Pernahkah kalian mendengar ada perempuan yang tidak menyukai perempuan karena dia tidak seperti perempuan yang lainnya?
Sebut saja Arini, ia seorang buruh pabrik. Ia mempunyai suami pekerja bangunan. Pada suatu hari, suaminya tidak mendapatkan panggilan dari atasannya, otomatis suaminya berada di rumah sementara. Sambil menunggu kerjaan, suami Arini membantu pekerjaan rumah tangga, seperti memasak dan mencuci.
Pada pagi hari ketika suami Arini sedang menjemur pakaian, di seberang halaman belakang rumah ada sekelompok perempuan yang sedang berbincang mengetahui hal tersebut, seketika topik pembicaraan mereka mengarah kepada aktivitas yang dilakukan oleh suami Arini tersebut. Mereka membicarakan Arini, katanya “Arini bakal mendapatkan dosa, karena membiarkan suaminya melakukan pekerjaan rumah, seharusnya Arini bisa membagi waktu antara pekerjaan rumah dengan
Pekerjaan Arini sendiri yaitu sebagai buruh.” Bahkan ada yang membanding-bandingkan diri mereka dengan Arini, ketika mereka berada diposisi seperti ini. Maksudnya, mereka yang sedang membandingkan tersebut secara tidak langsung bersirat “Saya juga bisa (membagi waktu) ketika bekerja di luar rumah, kenapa dia enggak”. Dan kenapa sampai harus disematkan kata ‘dosa’ hanya karena hal tersebut, seakan-akan pekerjaan tersebut itu kewajiban, kalau dikerjakan mendapat pahala, jikalau tidak akan mendapatkan dosa. Dan Anehnya, kenapa harus perempuan, sedangkan yang melakukan pekerjaan itu laki-laki?
Dalam dunia patriarki perempuan dibentuk ke dalam tiga paradoksal, yaitu perawan, ibu, pelacur atau bahasa sederhananya mereka mendefinisikan (membentuk) perempuan sebagai perempuan yang baik-baik seperti perawan, ibu dan perempuan tidak baik-baik seperti pelacur. Untuk menghindari perempuan menjadi perempuan yang tidak baik-baik, perempuanlah membentuk anak perempuan mereka agar menjadi perempuan baik-baik, ‘perempuan yang patuh’.
Di dalam buku Ester Lianawati berjudul Akhir Pejantanan Dunia, perempuan merasa berkuasa atas diri (anak perempuan) mereka karena mereka merasa sudah berjuang melahirkan mereka bahkan nyawa taruhannya. Maka dari itu, agar perjuangan mereka tidak sia-sia, mereka membentuk anak perempuan mereka seperti yang mereka inginkan yaitu menjadi perempuan sesuai yang baik-baik.
Masih di dalam buku tersebut hal ini disebut sebagai kepatuhan feminim. Kita diajarkan untuk menjadi patuh. ‘Patuh’ disini itu menjalankan kehidupan atau melakukan kegiatan seperti kehidupan atau kegiatan perempuan kebanyakan. Agar mereka disebut sebagai perempuan baik-baik. Dampaknya menyebabkan ketika mereka (perempuan) melihat ‘perbedaan’ seperti ada perempuan yang memiliki gaya hidup tidak seperti perempuan kebanyakan, itu dianggap perempuan tidak baik-baik, perempuan satu ke perempuan yang lain melabeli dengen pelabelan negatif seperti contoh kasus Arini. Karena menurut mereka pekerjaan rumah tangga merupakan pekerjaan ‘wajib’ yang harus dilakukan oleh perempuan. Dari kecil, pikiran maupun penglihatan mereka sudah tertanam dan diarahkan bahwasannya pekerjaan rumah merupakan pekerjaan perempuan.
Penulis: Silvina Khasanah merupakan penulis pemula asal Brebes. Ia tertarik dengan persoalan gender di lingkungan sekitarnya. Menulis menjadi salah satu alat terapi kesehatan mentalnya. Dapat dijumpai di Instagram @Vinna_2206.
Editor: Hamimie
