Frisa (35) tidak menyangka bahwa sebuah mobil-mobilan kayu bisa membuat anaknya, lupa pada layar gawai selama berjam-jam.
“Seharian dimainin terus. Padahal biasanya susah banget lepas dari HP,” cerita ibu dua anak itu. Razo berusia empat tahun, begitu terpesona lantaran ia bisa merangkai dan mengecat sendiri kendaraan miniatur berbahan kayu yang dipesan lewat Instagram.
Bagi Frisa, mainan itu bukan sekadar benda, melainkan jawaban atas kegelisahan yang sudah lama menghantui yaitu bagaimana menarik perhatian anak di era digital tanpa harus bersaing langsung dengan layar.
Kegelisahan Frisa bukan tanpa dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2024 bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gawai, dengan rincian 37,02 persen pada kelompok usia 1-4 tahun dan 58,25 persen pada usia 5-6 tahun. Laporan State of Mobile 2024 dari Data.AI menempatkan Indonesia sebagai negara dengan rata-rata screen time tertinggi di dunia: 6,05 jam per hari, jauh melampaui Thailand dan Argentina.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan nol waktu layar untuk anak di bawah satu tahun, maksimal satu jam untuk usia dua hingga enam tahun, dan tidak lebih dari 90 menit untuk usia enam hingga dua belas tahun, sebuah rekomendasi yang semakin sulit diterapkan di tengah serbuan konten digital.
Dampaknya sudah terasa di fasilitas kesehatan, seperti RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta melaporkan lonjakan 28 persen kunjungan pasien anak dan remaja (usia 7-18 tahun) yang terdiagnosis kecanduan gadget sepanjang Oktober-November 2025, dengan total 1.856 kasus, naik dari 1.450 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun di Pasuruan, sebuah jawaban datang dari arah yang sama sekali berbeda.
Baca Juga: Seni sebagai Terapi: Mengatasi Kecemasan Jangka Panjang dan Meningkatkan Kesehatan
Kota mebel dan limbah yang terbuang sia-sia

Pasuruan, penghasil mebel terbesar kedua di Indonesia setelah Jepara, menyimpan ironi yang jarang disadari. Di balik industri furnitur yang menjangkau pasar ekspor, terdapat limbah kayu yang terus menumpuk. Tesis Radityo Efriza (2021) mencatat Sentra Industri Mebel Kota Pasuruan menghasilkan 2.000–6.000 karung tatal kayu per minggu, yang selama ini hanya berakhir sebagai kayu bakar. Di sinilah Achmad Adias Wijaya (37) melihat peluang yang orang lain lewatkan.
Pria yang kerap disapa Dias ini memulai Artdias Gallery pada 2015 dengan produk dekorasi rumah dari limbah kayu, rak dinding, jam dinding, pot bunga. Hampir satu dekade ia jalani dengan senyap, tanpa investor, tanpa pendampingan.
Ketika pasar homedecor lesu tiga tahun lalu, ia menemukan konten mainan kayu di Pinterest, mencobanya, lalu mengunggahnya ke Instagram. Respons publik mengejutkan. Dari percakapan dengan para pembeli, ia menyadari sesuatu yang tak pernah ia rencanakan.
“Waktu itu kami tidak langsung sadar bisa jadi solusi kecanduan gadget. Tapi dari cerita para orang tua yang beli, kami baru paham,” ungkapnya. Dari sanalah Artdias Gallery mulai serius bergeser ke segmen mainan edukatif anak.
Mainan kayu melawan layar

Kini, Artdias Gallery memiliki lini mainan edukatif bernama Memadaku, dengan tiga produk terlaris seperti mainan pesawat, truk trailer, dan Masina, rangkaian kendaraan miniatur yang bisa dirakit dan diwarnai sendiri oleh anak. Keunggulan utamanya bukan hanya pada bahan yang ramah lingkungan, melainkan pada pengalaman yang ia ciptakan. Anak menjadi terlibat aktif, bukan pasif seperti saat menatap layar. Harga dibanderol mulai Rp10.000 untuk gantungan kunci hingga Rp200.000 untuk diorama bertema.
Material utama yang digunakan adalah kayu pinus bekas pallet dan kayu jati limbah pengrajin mebel. Dalam sebulan, Artdias menyerap sekitar 75 kilogram kayu pinus dan lima kilogram kayu jati, dengan tingkat konversi limbah kayu menjadi produk jadi mencapai 90 persen. Dalam tiga tahun terakhir, total produksi mainan Artdias mencapai sekitar 900 unit.
Dampak Artdias Gallery jauh melampaui apa yang terlihat di etalase Instagram-nya. Di balik setiap pesanan yang masuk, ada rantai manfaat yang menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Dias mengandalkan jaringan pengrajin lepas yang masing-masing mengerjakan bagian berbeda, ada yang khusus membuat bodi kendaraan, ada yang mengerjakan roda, ada yang menangani ukiran detail. Sistem ini bukan hanya efisien secara produksi, tetapi juga menjadi jaring pengaman bagi para pengrajin yang sempat kehilangan mata pencaharian saat pandemi Covid-19 melanda dan permintaan mebel anjlok drastis.
Ketika pesanan Artdias mulai mengalir, dapur para pengrajin itu pun kembali mengepul. Tidak hanya itu, saat pesanan datang dalam jumlah besar, Dias juga memberdayakan tetangga sekitar untuk membantu proses pengemasan, sebuah tambahan penghasilan kecil namun berarti bagi warga di sekitar rumahnya di Perum Graha Candi AB 7, Bakalan, Kecamatan Bugul Kidul, Pasuruan 67128, yang hingga kini masih menjadi tempat produksi sekaligus galeri Artdias.

Dampak dari produk Artdias juga terasa di ruang-ruang belajar anak, dan ada basis ilmiah yang menopangnya. Riset dari Physiopedia, Frontiers in Psychology, dan Tandfonline mencatat bahwa aktivitas merakit komponen kecil terbukti melatih otot-otot jari dan tangan anak, sekaligus mengasah koordinasi tangan-mata yang menjadi fondasi keterampilan dasar seperti menulis dan menggambar.
Berbeda dengan gawai yang mendorong anak menjadi penonton pasif, mainan kayu yang tidak membutuhkan baterai atau tombol memaksa anak menggunakan imajinasi dan berinisiatif sendiri. Bella (32), pengajar di sebuah daycare di Pasuruan yang bermitra dengan Artdias Gallery sejak Februari 2026, mengamati perubahan ini secara langsung.
“Mereka lebih antusias, lebih fokus, dan lebih bebas berkreasi,” tuturnya. Dibandingkan mainan plastik yang mudah pecah atau media digital dengan paparan layar berkelanjutan, mainan kayu Artdias ia nilai lebih aman, awet, dan tidak beracun.
Frisa pun turut merangkum pengalamannya dengan sederhana “Mainan kayu melatih motorik, bebas radiasi, dan awet. Tapi yang paling berharga sebenarnya anak jadi lebih hadir, bermain sungguhan, bukan cuma menatap layar, kadang saya juga turut menemani sehingga lebih bonding sama anak.”
Pemantik bernama CIMB Niaga

Di sinilah peran CIMB Niaga menjadi signifikan. Artdias Gallery menemukan momentum baru ketika Dias mengikutsertakan usahanya dalam kompetisi ide sosial Community Link #JadiNyata 2025 yang diselenggarakan oleh CIMB Niaga dengan tema “Inspirasi Jadi Prestasi”. Program ini merupakan bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) CIMB Niaga yang berjalan sejak 2018, mendorong inovasi sosial dari akar rumput untuk menjawab tantangan nyata masyarakat Indonesia.
Bermula dari pendaftaran pada September 2025, Artdias Gallery lolos dari lebih dari 500 pendaftar, mengikuti penjurian di Jakarta pada 22 Oktober, dan diumumkan sebagai salah satu dari tiga pemenang ide sosial terbaik pada 23 Oktober 2025.
Melalui program Community Link, CIMB Niaga memberikan fasilitas pameran, pembelian produk, mentoring intensif selama satu tahun yang saat ini tengah berjalan, serta dana pengembangan usaha senilai Rp50 juta yang rencananya digunakan untuk pembelian peralatan baru, penyelenggaraan workshop, dan penambahan pengrajin lepas guna meningkatkan kapasitas produksi.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei, menegaskan bahwa Community Link #JadiNyata adalah wujud nyata corporate purpose CIMB Niaga, Advancing Customers & Society, selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Nomor 8.
“Kami percaya bahwa ide sosial yang lahir dari masyarakat adalah fondasi penting untuk membangun masa depan yang lebih inklusif. Melalui Community Link #JadiNyata, CIMB Niaga berkomitmen mendampingi para pemenang dalam mewujudkan mimpi dan aspirasinya,” ujar Fransiska, Kamis (23/10/2025), sebagaimana dilansir dari laman resmi CIMB Niaga.
Program ini hadir bukan sebagai pencipta, melainkan pemantik yang mempercepat sesuatu yang sudah tumbuh selama satu dekade.

Momentum dari CIMB Niaga mendorong Dias untuk melangkah lebih jauh. Saat ini Artdias Gallery tengah mempersiapkan sejumlah pameran ke depannya, sekaligus membuka pintu untuk program workshop yang lebih inklusif. Salah satu yang paling menyentuh adalah undangan dari SLBN 1 Kota Pasuruan untuk melatih siswa berkebutuhan khusus membuat kerajinan dari limbah kayu.
“Minggu ini saya dimintai tolong untuk mengajari teman-teman SLBN 1 Kota Pasuruan untuk membantu mereka membuat kerajinan dari limbah dan membantu mereka nantinya bisa mandiri dan berdaya,” ungkap Dias. Ini bukan agenda bisnis. Ini adalah perluasan misi sosial yang tumbuh organik dari sebuah usaha yang awalnya hanya ingin memanfaatkan sisa limbah kayu pallet.
Kisah Artdias Gallery adalah pengingat bahwa inovasi sosial tidak selalu lahir dari laboratorium riset atau program akselerasi bergengsi. Ia bisa lahir dari Pinterest, dari limbah kayu, dari halaman rumah di Perum Graha Candi yang sederhana.
Ia tumbuh karena ketekunan, dan berkembang karena ada pihak seperti CIMB Niaga yang percaya bahwa ide sosial dari masyarakat adalah fondasi penting untuk membangun masa depan yang lebih inklusif. Satu usaha kecil di Pasuruan telah membuktikan bahwa limbah bisa menjadi mainan, mainan bisa melawan kecanduan, dan kepercayaan, baik dari sebuah CIMB Niaga maupun dari seorang ibu bernama Frisa, bisa mengubah sisa industri menjadi ruang bermain yang bermakna.
Baca Juga: Surabaya Tourism Awards 2026: Apresiasi Perhotelan dan Pelaku Industri Wisata
Daftar Referensi
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Profil Anak Usia Dini 2024. https://www.bps.go.id/en/publication/2024/12/13/744350b0873dcb98dfeab38c/profil-anak-usia-dini-2024.html
- Data.AI. (2024). State of Mobile 2024. https://www.data.ai/en/go/state-of-mobile-2024
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Keamanan Menggunakan Internet bagi Anak. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/keamanan-menggunakan-internet-bagi-anak
- Wartakita.ID. (2025). Lonjakan 28% Pasien Anak di RSJ 2025 Akibat Kecanduan Gadget. https://wartakita.id/lonjakan-pasien-anak-rsj-kecanduan-gadget-2025/
- Nursanti, Rizna Eka. (2021). Pemanfaatan Limbah Kayu Tatal sebagai Material Modular Building Block: Studi Kasus Sentra Industri Mebel Kota Pasuruan. Tesis Magister Desain, Institut Teknologi Bandung. https://digilib.itb.ac.id/gdl/view/56906
- Physiopedia. The Development of Fine Motor Skills in Children. https://www.physio-pedia.com/The_Development_of_Fine_Motor_Skills_in_Children
- Frontiers in Psychology. (2025). Fine Motor Skills Assessment Instruments for Preschool Children with Typical Development: A Scoping Review. https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2025.1620235/full
- Tandfonline. (2025). Fine Motor Skills Performance among Singaporean Kindergarten Students. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/2331186X.2025.2451506
- CIMB Niaga. (2025). Community Link #JadiNyata 2025. https://www.cimbniaga.co.id/id/kejar-mimpi/program/communitylink-jadinyata
