Suara Kepedulian Pada Kota Yang Terus Berubah

Aku tumbuh dan besar di Kota Surabaya, sebuah kota yang kerap disebut sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta. Nama Surabaya sering diasosiasikan dengan gedung- gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang tak pernah sepi, jalan raya yang padat oleh kendaraan, serta ritme hidup yang cepat dan kompetitif.

Namun, kisah tumbuhku di Surabaya tidak sepenuhnya dibingkai oleh hiruk-pikuk itu. Di balik wajah modernnya, Surabaya menyimpan ruang-ruang kecil yang tenang, kampung-kampung sederhana yang hidup berdampingan dengan kota besar. Salah satunya adalah kampung tempat aku dibesarkan, sebuah kampung yang jauh dari kata hingar bingar, asri, dan penuh kenangan.

Kampungku tidak pernah masuk brosur pariwisata atau headline media. Ia hanyalah sepetak ruang di tengah kota, tempat pohon pisang tumbuh subur, rumput ilalang menjulang tinggi, dan suara anak-anak kecil menjadi alarm alami setiap sore. Di sanalah aku belajar mengenal dunia, bukan dari layar besar atau gedung pencakar langit, melainkan dari tanah yang becek saat hujan, daun pisang yang robek tertiup angin, dan tawa yang memantul di antara rumah-rumah sederhana.

Surabaya memang kota besar. Secara administratif dan ekonomi, ia menjadi pusat aktivitas Jawa Timur. Pelabuhan Tanjung Perak menjadi salah satu nadi perdagangan terbesar di Indonesia. Jalan-jalan protokol seperti Jalan Tunjungan, Ahmad Yani, dan Basuki Rahmat selalu ramai, siang dan malam. Namun, kota ini tidak berdiri hanya dari beton dan aspal. Surabaya juga dibangun oleh kampung-kampung, oleh lorong-lorong sempit yang menyimpan kehidupan sosial yang hangat dan berlapis. Kampungku adalah bagian dari denyut itu—kecil, nyaris tak terlihat.

Setiap pagi di kampungku dimulai dengan suara yang khas: ayam berkokok, pintu rumah dibuka perlahan, dan sapu lidi yang bergesek dengan tanah. Tidak ada klakson kendaraan yang bersahutan, tidak ada suara mesin berat. Yang ada hanyalah ritme pelan kehidupan. Pohon pisang berdiri di beberapa sudut halaman, daunnya besar dan hijau, kadang sobek tak beraturan. Rumput ilalang tumbuh tanpa diminta, seolah menolak sepenuhnya tunduk pada keteraturan kota. Kampung ini hidup dengan caranya sendiri.

Sebagai anak kecil, kampung adalah dunia yang luas. Aku dan teman-teman berlarian tanpa alas kaki, bermain petak umpet di balik rumpun pisang, atau menyusuri jalan kecil yang dibatasi seng dan anyaman bambu. Sore hari adalah waktu paling dinanti. Matahari mulai condong, angin terasa lebih sejuk, dan satu per satu anak keluar rumah. Tidak ada gawai, tidak ada jadwal terstruktur. Yang ada hanyalah kebebasan bermain kelereng, lompat tali, atau sekadar duduk di tanah sambil bercerita hal-hal remeh yang kini terasa begitu berharga.

Kampungku mengajarkanku tentang kebersamaan. Di kota besar, individualisme sering dianggap lumrah. Namun di kampung, hidup adalah urusan bersama. Jika ada tetangga yang sakit, kabar itu cepat menyebar, dan bantuan datang tanpa diminta. Jika ada hajatan, semua ikut terlibat, memasak, menata kursi, atau sekadar menemani. Aku tumbuh dengan kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri, bahkan di tengah kota metropolitan.

Surabaya juga dikenal sebagai Kota Pahlawan. Sejarah perjuangan 10 November 1945 tertanam kuat dalam identitas kota ini. Namun, bagiku, kepahlawanan tidak hanya hidup dalam monumen atau buku sejarah. Ia hadir dalam sosok-sosok sederhana di kampung: orang tua yang bekerja keras, ibu-ibu yang menjaga keluarga, dan anak-anak yang belajar bertahan dengan keterbatasan. Kampungku mungkin tidak berteriak lantang tentang heroisme, tetapi ia mempraktikkannya setiap hari dalam bentuk keteguhan dan solidaritas.

Seiring waktu, Surabaya berubah. Kota ini berkembang pesat, mempercantik diri dengan taman-taman kota, ruang publik, dan infrastruktur yang semakin modern. Pemerintah kota gencar mendorong konsep kota ramah anak dan kota ramah lingkungan. Taman-taman seperti Taman Bungkul, Taman Harmoni, dan berbagai ruang terbuka hijau lainnya menjadi bukti bahwa Surabaya berupaya menyeimbangkan pembangunan dengan kualitas hidup warganya. Namun, di balik semua itu, kampung-kampung seperti tempat tinggalku tetap menjadi fondasi sosial yang penting.

Kampungku tidak selalu rapi. Dinding rumah kadang terbuat dari seng berkarat, kayu lapuk, atau anyaman bambu yang sudah menua. Namun, justru dari ketidaksempurnaan itu tumbuh keindahan yang jujur. Alam hadir tanpa filter, pohon pisang tumbuh liar, daun kering menumpuk di sudut halaman, dan hujan meninggalkan jejak lumpur. Semua itu membentuk lanskap yang sederhana, tetapi penuh karakter.

Aku belajar banyak dari lingkungan ini. Tentang kesabaran, karena hidup tidak selalu berjalan cepat seperti lalu lintas kota. Tentang empati, karena kedekatan antarwarga membuat kami saling memahami. Tentang ketahanan, karena keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Kampungku adalah sekolah pertama yang mengajarkanku nilai- nilai itu, jauh sebelum bangku pendidikan formal.

Menariknya, kampung di tengah kota seperti ini sering luput dari narasi besar tentang pembangunan. Padahal, di sinilah konsep kota ramah anak dan ramah budaya menemukan bentuk nyatanya. Anak-anak di kampungku tumbuh dengan ruang bermain alami, tanah lapang, halaman rumah, dan jalan kecil yang relatif aman. Mereka belajar bersosialisasi secara langsung, bernegosiasi saat bermain, dan menyelesaikan konflik kecil tanpa perantara layar. Ini adalah bentuk pembelajaran sosial yang sulit digantikan oleh fasilitas modern.

Dari sisi budaya, kampung menjadi ruang pelestarian nilai-nilai lokal. Bahasa sehari- hari, kebiasaan gotong royong, hingga tradisi kecil seperti ronda malam atau kerja bakti masih dijalankan. Di tengah arus globalisasi yang kuat, kampung menjadi benteng kultural yang menjaga identitas. Aku tumbuh dengan menyerap semua itu secara alami, tanpa merasa sedang “belajar budaya” semuanya hadir sebagai bagian dari hidup.

Surabaya mungkin kota metropolitan, tetapi pengalaman hidupku membuktikan bahwa kota besar tidak selalu dingin dan asing. Di sudut-sudutnya, terdapat kampung-kampung yang hangat, tempat manusia saling mengenal dan saling menjaga. Kampungku adalah bukti bahwa kemajuan kota tidak harus menghapus kesederhanaan. Keduanya bisa berjalan berdampingan, saling mengisi.

Kini, ketika aku melihat kembali foto-foto kampung, pohon pisang yang menjulang, seng berkarat yang bersandar, rumput ilalang yang tumbuh bebas, aku tidak melihat kemiskinan atau keterbelakangan. Aku melihat sejarah personal, ruang tumbuh, dan akar yang membentuk siapa diriku hari ini. Kampung itu mungkin kecil, tetapi pengaruhnya besar. Ia mengajarkanku untuk tetap membumi, meski hidup di kota yang terus bergerak maju.

Surabaya membesarkanku dengan dua wajah: wajah metropolitan yang dinamis dan wajah kampung yang tenang. Dari keduanya, aku belajar menyeimbangkan mimpi dan realitas, ambisi dan empati. Dan setiap kali aku mendengar suara anak-anak bermain di sore hari, entah di mana pun aku berada, aku selalu teringat kampung kecil di Surabaya itu, tempat aku belajar menjadi manusia.

Sebagai seseorang yang tumbuh dan besar di Surabaya, aku merasa bangga menjadi bagian dari kota ini, terutama karena keberhasilan kota ini menjadi tempat yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga peduli terhadap generasi muda dan pelestarian budaya. Meski aku tinggal di kampung yang sederhana, dengan pohon pisang yang rimbun, rumput ilalang yang menjulang, serta suara anak-anak yang bermain bermain di sore hari, aku tahu bahwa Surabaya memberikan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh, bermain, dan belajar dalam lingkungan yang sehat, aman, dan penuh nilai budaya.

Kehidupan sederhana yang kuberada di kampungku justru memperkaya pengalaman hidupku: aku belajar tentang kehormatan, kebersamaan, gotong-royong, dan cara menghargai budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari. Dari bermain di antara rumpun ilalang hingga menyapa tetangga dengan ramah, aku belajar hal-hal yang tidak bisa diajarkan di sekolah atau di tempat lain.

Ketika aku melihat bagaimana kota ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang dan bagaimana warisan budaya dipertahankan melalui komunitas dan kegiatan publik, aku semakin yakin bahwa Surabaya bukan hanya kota metropolitan besar, tetapi juga kota yang peduli terhadap masa depan anak-anaknya dan identitas budayanya.

Terbiasa hidup berdampingan dengan halaman rumah. Tidak luas, tidak pula berubin rapi. Halaman itu adalah tanah yang kadang keras di musim kemarau dan becek saat hujan turun. Di sanalah aku sering keluar rumah pada siang hari, membawa sapu lidi, membersihkan dedaunan kering yang gugur dari pohon pisang atau tanaman liar yang tumbuh tanpa diminta. Membersihkan halaman bukanlah kewajiban berat bagiku, melainkan rutinitas yang perlahan membentuk kebiasaan hidup sederhana dan penuh kesadaran.

Siang hari di kampungku terasa pelan. Matahari Surabaya memang terkenal terik, namun kampung ini memiliki caranya sendiri untuk membuat panas terasa lebih manusiawi. Bayangan pohon, angin kecil yang menyelinap di sela-sela rumah, serta suara kehidupan yang tidak terburu-buru membuat siang hari menjadi waktu yang hening. Saat menyapu halaman, aku sering berhenti sejenak, mengusap keringat, lalu memandang sekitar. Tidak ada gedung tinggi yang menjulang, hanya rumah-rumah sederhana, dinding seng, kayu tua, dan anyaman bambu yang menyatu dengan alam.

Aku tumbuh dengan kesadaran bahwa halaman rumah bukan sekadar ruang kosong. Ia adalah perpanjangan dari hidup kami sekeluarga. Di sanalah kami menjemur pakaian, menanam tanaman seadanya, dan duduk bersama saat sore mulai datang. Membersihkan halaman mengajarkanku bahwa merawat ruang kecil adalah bagian dari merawat diri sendiri. Kesederhanaan itu melekat hingga kini, bahkan ketika dunia di luar kampung semakin cepat dan kompleks.

Sore hari adalah waktu yang paling aku tunggu. Setelah panas siang perlahan surut, aku akan keluar rumah lagi bukan untuk bekerja, melainkan untuk sekadar menghirup angin segar sore hari. Angin itu tidak kencang, tetapi cukup untuk membawa aroma tanah, daun, dan kehidupan kampung. Sore di kampungku selalu terasa ramah. Anak-anak mulai bermain di luar rumah, suara tawa mereka menggema di jalan kecil, memantul dari satu dinding ke dinding lainnya.

Aku sering duduk di depan rumah, memperhatikan perubahan warna langit. Dari biru terang menjadi jingga lembut, lalu perlahan gelap. Tidak ada yang istimewa secara visual seperti matahari terbenam di pantai, namun suasana ini memiliki keindahan yang sulit dijelaskan. Keindahan yang lahir dari kebiasaan, dari kehadiran, dari kesediaan untuk berhenti sejenak dan merasakan waktu.

Sebagai anak kampung di kota besar, aku terbiasa hidup di antara dua dunia. Di satu sisi, Surabaya adalah kota dengan ritme cepat, penuh ambisi dan persaingan. Di sisi lain, kampungku mengajarkanku untuk hidup pelan, sederhana, dan bersahaja. Aku tidak tumbuh dengan kemewahan, tetapi aku tumbuh dengan keakraban. Aku mengenal tetanggaku, tahu kebiasaan mereka, dan belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.

Kampung mengajarkanku untuk keluar rumah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial. Keluar halaman berarti siap menyapa, siap berbagi cerita, siap mendengar kabar orang lain. Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan kami satu sama lain. Hubungan antarwarga terbangun secara alami, tanpa dibuat-buat. Dari situ aku belajar arti kebersamaan yang sesungguhnya.

Aku bangga menjadi anak kampung. Identitas itu bukan sesuatu yang ingin kusamarkan, justru ingin kupegang erat. Kampung membentuk caraku memandang dunia. Ia mengajarkanku untuk menghargai hal-hal kecil: angin sore, halaman bersih, suara langkah kaki di tanah, dan waktu yang berjalan tanpa tergesa. Semua itu membentuk kepekaanku terhadap lingkungan dan manusia.

Hidup sederhana bukan berarti hidup kekurangan. Justru dari kesederhanaan, aku belajar cukup. Aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari rutinitas kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Membersihkan halaman di siang hari dan duduk menghirup angin sore adalah bentuk dialog sunyi antara diriku dan hidup.

Kini, ketika aku melihat kembali masa kecilku di kampung Surabaya, aku menyadari bahwa semua kebiasaan sederhana itu telah membentuk fondasi diriku hari ini. Aku mungkin hidup di kota besar, bergerak di dunia yang cepat dan digital, tetapi jiwaku tetap berakar di kampung. Di halaman rumah yang pernah kusapu, di sore hari yang pernah kuhirup dengan penuh syukur.

Aku hidup di Surabaya, kota yang setiap hari berlari. Pagi dimulai dengan deru kendaraan, siang dipenuhi panas yang menempel di kulit, dan malam ditutup oleh lampu- lampu yang tidak pernah benar-benar padam. Namun di balik semua itu, aku tahu, Surabaya masih bernapas. Nafasnya mungkin tidak panjang, mungkin mulai terengah, tetapi ia masih ada, di sela pepohonan, di tanah yang belum tertutup semen, dan di genangan air hujan yang belum sepenuhnya kehilangan arah pulangnya.

Aku menyaksikan kota ini dari dekat, bukan dari balik kaca gedung tinggi, tetapi dari permukaan tanah. Dari halaman-halaman rumah, dari jalan yang masih mengenal lumpur, dari kawasan yang setiap musim hujan berdoa agar air tidak naik terlalu cepat. Darmo, Margomulyo, nama-nama itu bukan sekadar titik di peta. Ia adalah cerita yang berulang setiap tahun, tentang air yang datang tanpa diundang, tentang rumah yang harus bersiap menerima basah.

Ketika hujan turun deras, aku sering teringat pada berita dari jauh, tentang banjir bandang di Aceh, tentang air yang datang membawa tanah, batu, dan kehilangan di Sibolga. Berita itu seperti cermin yang dipasang jauh di depan, memperlihatkan kemungkinan yang bisa saja terjadi di mana pun. Deforestasi, kata orang-orang. Penggundulan hutan, kata laporan. Tapi bagiku, itu terasa lebih sederhana dan lebih menyakitkan: alam yang kehilangan tempat berpijak, lalu mencari jalan pulang dengan cara yang paling keras.

Surabaya belum separah itu. Belum. Masih ada ruang-ruang hijau yang bertahan, area yang belum seluruhnya ditaklukkan oleh nama-nama besar investor perumahan. Tanah-tanah yang diam, menyimpan air, menahan hujan agar tidak langsung berubah menjadi banjir. Setiap kali aku melewati kawasan seperti itu, aku merasa sedang berjalan di atas harapan— harapan bahwa kota ini masih diberi kesempatan untuk memilih jalan lain.

Namun aku juga melihat ancaman itu mendekat. Papan proyek berdiri di lahan yang dulunya sunyi. Tanah diratakan, pepohonan hilang satu per satu, digantikan janji-janji hunian modern dan kawasan prestisius. Kota tumbuh, kata mereka. Tapi tumbuh seperti apa? Apakah tumbuh berarti mengikis? Apakah maju selalu harus menyingkirkan yang hijau?

Sebagai warga Surabaya, aku hidup di antara rasa bangga dan cemas. Bangga karena kotaku terus bergerak, membangun, dan menjadi tujuan banyak orang. Namun cemas karena aku tahu, tidak semua yang bergerak berarti melangkah ke arah yang benar. Setiap musim hujan, kecemasan itu muncul kembali. Air naik perlahan, selokan meluap, dan kota seperti mengingatkan: ada yang tidak seimbang.

Aku bertanya-tanya, apakah pemerintah kota mendengar suara ini? Suara yang tidak selalu lantang, tetapi konsisten. Suara tanah yang jenuh menampung air, suara sungai yang dipersempit, suara warga yang setiap tahun memindahkan barang ke tempat lebih tinggi. Kami tidak meminta kota berhenti berkembang. Kami hanya berharap kota ini berkembang dengan ingatan—ingat pada alam yang menopangnya.

Pembangunan berkelanjutan bukanlah istilah asing. Ia sering diucapkan, ditulis di dokumen, dipresentasikan di forum. Namun bagiku, pembangunan berkelanjutan adalah ketika hujan bisa turun tanpa membawa ketakutan. Ketika ruang hijau tidak dianggap sebagai sisa, melainkan sebagai kebutuhan. Ketika keputusan pembangunan tidak hanya dihitung dari angka keuntungan, tetapi juga dari kemampuan kota untuk bertahan hidup.

Aku membayangkan Surabaya yang memilih untuk menjaga. Kota yang menahan diri untuk tidak serakah. Kota yang menyadari bahwa hutan kecil, lahan kosong, dan rawa-rawa yang tersisa adalah benteng terakhir sebelum air benar-benar mengambil alih. Kota yang belajar dari Aceh, dari Sibolga, tanpa harus mengalami luka yang sama.

Di dalam kota ini, aku hidup. Aku bernapas bersama debunya, berjalan bersama panasnya, dan berharap bersama hujannya. Aku ingin tetap percaya bahwa Surabaya bisa memilih menjadi kota yang ramah, bukan hanya ramah pada manusia, tetapi juga pada alam. Karena kota yang kehabisan ruang hijau adalah kota yang perlahan kehilangan masa depannya.

Bisakah kita mempertahankan keasrian Kota Surabaya? Pertanyaan itu masih menggantung di udara, seperti awan gelap sebelum hujan. Jawabannya belum pasti. Tetapi selama masih ada tanah yang menyerap air, selama masih ada warga yang peduli, dan selama masih ada keberanian untuk berkata “cukup”, aku ingin percaya: Surabaya masih bisa bernapas.

Ada hari-hari ketika aku berangkat kerja dengan dada yang terasa sesak. Bukan karena lelah, tetapi karena udara yang harus kuterima sebelum sempat menarik napas panjang. Asap kendaraan mengepul di wajahku, bercampur panas dan debu jalanan, memenuhi rongga paru-paruku seolah kota ini lupa caranya bernapas dengan lembut. Di tengah arus kendaraan yang tak henti bergerak, aku berjalan seperti menyusuri kabut kelabu, menjadi bagian dari kota yang terus berlari, namun perlahan melukai penghuninya.

Pulang kerja sering kali tidak lebih ramah. Langit tiba-tiba gelap, hujan turun tanpa aba-aba, dan jalanan berubah menjadi cermin air yang memantulkan kegelisahan. Aku melangkah hati-hati, berusaha menghindari genangan, takut banjir yang masih kerap terjadi di Surabaya menjebakku di perjalanan pulang. Air mengalir ke mana-mana, mencari jalan sendiri, seolah menagih ruang yang dulu pernah direnggut darinya. 

Di saat-saat seperti itu, hatiku pilu. Aku bertanya dalam diam: sadarkah kita semua bahwa kota ini sedang meminta tolong? Menanggulangi banjir bukan semata tugas pemerintah. Tembok, saluran, dan kebijakan tidak akan cukup jika warganya berpaling. Kota adalah kita—cara kita memperlakukannya menentukan bagaimana ia bertahan.

Aku memilih memulai dari hal kecil. Saat berjalan, aku memungut sampah yang kutemukan di jalan, meski bukan aku yang menjatuhkannya. Aku menahan diri untuk tidak membuang apa pun sembarangan, sekecil apa pun. Di halaman rumah, aku menanam tanaman memberi tanah kesempatan untuk bernapas, memberi air tempat untuk kembali meresap. Barangkali sederhana, barangkali tak terlihat. Namun aku percaya, kota diselamatkan bukan oleh satu tangan besar, melainkan oleh banyak tangan yang mau peduli.

Penulis: Putu Dewi Parasetia Anggligan, penulis muda yang menaruh perhatian pada kota.

Editor & Ilustrator: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya