Diam Bukan Berarti Setuju

Teman saya masih ingat dengan jelas malam itu ketika malam teman saya akhirnya berhenti diam. dan malam itu teman saya sedang duduk di meja makan bersama keluarga besarnya ,yang dimana pada malam itu ada acara syukuran ulang tahun neneknya .mungkin ada sekitar dua puluh orang yang ada di ruangan itu, seperti pamannya , bibi, sepupu, dan beberapa tetangga. dan baru saja dia diterima di program beasiswa ,kabar yang sudah dia nantikan selama berbulan-bulan, kabar yang membuat dia menangis sendirian di kamar saat membacanya di layar laptopnya. 

Dan di tengah obrolan meja makan, pamannya si rina kakak tertua ayah rina menyebut nama rina . rina pikir ia akan mengucapkan selamat. tapi justru yang keluar ialah kata-kata yang membuat hati si rina sakit, dan pamannya bilang nanti siapa yang mau sama kamu? umur berapa sekarang?diruangan tertawa. bukan hanya tawa jahat tetapi tawa yang terbiasa, tawa yang menganggap kalimat tersebut wajar, bahkan lucu. dan ibu nya rina tersenyum kikuk. dan ayah rina sedang mengalihkan topik. dan rina? rina tersenyum juga. mengangguk. lalu mengambil sendok dan pura-pura sedang sibuk makan.

Dan akan tetapi di dalam dada rina ada sesuatu yang runtuh secara pelan-pelan.bukan karena kata-kata itu menyakitkan meskipun memang menyakitkan. tapi karena rina sadar bahwa rina sudah terlalu sering melakukan ini: tersenyum, diam, dan menelan. seolah diam adalah jalan keluar yang paling baik dan aman menurut nya. dan seolah keberatan rina tidak berhak disuarakan di ruangan itu.dan pengalaman seperti ini bukan milik rina sendiri. dan bahkan jutaan perempuan setiap harinya diam di tempat yang seharusnya mereka boleh berbicara. diam ketika komentar tentang penampilan mereka dilontarkan di depan umum. Diam ketika pencapaian mereka dikecilkan menjadi ya tapi kapan nikah. Diam ketika ruang mereka dipersempit oleh ekspektasi yang tidak pernah mereka minta.

Diam itu bukan pilihan bebas. Ia adalah hasil dari bertahun-tahun pengkondisian belajar bahwa perempuan yang berbicara terlalu keras disebut cerewetlah ini itu lah,dan yang mempertahankan pendapat disebut sebagai keras kepala, yang menolak komentar orang lain disebut tidak bisa diatur, dan kita diajarkan bahwa keanggunan perempuan terletak pada kemampuannya menahan diri. bahwa diam adalah sopan.dan bahwa menerima adalah kebajikan.

Naomi Wolf, dalam The Beauty Myth (1990), menulis bahwa salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan perempuan adalah membuat mereka sibuk mempertanyakan diri sendiri terhadap tubuh mereka, pilihan mereka, harga diri mereka. dan ketika seorang perempuan lebih banyak memikirkan apakah ia sudah pantas cukup cantik, cukup kurus, cukup lembut, cukup patuh dan ia tidak punya banyak energi tersisa untuk mempertanyakan bagaimana sistem yang menempatkannya di sana.

Dan malam itu di meja makan, rina tidak mau mempertanyakan sistem itu kepada keluarganya dan rina hanya bisa diam dan menelan.dan tetapi ada sesuatu yang berbeda setelahnya. mungkin karena beasiswa itu ,mungkin karena rina akhirnya punya rencana untuk pergi, untuk membangun sesuatu yang benar-benar milik rina. atau mungkin karena rina sangat lelah. Lelah tersenyum untuk hal-hal yang tidak lucu. Lelah mengangguk untuk hal-hal yang tidak disetujuinya. 

Dan tiga minggu mendatang di sebuah pertemuan keluarga yang lebih kecil, paman rina melontarkan pertanyaan yang serupa. dan kali ini nadanya lebih serius dia menanyakan kepada rina, kamu serius mau pergi dua tahun? dan nanti siapa yang urus orang tua?dan rina meletakkan gelasnya.dan menarik napas. dan untuk pertama kalinya, dia menjawab dengan sangat sungguh-sungguh Paman, kan kakak laki-laki saya ada dua.dan kenapa pertanyaan ini ditujukan ke saya?. sunyi sejenak. paman rina tampak tidak menyangka. lalu ia berdehem dan berkata, Ya,kan kamu anak perempuan.dan itu mengapa saya yang bertanggung jawab paman,bukan mereka? tanya rina pelan, tapi jelas.

Dan tidak ada jawaban yang memuaskan malam itu. tapi si rina tidak mencari jawaban dari paman nya. rina hanya perlu mendengar suaranya sendiri dia perlu tahu bahwa dia mampu mengucapkan kata-kata itu tanpa runtuh, tanpa menangis, tanpa minta maaf setelahnya.carol Gilligan, dalam In a Different Voice (1982), menulis bahwa perempuan sering kali mengembangkan moral berdasarkan kepedulian dan relasi dan bukan karena itu kodrat mereka, dan melainkan karena mereka dibesarkan dalam budaya yang menghukum perempuan yang memprioritaskan diri sendiri. Kepedulian itu indah. Tapi ketika ia selalu mengalir satu arah ketika perempuan selalu yang mengalah, selalu yang menelan, selalu yang merawat sementara tidak dirawat ia berhenti menjadi kebajikan dan mulai menjadi beban.

Dan rina berangkat empat bulan setelahnya.dan ibu rina mengantarnya ke bandara, dan memeluk rina sangat lama, lalu ibu rina berbisik Jangan lupa pulang. dan rina menjawab tidak akan, Bu.dan di pesawat, rina menyadari satu hal yaitu rina  tidak diam karena takut.tetapi rina diam karena selama bertahun-tahun tidak ada yang mengajarkan nya bahwa suara dia berharga. bahwa memilih diri sendiri bukan berarti meninggalkan orang lain dan bahwa seorang perempuan bisa pergi jauh dan tetap pulang, bisa memilih karier dan tetap mencintai keluarga, bisa mengejar impian dan tetap menjadi manusia yang baik.dan diam bukan berarti setuju. dan berbicara bukan berarti memberontak.i a hanya berarti dia ada. Suara dia ada. dan dia berhak menggunakannya.

REFERENSI

Siti Putri Lestari (2024), Diam dan Misuh: Ekspresi Kemarahan dalam Sosial Ostracism Masyarkat Jawa 5 (2), 133-143

Febie Ola Falentina (2012), Asertivitas terhadap pengungkapan emosi marah pada remaja 8 (1), 9-14

Fakih, M. (1996). Analisis gender dan transformasi sosial.

Gilligan, C. (1982). Dalam suara yang berbeda: Teori psikologi dan perkembangan perempuan. Harvard University Press.

Hooks, B. (2000). Feminisme untuk semua orang: Politik yang penuh semangat.

Penulis : Allifa Maysarah ialah seorang perempuan muda yang peduli terhadap isu kesetaraan gender,keadilan sosial, hak hak perempuan,dan tulisan ini lahir dari keinginannya untuk dapat menyuarakan realitas dan yg  selama ini hidup di sekitarnya termasuk kisah-kisah perempuan yang sangat tangguh dan yang terlalu jarang mendapatkan ruang untuk bersuara.

Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya