Dahulu ada seorang pejuang kaum hawa dari negeri Hindia Belanda yang dengan spirit pejuangannya di masa lampau yang memperjuangkan kedudukan perempuan agar bisa lepas dari perbudakan sosial dan bisa memperoleh pendidikan dan hak yang sama dengan laki-laki.
Perjuangannya diabadikan dalam buku”habis gelap terbitlah terang” yang memiliki filosofi yang amat terang benderang mengangkat derajat perempuan dari titik nol peradaban hindia belanda sampai bisa seperti sekarang yang telah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia bernama Raden ajeng Kartini, seorang bangsawan yang dibalik kebangsawan dan berbagai previlage nya ia tidak ternina bobokan dengan itu semua, bahkan justru melawan pemikiran Konservatif terhadap kaum perempuan. Beberapa buku dan teori-teori feminism yang berjuang mengangkat martabat kaum perempuan ini, salah satunya buku “Entrok” karya Okky Madasari yang bercerita tentang seorang perempuan bernama Marni, dimana ia berjuang melawan patriarki dan eksploitasi dari regulasi yang mengkerdilkan perempuan dan menahan bahkan menghilangkan hak perempuan dari segi ekonomi.
Sebut saja saat suami marni berselingkuh dan meninggal tanpa meninggalkan harta, hanya harta Marni sendiri yang ia kuras dengan keringatnya sendiri tiba-tiba ingin dibagi dengan selingkuhan suaminya yang ternyata sudah punya anak dari hubungan gelap tersebut.
Fenomena kekerasan terhadap perempuan dalam rana publik bukan lagi menjadi sesuatu yang langka bahkan menjadi konsumsi harian media–media dan gawai kita. Bahkan kerap kali dilakukan bukan lagi oleh orang yang tidak dikenal melainkan justru dilakukan oleh keluarga, kerabat, teman korban sendiri.
Seperti halnya kasus yang sedang viral saat ini yaitu; Tim Resmob Polres Luwu Utara mengamankan seorang pria berinisial SM (45), warga Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.
Dan masih banyak kasus serupa namun dibalik itu semua tak jarang pula perempuan darinya yang harus dilindungi menjelma menjadi hewan buas yang rakus akan keinginan untuk mendominasi laki-laki. Tren yang sedang viral hari ini bahwa perempuan kadang memiliki lebih dari satu pasan, maraknya perselingkuhan dan stigma-stigma bahwa perempuan adalah iblis berwajah malaikat.
Ini tentu menjadi kegilisahan apakah yang sebenarnya kita lindungi ini? Apakah memang layak untuk mendapatkan perlindungan dan kemana sebenarnya arah dari emansipasi perempuan modern? Apakah perempuan terlalu bebas sehingga menjadi fantasi bebas laki-laki, apakah sebaiknya kembali kerumah saja? Apakah perempuan hari ini benar-benar kekurangan ruang aman, ataukah itu alarm alam untuk perempuan kembali kepada asal nya(rumah)?.
Kartini dan Makna “Ke Luar Rumah”
Berbicara perempuan pada masa lampau tentu tidak lepas tentang bagaiman peran dan fungsi perempuan terhadap status sosial dirumah. Dalam hal pendidikan pada masa kolonial banyak perempuan, termasuk yang berasal dari kalangan priyayi sekalipun, tidak memiliki akses ke pendidikan. Sehingga memunculkan tokoh-tokoh pemberdaya perempuan terutama di bidang pendidikan seperti R.A. Kartini, Dewi Sartika, Roehana Koedoes, dan Maria Walanda Maramis.
Salah seorang perwakilan organisasi Poetri Indonesia, Sitti Soendari, dalam kesempatan yang sama memberikan pandangannya terhadap perempuan Indonesia yang dinilainya perlu mendapat kemerdekaan seluas-luasnya. Soendari juga menyampaikan pandangan bahwa perempuan perlu terlepas dari ketergantungan kepada orang lain.
Secara tegas Sitti Soendari mengatakan “kaum putri sekarang meminta pendidikan yang menuju kemerdekaan, dan kebebasan dalam pergaulan hidup. Pendidikan kita haruslah memperhatikan hal ini, supaya kita jangan menjadi umpan perkawinan saja” (Blackburn, 2007: 68). Sedangkan di ranah privat, perempuan Indonesia di era kolonial memang mengalami diskriminasi ganda. Identitas mereka sebagai perempuan pribumi, membuat mereka termarjinalkan.
Perempuan pribumi pada saat itu seringkali diasosiasikan sebagai gundik (nyai) bagi orang Eropa atau Timur Asing. Sebagaimana diceratakan didalam buku “Bumi manusia “ (Pramoedya Ananta Toer; 1980) menceritakan bagaimana regulasi daripada pengebirian Hak perempun dalam ranah publik, dimana perempuan hanya dijadikan pemuas nafsu para lelaki Kolonial Belanda dan para Priayi Jawa, dijadikan istri sebagai mesin pencetak raja-raja Jawa,diperjual belikan kepada tuan tanah bahkan dilakukan oleh orang tuanya sendiri.
Rumah Masa Kini
Berbicara tentang rumah, kita bukan berbicara tentang konsep bangunan yang memiliki pintu atap dan ditempati untuk berteduh,tapi dalam konteks ini kita berbicara tentang ruang aman,rumah yang menjadi tempat kita menjadi diri kita sendiri. Dalam film “Rumah untuk Allie”, saya melihat dalam film itu dua hal; yang pertama adalah rumah dan keluarga yang utuh dan dan satu lagi adalah konsep rumah untuk perempuan.
Saya melihat tokoh Allie dalam film itu menjadi gambaran kondisi perempuan hari ini dibalik status quonya sebagai korban dan pelaku. Kekerasan verbal dan non verbal, keterpinggiran, serta stigma-stigma negative terkait perempuan.
Allie adalah sosok perempuan yang membawa kesalahan masa lalunya yang mncoba untuk terus bertahan demi sebuah rumah ia anggap keluarga, demikian hari ini dimana banyaknya kita melihat kontradiksi dari perejuangan perempuan sebagai yang harus dilindungi ternyata juga memberikan kesan negative kepada laki-laki dalam rana yang lebih personal (perasaan), perempuan bisa memiliki 1,2,bahkan lebih laki-laki dalam hidupnya tanpa merasah bersalah.
Contoh saja kasus Jule dan Farah yang menambah citra perempuan Nampak rusak di mata laki-laki dalam wilayah yang personal,dan betrbagai standar perempuan yang juga justru mengkerdilkan laki-laki.
Lebih jauh lagi Bagi perempuan masa kini, rumah bukan sekadar bangunan fisik untuk tempat tinggal, melainkan ruang aman untuk berekspresi, pusat kendali untuk menyeimbangkan karier dan keluarga, serta kanvas fleksibel yang menuntut desain inklusif dan fungsional untuk segala aktivitas.
Tidak sama dengan masa lampau dimana seratus persen lini kehidupan perempuan ada dirumah ,sebaliknya di masa kini rumah bukan lagi sekedar tempat tinggal,namun kebanyakan perempuan hari ini menjalani kehidupannya diluar rumah sebagai bentuk ekspresi kesetaraan gender.
Rumah hanyalah tempat beristirahat,bertemu keluarga,namun perempuan tidak lagi berfokus untuk membesarkan anak tapi dilakukan bersama-sama dengan pasangan. Lantas dimana letak peran ibu sebagai madrasah pertama anaknya? Maka, tidak jarang ada anak hari ini yang tidak akrab, bahkan tak mengenal makhluk yang melahirkannya ke bumi.
Keterbukaan pikiran bukan keterbukaan tubuhMemaknai perjuangan kartini masa kini dan masa lalu adalah bagaimana perempuan memaknai perjuangan sang revolusioner perempuan tersebut dengan keterbukaan pikiran dalam melihat segala hal, pendikan, politik, perjuangan kelas, tanpa perempuan berbalik menjadi penindas, memberikan label-label kepada laki-laki serta mampu bersuara atas tubuhnya bukan kembali kebudaya-budaya lama dengan menjual tubuh secara murah kepada laki-laki, apalagi dengan cuma-cuma dengan nama cinta, nonsens!
Di masa lampau, perjuangan RA. Kartini dan Dewi sartika, Nyi Dahlan (Aisiyah) dan berbagai tokoh perempuan dimasa lampau dan masa kini adalah perang terhadap pembungkaman dan eksploitasi,yang tentu gerakan akar rumputnya dimulai dengan pendidikan.
Di masa sekarang, pendidikan perempuan hampir setara dan bahkan bisa sama dengan laki-laki.Dari segi pendidikan perempuan tidak hanya SD, SMP, SMA, tapi sampai pada perguruan tinggi,bahkan banyak yang menjadi dosen dan professor.
Tapi apakah dari pendidikan yang tinggi itu menjamin keterbukaan pemikiran perempuan, tidak sedikit perempuan justru terjebak pada menjual tubuhnya untuk menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan posi-posisi dunianya.
Perempuan Kembali Ke Rumah
Dalam tulisan ini saya memberikan sebuah kesimpulan bahwasannya perempuan bukan kekurangan ruang aman,namun ruang aman itu akan tercapai dengan bukan meninggalkan fitrah serta melestarikan keterbukaan pikiran, sebab semakin perempuan ingin bebas harus di iringi dengan intelektual yang mumpuni jangan hanya berlindung dibalik angan-angan semu yang dikemukakan para feminism barat yang tidak sesuai dengan budaya kita dan perjuangan para pendahulu bangsa.
Perempuan kembali menjadi ibu dalam keluarga dan peduli pada pendidkan anaknya terutama anak perempuannya, sebab percuma kita berkoar-koar soal perempuan tapi abai dengan benih kecilnya yang kerap kali bisa saja terjatuh dalam kesalahan tanpa bimbingan ibu.Kedua adalah perempuan menjadi pasangan dalam keluarga yang memberikan perhatian dan ruang aman kepada keluarga bukan sebaliknya berselingkuh dan menaikkan standar-standarnya.
Terakhir adalah perempuan dalam belajar adalah bagaimana meraih keterbukaan pemikiran bukan pada hanya gelarnya dan gaya hidup yang hedonis,tapi justru belajar untuk menghargai dirinya. Lantas, bagaimana mau dapatkan ruang aman ketika tidak mampu bersuara. Jangan menunggu pemerintah atau viral tapi kamu punya kendali atas tubuh dan pikiranmu,jadilah perempuan yang cerdas bukan perempuan tolol yang bisa dibeli dengan cinta dan uang, bukan pula penjahat yang playing victim kepada laki-laki.
Penulis: Wansaidil Ridwan adalah seorang mahasiswa dan penulis muda yang menjadikan kata-kata sebagai ruang refleksi, kritik, dan perlawanan terhadap realitas sosial. Berangkat dari kegelisahan terhadap persoalan kemanusiaan, demokrasi, budaya, dan kehidupan generasi muda, ia aktif menuangkan pikirannya melalui tulisan-tulisan opini dan reflektif yang tajam namun tetap dekat dengan realitas sehari-hari. Ia lahir dari keluarga yang sederhana dalam didikan karakter yang keras dan kemudian mendapatkan pendidikan agama dari para ulama, serta aktif dalam komunitas relawan pendidikan dan literasi di kota Palopo.
Editor & Ilustrasi: Hamimie
