Hiruk pikuk perkotaan dan padatnya lalu lintas Kota Surabaya bukanlah suatu hal yang aneh. Pemandangan jalanan yang selalu ramai dan macet di jam kerja, dipenuhi oleh kendaraan roda dua maupun roda empat yang berlatar belakang gedung-gedung mewah adalah suatu pemandangan yang biasa ditemui. Namun di balik padat dan gemerlapnya suasana perkotaan, hanya perlu melangkah beberapa meter masuk ke celah gang, suara
suara modernitas itu mendadak lamat, berganti dengan aroma jemuran basah dan suara riuh para tetangga yang berbincang di teras rumah.
“Bu, iki kabeh diseleh nang kranjang?” (Bu, ini semua ditaruh di keranjang?)
“Iyo, dekekno kabeh ae!” (Iya, taruh saja semua!) jawab sang ibu.
Riani, seorang perempuan muda berusia lima belas tahun itu kini tengah membantu ibunya menyiapkan barang-barang dagangan untuk di jual di depan gang, memasukkan jajanan-jajanan ringan ke dalam keranjang, lalu membawanya berdampingan dengan ibunya yang membawa satu baskom penuh berisi gorengan. Di hari sekolah Riani biasanya hanya akan membawakan barang dagangan ibunya ke depan gang lalu pulang kembali ke rumah untuk berangkat sekolah. Namun di hari Minggu, Riani berencana akan menemani ibunya untuk berdagang dari pagi hingga sore.
Sinar matahari perlahan mulai menyoroti gardu kecil tempat Riani dan ibunya duduk. Suara riuh mesin motor terdengar berdatangan memasuki kawasan gang tempat Riani dan ibunya berjualan. Tempat tinggal Riani memang dekat dengan sebuah pusat perbelanjaan yang selalu ramai didatangi oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Tunjungan Plaza.
Pusat perbelanjaan yang sudah berdiri sejak tahun 1986 itu berhasil menunjukkan eksistensinya dengan mendapat julukan sebagai pusat perbelanjaan terbesar ke-2 di Indonesia. Kendaraan bermotor yang datang ke kawasan gang tersebut rupanya milik para karyawan yang bekerja di sana. Entah mengapa, mereka lebih memilih untuk memarkirkan motor mereka di depan toko ataupun di depan rumah warga yang menyediakan lahan untuk parkir.
“Bu, gorengannya tiga sama lontong dua, ya!” seru Adi, salah satu pelanggan setia gorengan Ibu Riani yang juga merupakan salah satu karyawan di Tunjungan Plaza.
Ibu Riani mengangguk dan muai membungkus tiga gorengan dan lontong untuk Adi. Laki-laki berusia sekitar dua puluh tahunan itu pun langsung membayar dan ikut duduk di gardu sambil memakan gorengan yang telah dibelinya.
“Gak langsung kerjo ta, kamu?” tanya Ibu Riani heran.
Biasanya setelah membeli gorengan, Adi akan langsung pergi ke dalam mall untuk memulai pekerjaannya, pemandangan ia yang kini ikut duduk di gardu sambil memakan gorengan tentu adalah hal yang baru bagi Riani dan ibunya.
“Sek isuk, Bu. (Masih pagi, Bu). ‘kan, aku mulai kerja jam delapan, sekarang masih jam tujuh,” jawab Adi.
Riani dan ibunya mengangguk. Benar juga, hari ini Adi datang lebih awal dari biasanya.
Hening. Tak ada lagi percakapan setelah itu. Riani menatap Adi yang masih asyik memakan gorengannya. Sebenarnya ada satu hal yang dari dulu selalu ingin ia tanyakan kepada Adi, namun Riani tidak pernah sempat menanyakannya karena laki-laki itu selalu pergi terburu-buru. Melihat Adi yang kini tengah duduk di hadapannya, Riani jadi berpikir, haruskah ia menanyakannya sekarang?
“Mas Adi,” panggil Riani.
“Iyo, lapo?” sahut Adi mengalihkan perhatiannya kepada Riani.
“Aku penasaran deh, Mas., sampean kok sarapane mesti gorengan karo lontong ae, terus waktu istirahat aku sering ndelok sampean mrene (lihat kamu ke sini) terus mangan siang nang warteg, kenapa gak makan di dalam mall ae, Mas? Lak yo enak-enak se panganane nang njero, (‘Kan, pasti di dalem makanannya enak-enak),” ucap Riani mengungkapkan keheranannya.
Adi tertawa, merasa lucu dengan pertanyaan Riani yang benar-benar polos, “Iyo sih (Iya memang sih) di dalem makanannya enak-enak, tapi yo pastinya mahal-mahal juga,” jawab Adi. “Gaji karyawan koyok aku kalo uangnya dipakai makan di sana tiap hari, yo iso tekor nanti,” lanjutnya.
“Tapi yo jelas gajine karyawan luwih gedhe ‘kan timbang bakul gorengan,” (Tapi ya jelas gajinya karyawan lebih gede, ‘kan, ketimbang penjual gorengan) sahut Ibu Riani bermaksud bercanda.
Adi tertawa lagi, “Iyo sih, Bu, mung gaji karyawan yo gak luwih gede timbang gajine wong sing blonjo nang mall iku, (Iya sih, Bu, cuma gaji karyawan juga gak lebih
gede daripada gajinya orang yang belanja di mall itu), aku dateng ke mall buat nyari duit, mereka dateng ke mall buat ngabisin duit,” jawab Adi. “Sik kudu bayar kos karo bensin, durung nggo mangan saben dino, (Masih harus bayar uang kos sama bensin, belum buat makan sehari-hari). Duh, nasib anak rantau.”
Ibu Riani tersenyum, “Wis, sing sabar ae, gak usah dipikir nemen-nemen,” ucapnya memberi semangat.
Adi mengangguk. Ia pun berpamitan kepada Riani dan ibunya karena sebentar lagi waktunya masuk kerja. Riani menatap punggung Adi yang perlahan menghilang di balik belokan.
Dulu, Riani selalu merasa iri kepada Adi dan juga karyawan-karyawan mall yang lain, ia berpikir bahwa mereka beruntung karena bisa masuk ke dalam gedung mewah tersebut sesuka hati mereka. Berbeda dengan dirinya yang meskipun rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari kawasan mall tersebut, Riani sama sekali belum pernah menginjak halaman gedung mewah tersebut, seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalangi, yang menjadi pembatas antara kehidupan modern orang-orang berada dan kehidupan
sederhana orang-orang pinggiran, membuat jarak yang dekat itu terasa seperti jauh. Sekarang setelah ia mendengar penuturan Adi, Riani jadi semakin merasa jauh dengan kehidupan modern tersebut, menyadari bahwa orang-orang yang sudah berada di kawasan modernitas seperti Adi pun ternyata masih memiliki jarak dengan kehidupan modern yang sesungguhnya.
Benar, selalu ada pembatas antara kehidupan mereka yang modern dengan kehidupan orang-orang yang berada di pinggiran. Dinding tak kasat mata itu pasti selalu ada untuk menjadi pemisah, membuat mereka yang modern semakin maju, dan yang berada di pinggiran semakin terpinggirkan.
“Bu, kiro-kiro aku iso gak yo masuk ke mall itu?” Riani bertanya kepada ibunya.
Sang ibu tersenyum, “Insyaallah yo, Nduk. Ibu doakan semoga suatu hari kamu bukan cuma bisa masuk ke sana, tapi kamu juga bisa pergi ke manapun yang kamu mau,” jawab sang Ibu.
Riani tersenyum. Benar, dinding tak kasat mata itu memang ada, namun bukan berarti ia tak bisa menembusnya. Riani yakin jika ia berusaha dengan sungguh-sungguh, suatu hari dinding tak kasat mata itu pasti akan bisa ia lewati.
Penulis: Felisa S.N
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest
