Yang Paling Indah

Saat di kelas tiga sekolah dasar, aku menyadari ukuran payudaraku terlalu besar dibanding anak-anak lain seusiaku. Rasa keram dan sakit waktu itu sempat membuatku takut — sampai anak-anak menyebutnya sebagai pertumbuhan, karena mereka sudah mulai mengerti bahwa tubuh perempuan terasa sangat unik bagi mereka.

Beberapa anak yang polos mulai meremas payudara satu sama lain, tertawa bersama melakukannya. Sesuatu yang lucu dan aneh — begitu yang kupahami saat itu. Jujur saja, aku tidak terlalu nyaman saat bagianku mulai mereka jadikan bahan bercanda — padahal sudah jelas milikku tumbuh lebih besar dari mereka yang mencubit sambil tertawa.

Tak lama, anak laki-laki mulai mengikuti permainan itu. Mereka yang sudah mengerti rasanya menyentuh tubuh perempuan, tidak mengerti bahwa itu dilarang. Kami pun tidak mengerti. Yang kami tahu, saat anak laki-laki yang melakukannya — rasanya memalukan, dan kami tidak tertawa seperti sebelumnya.

Mungkin memang seperti inilah anak-anak bermain, pikirku saat itu. Pertumbuhan tubuh dan otakku terasa tidak seimbang. Bagian depan dan belakangku beregenerasi lebih cepat dari otak yang terus ketakutan dan penuh rasa malu.

Jika orang-orang dewasa di desa mengetahui cerita ini, hal tabu akan mereka sembunyikan — lalu berbalik memarahi kami. Itulah mengapa tubuhku lebih sering memilih diam daripada berani berteriak meminta tolong. Saat kelas IX, anak laki-laki kembali bermain di tengah kerumunan. Di sebuah ruangan pengap dengan sapu dan kain pel di sudutnya — menggantung, kotor, dan terabaikan.

Jika pertumbuhan otakku terasa lambat, saat itu kecepatan sensori dan refleksku mulai lebih baik — karena aku berteriak. Gonggonganku menarik mata-mata yang dari tadi sibuk menggosipkan seseorang yang tidak mereka sebut namanya. Sepasang mata membulat, diiringi tawa yang mengecil. Anak laki-laki itu berhenti tertawa. Terasa lebih baik setelahnya, namun sisa tawa mereka tetap ada dan membekas.

Saat sabun dan keramik kamar mandi terasa melindungi, ternyata itu tidak menyeka noda dan kotorku dengan baik. Nodanya justru terus menempel dan berkerak — kehijauan dan sedikit ungu, meski sudah sekuat tenaga kuciptakan gelembung pada kulit-kulit yang dingin. Sampai akhirnya aku menemukan kesenangan dalam tidak mendengar tawa mereka, hingga kelas dua belas.

Saat itu ayahku sekarat. Tubuhnya lumpuh, tidak mampu berjalan atau menopang tulangnya sendiri. Seseorang mengajakku ikut dalam perjalanan ke rumah orang pintar, katanya. Dengan polos dan harapan melihat ayahku sehat kembali, aku mengikuti mereka yang dianggap lebih mengerti alternatif paling dipercaya selain dokter.

Orang pintar yang terdengar lebih bodoh dalam menjelaskan, membuat orang yang membawaku bertindak sama bodohnya. Katanya itu air doa yang suci — sesuci kitab-kitab yang tertulis di atas kertas putih. Dituangnya air itu pada cawan berwarna merah.

Lalu, dengan dalih yang aku tidak sepenuhnya mengerti, dibukanya kaos hitam yang melindungi kulitku. Tangan yang basah oleh air suci itu meraba kulit yang sudah lama tidak mendengar tawa. Warna hijau dan ungu kembali luruh mengotori air suci — namun kali ini bertambah dengan merah yang keruh.

Otakku tetap tidak seimbang, terlalu lama menangkap hal-hal yang mereka sebut suci. Beginikah yang harus dilakukan, jika aku ingin ayahku sembuh? Terlalu keras tawa kali ini.

Kemudian ayahku kembali berjalan, setelah beberapa kali dimasukkan ke dalam mesin besar seperti kapsul oleh dokter — membungkuk, menopang tulang dengan kedua tangan dan tembok-tembok berlumut. Dia tidak tahu apapun, karena aku sangat menyayanginya.

Dan kemudian aku senang, saat tujuh tumor payudara yang sudah setahun lebih tertidur — terbangun karena mendengar tawa, diangkat dan disimpan dalam botol-botol kecil seperti janin. Tiga bekas luka dan nanah yang belum mengering membuatku senang saat bercermin tanpa bra.

Aku pikir setelah ini aku akan terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki payudara yang tumbuh. Tapi itu gagal. Aku tetap memilikinya — bahkan bertambah, karena luka-luka itu menjadi daging keras yang menambah dimensinya. Maka aku mengikat ini. Menyembunyikannya dalam kaos-kaos oversize yang menambah volume tubuh.

Kemudian kuputuskan memberontak. Membenci dan mengabaikan luka-luka pada payudaraku, pada tubuhku. Membiarkan anak laki-laki kembali tertawa, menyentuh dan mencubit sesuka hati mereka — tanpa aku menggonggong seperti terakhir kali. Sembilan belas tahun dianggap cukup dewasa bagi sebagian orang, dan bagiku.

Rasa maluku hilang — atau justru bersembunyi, dalam amarah dan kebencian akan tubuhku sendiri. Aku yang paling tahu tawa mereka, paling mengerti kesenangan mereka, dan kubiarkan kulitku mendengar semuanya kembali. Kuberitahu bahwa aku membenci apa yang mereka tertawai.

Membenci tekstur dan ukuran yang mereka jadikan bantalan nyaman semalaman. Tapi mereka tidak mendengarkan, tidak memikirkan. Ternyata otak mereka sama tidak seimbangnya seperti milikku.”Bukankah bagi perempuan, ukuran itu adalah aset?”

Pandangan mereka terasa masuk ke tubuhku lebih dulu daripada tangan mereka. Yang mereka intip dan susupi dengan penilaian paling menjijikkan. Amarah dan pemberontakan ini ternyata salah arah — hanya nanah merah yang kubiarkan terus terbuka. Menyelimuti payudara yang mulai kehilangan rasa gelitik dan sensor hidupnya. Perlahan aku tidak lagi mengenali tubuhku sendiri.

Saat mencoba hidup biasa lagi — duduk dan tertawa bersama pun perlahan terasa seperti menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Dan aku, sebagai perempuan, selalu sendiri dalam ketakutan itu — terlalu kotor, terlalu malu, terlalu hilang.

Hanya air yang terus kutuju — menyeka, menggosok, menggigit sisa-sisa rasa malu dan amarah yang kubiarkan membekas menjadi hijau, ungu, dan merah. Berkerak. Dinding kamar mandi ikut berkerak karena mudah kutinju dan kucaci maki. Aku mulai menggonggong hingga tubuh dan wajah bergetar. Terlalu kuat, tidak terkontrol, menggigiti kulit kepala dengan kuku.

Ternyata membiarkan mereka tertawa dalam pemberontakan rasa benciku hanya membuat tubuhku semakin membusuk. Tanpa busana aku bercermin, mengamati hal-hal yang kubenci — mengelus dan menenangkan amarah pada bekas tawa mereka. Hingga aku sekali lagi ingin melawan, ingin memberontak. Tapi aku tidak ingin lagi membencinya. Aku akan mencintainya. Merebut kembali apa yang hilang, yang sudah lama mereka tertawai. Dengan cara paling sederhana, paling dasar.

Gaun biru muda dengan tekstur putih menjadi yang paling kusukai — ketat di dada dan lebar di bawah. Melihat tubuhku sendiri bersanding dan terbungkus oleh katunnya, terlihat sangat cantik. Begitu cantik hingga aku terobsesi pada gaun-gaun lainnya. Payudaraku kini bercorak bunga dan awan-awan biru yang bergerombol, memplester sisa-sisa tawa yang sepanjang hidupku tidak pernah mampu dibersihkan oleh sabun dan air di kamar mandi.

Inilah yang paling indah dari tubuh perempuanku. Aku baru menyadarinya saat memutuskan untuk melawan, membiarkan tubuhku terlihat — mengambil kembali apa yang dicuri oleh banyak tangan. Tubuhku bukan lagi bentuk yang mampu mereka kendalikan, aku yang mengendalikan.

Kesadaranku datang setelah kehilangan dan luka yang terlalu lama kubiarkan tinggal. Demi mencintai tubuhku kembali — mengembalikan rasa dan bagian berharga yang tidak pernah benar-benar kubenci. Aku memutuskan membiarkannya terlihat, terbungkus, dan tertutup dengan bunga-bunga.

Referensi:

The Vegetarian – Han Kang. 2015

The White Book – Han Kang. 2017

Hunger: A Memoir of (My) Body – Roxane Gay. 2017

Penulis: Indah Nur Ainni, penulis yang tertarik pada eksplorasi pengalaman tubuh perempuan, trauma, dan proses pemulihan diri melalui pendekatan personal serta reflektif. “Yang Paling Indah” merupakan esai pertamanya.

Editor & Ilustrasi: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya