Ada satu foto lama yang selalu membuat saya berhenti lama setiap kali melihatnya. Foto itu menampilkan ibu saya sedang berdiri di depan sebuah warung kecil dengan celemek masih melingkar di pinggang, satu tangan memegang kunci motor, tangan lainnya menggandeng seorang anak kecil yang baru pulang sekolah. Di balik matanya yang lelah, ada sesuatu yang sulit saya namakan waktu kecil. Sekarang saya tahu itu adalah tatapan seseorang yang tidak pernah benar-benar bisa berhenti.
Tidak semua anak tumbuh dengan dua orang tua yang hadir secara penuh. Sebagian dari kita dibesarkan oleh ibu yang sendirian bukan karena pilihan, tapi karena keadaan yang memaksanya. Suami yang meninggal, suami yang pergi dan tak kembali, suami yang hadir secara fisik tapi absen dalam tanggung jawab. Dalam semua kondisi itu, ibu yang mengisi kekosongan. Ibu yang menjadi ibu sekaligus ayah dengan segala beban, keputusan, dan kelelahan yang menyertainya.
Esai ini adalah tentang mereka. Tentang perempuan-perempuan luar biasa yang terlalu sering disebut ‘kuat’ sebagai pengganti kata yang sebenarnya lebih jujur tidak punya pilihan lain selain kuat.
Dua Peran, Satu Tubuh
Ketika seorang ibu harus menjalankan peran ganda sebagai ibu dan sebagai ayah sekaligus yang ia tanggung bukan sekadar dua kali lipat pekerjaan. Ia menanggung dua sistem ekspektasi yang berbeda, dua set tanggung jawab yang selama ini dirancang untuk dijalankan oleh dua orang.
Pagi hari ia harus memastikan anak sarapan, berangkat ke sekolah, tidak ketinggalan buku pelajaran. Siang ia bekerja mencari nafkah karena tidak ada orang lain yang akan melakukannya. Sore ia kembali menjadi ibu: menemani belajar, mendengarkan cerita hari ini, mengobati lutut yang tergores. Malam ia menjadi kepala keluarga
memeriksa tagihan, memutuskan anggaran bulan depan, memikirkan biaya sekolah tahun depan. Dan di antara semua itu, ia juga harus menjadi figur ayah sosok yang kuat, yang tidak boleh terlihat takut, yang harus punya jawaban untuk setiap pertanyaan anak-anaknya.
Tidak ada shift yang berakhir. Tidak ada rekan yang bisa menggantikan. Tidak ada hari libur dari menjadi orang tua tunggal.
Stigma yang Menambah Beban
Yang membuat posisi ibu tunggal semakin berat bukan hanya beban kerjanya tapi juga cara masyarakat memandangnya. Di banyak lingkungan di Indonesia, perempuan yang menjalani hidup tanpa suami masih kerap dipandang dengan campuran rasa kasihan, kecurigaan, dan kadang penghakiman yang tidak perlu.
Ibu yang bercerai sering kali dianggap gagal mempertahankan rumah tangga seolah-olah keberhasilan pernikahan sepenuhnya ada di pundaknya. Ibu yang ditinggal suami tanpa kejelasan dianggap nasib, tapi jika ia kemudian bangkit dan mandiri, ada saja suara yang berkomentar “terlalu bebas”, “lupa kodrat”. Perempuan yang memilih menjadi orang tua tunggal karena melarikan diri dari kekerasan dalam rumah tangga bahkan sering kali masih disalahkan ‘kenapa tidak bersabar?’
Stigma ini bukan hanya menyakitkan ia juga menghabiskan energi. Energi yang seharusnya bisa dipakai untuk membesarkan anak, untuk bekerja, untuk sekadar memulihkan diri, justru terbuang untuk menghadapi penghakiman orang-orang di sekitar. Dan dalam kelelahan itu, ibu masih harus tampak baik-baik saja, masih harus senyum di depan anak-anaknya, masih harus berkata ‘semuanya akan baik-baik saja.’
Anak-Anak yang Menyaksikan
Saya ingin bicara sebentar tentang anak-anak yang dibesarkan oleh ibu seperti ini. Karena ada sesuatu yang mereka pelajari tanpa disadari sesuatu yang tidak tertulis di buku pelajaran mana pun.
Mereka belajar bahwa perempuan itu tangguh. Bahwa seorang ibu bisa bekerja keras, membuat keputusan besar, menyelesaikan masalah, dan tetap hadir untuk anak-anaknya semuanya dalam waktu bersamaan. Mereka tumbuh dengan teladan bahwa kekuatan tidak punya jenis kelamin.
Tapi mereka juga belajar sesuatu yang lebih menyedihkan: bahwa kelelahan itu diam-diam. Bahwa ada air mata yang ditahan sampai anak-anak tidur. Bahwa ‘kuat’ bukan selalu pilihan kadang ia adalah satu-satunya jalan yang tersedia. Dan tanpa disadari, anak perempuan yang tumbuh menyaksikan ini bisa membawa keyakinan keliru bahwa memang begitulah seharusnya perempuan: menanggung segalanya sendiri, tanpa mengeluh, tanpa meminta tolong.
Inilah mengapa penting bagi kita untuk tidak hanya mengagumi ketangguhan ibu-ibu ini, tapi juga mempertanyakan sistem yang memaksa mereka harus setangguh itu.
Bukan Soal Kuat atau Tidak Kuat
Kita sering merayakan ibu tunggal dengan kata-kata seperti “pahlawan, super mom, wanita baja”. Dan memang, mereka luar biasa. Tapi ada bahaya dalam narasi itu jika kita berhenti di sana jika kekaguman kita membuat kita lupa untuk bertanya, mengapa beban ini harus ditanggung sendiri?
Ketika seorang ibu harus bekerja dua peran karena ketiadaan atau ketida khadiran pasangan, itu bukan semata-mata kisah tentang kekuatan perempuan. Itu juga kisah tentang sistem yang gagal sistem keluarga yang tidak membagi tanggung jawab secara adil sejak awal, sistem sosial yang tidak menyediakan jaring pengaman yang cukup untuk orang tua tunggal, sistem negara yang belum serius melindungi hak-hak perempuan kepala keluarga.
Di Indonesia, data BPS menunjukkan bahwa jutaan rumah tangga dikepalai oleh perempuan dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan dengan pendapatan rendah yang tidak memiliki akses memadai terhadap layanan kesehatan, pendidikan anak, atau perlindungan sosial. Mereka kuat bukan karena sistem mendukung mereka tapi seringkali justru karena sistem tidak meninggalkan pilihan lain.
Apa yang Seharusnya Berubah
Pertama, kita perlu berhenti menjadikan ‘kemandirian perempuan’ sebagai solusi untuk ketidakadilan struktural. Perempuan tidak seharusnya harus mandiri sendirian dari ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem. Yang perlu berubah adalah sistemnya.
Negara perlu hadir lebih nyata: kebijakan perlindungan sosial yang berpihak pada perempuan kepala keluarga, akses kredit usaha yang tidak diskriminatif, fasilitas penitipan anak yang terjangkau, dan penegakan hukum yang tegas terhadap kewajiban nafkah dari mantan pasangan yang masih memiliki anak.
Masyarakat perlu mengubah cara pandangnya: berhenti menghakimi perempuan yang berpisah dari pasangan, berhenti menempatkan status pernikahan sebagai ukuran nilai seorang perempuan, dan mulai melihat ibu tunggal bukan sebagai objek belas kasihan tapi sebagai individu yang layak mendapatkan dukungan nyata.
Dan di dalam keluarga-keluarga yang masih utuh: mari kita belajar dari kenyataan bahwa satu orang tidak seharusnya menanggung semuanya. Sebelum keadaan memaksa ibu menjadi segalanya, ada baiknya kita memastikan bahwa beban itu sudah dibagi dengan adil sejak awal.
Penutup: Untuk Ibu yang Tidak Pernah Berhenti
Saya ingin mengakhiri tulisan ini bukan dengan kesimpulan akademis, tapi dengan satu kalimat sederhana untuk semua ibu yang juga harus menjadi ayah:
Kamu tidak seharusnya harus sekuat ini sendirian. Dan fakta bahwa kamu bisa itu bukan bukti bahwa sistemnya sudah benar. Itu bukti bahwa kamu luar biasa, dalam kondisi yang tidak luar biasa.
Sudah terlalu lama masyarakat mengagumi ketangguhan perempuan sambil diam-diam membiarkan sistem yang membuat ketangguhan itu menjadi keharusan. Saatnya kekaguman itu kita ubah menjadi sesuatu yang lebih berguna: keadilan.
Referensi
Badan Pusat Statistik Indonesia. (2023). Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia. BPS RI. Fakih, M. (2013). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar.
Hochschild, A. R. (1989). The Second Shift: Working Families and the Revolution at Home. Viking Penguin.
Komnas Perempuan. (2022). Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
UN Women. (2021). Women as Sole Breadwinners: Challenges and Policy Responses. UN Women.
Tentang Penulis
Alya Zaskiah adalah perempuan muda yang peduli pada isu kesetaraan gender, hak-hak perempuan, dan keadilan sosial. Tulisan ini lahir dari keinginannya untuk menyuarakan realitas yang selama ini hidup di sekitarnya termasuk kisah-kisah perempuan tangguh yang terlalu jarang mendapatkan ruang untuk bersuara.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
