya karena harus tidur siang. Lewat perantara bunyi, suara dan alunan melodi seseorang dapat kembali memutar rekaman saat-saat terdahulu. Hanya lewat kata-kata yang dibalut dengan nada dan alunan musik di belakang sudah cukup menciptakan suasana indah dan berkesan hanya dengan mendengar lagu nostalgia era 2000-an.
Fase-fase dewasa awal menjadi saksi bagaimana musik era 2000-an bukan hanya sebatas lirik dan gesekan gitar. Peristiwa-peristiwa hidup pada era itu dan percakapan dengan seseorang turut menjadi pemicu nostalgia.
Liriknya Sederhana, Tapi Ngena di Hati

Bicara sebuah lagu pastinya tidak lepas dari sebuah lirik. Lagu nostalgia era 2000-an selalu punya ciri khas tersendiri, mulai dari liriknya yang to the point, emosional yang pas dan pastinya lagu yang ngena di hati. Vokalis band papan atas sempat meramaikan kancah musik tanah air pada masanya. Mulai dari Sheila on 7 yang ikonik, Letto, sampai band Wali. Semua punya ciri khas masing-masing.
Jika dibandingkan dengan lirik lagu modern saat ini yang lebih ke eksperimental dan mengarah ke abstrak cukup terdengar perbedaannya. Tema lagu yang diangkat pun cukup ringan. Kehidupan sehari-hari seputar masalah cinta, kehilangan, harapan hingga kehidupan jadi relatable dan mudah untuk diingat. Bahkah setelah puluhan tahun terlewat, seolah-olah kita terwakilkan oleh lagu-lagu lawan itu.
Flashback Sedikit ke Belakang

Terkadang saat memutar kembali lagu lawas tidak hanya karena lagu yang enak di dengar. Tetapi untuk membangkitkan memori-memori indah terdahulu. Musik era 2000-an biasanya dinikmati oleh anak muda yang lahir pada tahun 90-an sampai tahun 2000 awal.
Mereka tumbuh menjadi anak muda pada era digital yang belum masif seperti saat ini. Di mana untuk mendengarkan lagu nostalgia tidak semudah dan sebebas sekarang. Internet dan digitalisasi yang baru saja tumbuh saat itu, membuat mereka mendengarkan lagu dengan cara-cara sederhana.
Misalnya melalui transfer konektivitas dengan teknologi bluetooth dengan teman atau orang lain yang memiliki file lagu tersebut. Waktu yang dibutuhkan cukup lama demi untuk sekadar mendengarkan satu lagu selesai terkirim. Ada juga cara lain seperti datang ke toko pulsa atau handphone untuk membeli file lagu-lagu hits.
Sangat berbanding terbalik dengan saat ini, di mana untuk mendengarkan satu lagu saja sudah sangat mudah. Hanya bermodalkan kuota internet dan device yang memadai berpuluh-puluh lagu dapat dengan mudahnya didengarkan. Tanpa harus menunggu lama hanya dengan hitungan detik, energi pun tidak habis hanya untuk keluar rumah mengunjungi toko pulsa atau kios handphone terdekat.
Baca juga: Nostalgia Serial Kartun Populer Pada Masanya, Mana Saja yang Pernah Kamu Tonton?
Peran Media Elektronik dan Tren Anak Muda

Jauh sebelum konser-konser Gen Z saat ini, acara-acara musik anak muda era 2000-an sudah cukup booming. Acara TV yang disiarkan secara langsung seperti Inbox dan Dahsyat lebih dahulu menjadi to-do list anak muda pada era itu setiap akhir pekan. Selain dapat dinikmati secara langsung di tempat acara, penonton juga dapat melihat melalui layar kaca.
Selain itu, maraknya alat pemutar lagu seperti CD dan kaset menjadi hobi populer. Setiap ada boyband yang meluncurkan sebuah lagu dalam sekejap dapat laris diburu masyarakat. Memutar kembali lagu-lagu era itu seakan-akan membangkitkan pengalaman unik yang tidak terlupakan.
Lagu nostalgia era 2000-an memang nggak pernah ada habisnya. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya rilis. Bait per bait masih tetap relevan hingga saat ini.
Momen-momen indah yang berdampingan atau lekat dengan lagu era 2000-an terkadang juga bikin flashback ke belakang. Cuma dari satu lagu saja, sudah bikin diri sendiri terbang ke masa lalu.
Yuk, putar lagi playlist lagu 2000-an kamu! Ditengah hiruk pikuk kehidupan saat ini, nggak ada salahnya putar lagi kenangan manis itu. Atau kamu punya rekomendasi lagu yang siap bikin nostalgia? coba share di kolom komentar, ya!
Referensi:
Jakubowski, K. (2023, Maret 10). Why does music bring back memories? What the science says. Durham University. Diakses dari https://www.durham.ac.uk/research/current/thought-leadership/2023/03/why-does-music-bring-back-memories-what-the-science-says/
