Perempuan Baik Itu Tidak Boleh Marah, Katanya

“Jangan marah-marah, nanti tidak ada yang suka.”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Bahkan, banyak perempuan mendengarnya sejak kecil. Saat menangis dianggap terlalu sensitif, saat tertawa terlalu keras disebut tidak anggun, dan ketika marah justru dicap galak atau emosional. Lama-kelamaan, banyak perempuan belajar satu hal: menyenangkan orang lain lebih penting daripada mendengarkan diri sendiri.

Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi perempuan yang baik berarti harus sabar, harus mengalah, dan sebisa mungkin tidak membuat orang lain tidak nyaman. Kalau ada masalah, lebih baik dipendam. Kalau kecewa, cukup diam. Kalau lelah, nanti juga terbiasa.

Padahal, semakin dewasa, saya sadar bahwa menjadi “baik” sering kali membuat perempuan lupa menjadi manusia biasa.

Kita diajarkan untuk memahami orang lain, tetapi tidak diajarkan bahwa perasaan kita sendiri juga penting. Kita diminta menjaga perasaan banyak orang, tetapi ketika hati kita terluka, justru diminta untuk “jangan dibesar-besarkan”.

Lucunya, ketika seorang laki-laki marah, orang-orang menganggapnya tegas. Ketika perempuan melakukan hal yang sama, mereka dianggap terlalu emosional. Seolah-olah perempuan harus selalu lembut, selalu tersenyum, dan selalu siap menerima keadaan apa pun.

Padahal, marah adalah emosi yang manusiawi.

Marah karena diperlakukan tidak adil.

Marah karena pendapat kita tidak didengar.

Marah karena terlalu sering diminta mengerti, sementara tidak banyak yang berusaha memahami.

Tidak ada yang salah dengan perasaan itu.

Yang salah adalah ketika perempuan dibuat merasa bersalah hanya karena mengekspresikan emosi yang sebenarnya wajar dimiliki oleh siapa saja.

Banyak perempuan akhirnya terbiasa berkata “nggak apa-apa” padahal sedang kecewa. Mereka tertawa ketika sebenarnya ingin menangis. Mereka terus berkata “aku bisa sendiri” karena takut dianggap merepotkan.

Saya pikir, mungkin itulah mengapa banyak perempuan yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi diam-diam merasa lelah. Bukan karena mereka tidak kuat, melainkan karena terlalu lama terbiasa mengabaikan dirinya sendiri.

Kesetaraan gender bukan hanya soal kesempatan mendapatkan pendidikan atau pekerjaan yang sama. Kesetaraan juga berarti perempuan memiliki hak yang sama untuk bersuara, menyampaikan keberatan, mengatakan “tidak”, bahkan untuk marah ketika memang ada yang perlu diperjuangkan.

Perempuan tidak harus selalu menjadi sosok yang sabar tanpa batas.

Perempuan tidak harus selalu menjadi pendengar yang baik tanpa pernah didengar.

Dan perempuan tidak harus terus-menerus menjadi “perempuan baik” versi orang lain hingga kehilangan dirinya sendiri.

Mungkin, sesekali kita perlu berhenti bertanya, “Apa yang orang lain pikirkan tentangku?”

Dan mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya aku rasakan?”

Karena menjadi perempuan yang baik tidak seharusnya berarti mengorbankan diri sendiri.

Dan barangkali, perempuan yang berani berkata “aku tidak suka diperlakukan seperti ini”, “aku sedang lelah”, atau “aku tidak setuju”, bukanlah perempuan yang buruk.

Mereka hanya sedang belajar untuk mencintai dirinya sendiri, sesuatu yang selama ini terlalu sering mereka lupakan demi menyenangkan semua orang.

Daftar Pustaka

Anggraini, D., & Sari, N. (2023). Stereotip gender terhadap perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat. Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, 5(2), 167–181.

Nurhidayah, S., & Fatmawati, E. (2022). Konstruksi sosial gender dalam kehidupan perempuan Indonesia. Yinyang: Jurnal Studi Islam, Gender, dan Anak, 17(2), 231–248.

Pamungkas, N. C. (2021). Keadilan dan kesetaraan gender dalam kehidupan keluarga di Indonesia.

Rahmawati, A., & Haryanto, J. T. (2021). Kesetaraan gender dalam perspektif sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Jurnal Sosiologi Reflektif, 15(2), 271–288.

Wulan, D. K., & Lestari, P. (2020). Perempuan, emosi, dan konstruksi budaya patriarki. Jurnal Perempuan, 25(3), 205–220.

Penulis: Tirza Hanum merupakan mahasiswi yang memiliki minat pada isu perempuan, pendidikan, dan literasi. Ia percaya bahwa tulisan dapat menjadi ruang untuk menyuarakan pengalaman serta membangun kesadaran mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya