Lentera Hijau di Ujung Kampung

Kota metropolis yang biasa di selimuti kemacetan itu seketika lenggang. Deru suara ambulan masih saja berputar putar, menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan orang. Di tepi Surabaya yang menjadi transisi pembangunan kota, dua remaja –Gendu dengan workshop sablonnya di Sidoarjo dan Dolla dengan kameranya–  yang sering wara wiri keluar kota untuk urusan pekerjaan dan menjadi pegiat literasi di salah satu taman baca di Mojokerto, merasakan keterkurungan. Hari demi hari yang mereka lalui terasa sangat membosankan sebab di rumah saja.

Pagi yang lumayan terik dan rutinitas yang tak lagi menarik mereka lewati dengan menjadi pelanggan warkop di ujung kampung halamannya. Akibat pembatasan aktifitas kala itu, dua sahabat kecil yang sedang merintis usaha mandiri ini mendadak nganggur dalam beberapa bulan dan pekerjaannya terancam lumpuh.

“Dua project event ku kena pending, Ndu. Gara-gara peraturan baru pemerintah yang melarang orang berpergian keluar kota”.

Kopi panas yang masih berkelindan asap menemani mereka pagi ini. Benak Dolla masih hangat berisi kabar buruk penundaan project foto ghatering sebuah kantor di Jawa Barat yang membuatnya harus memutar otak untuk beralih usaha. Situasi dan kondisi menuntutnya untuk mencari rutinitas baru yang paling tidak bisa untuk mengalihkan kesuntukannya sebab hari libur yang lumayan panjang.

Gendu yang sedari tadi hanya melihati nyala ujung pangkal kreteknya akhirnya menyambung obrolan, “Workshopku juga harus terpaksa tutup, Doll, sebab jalanan kampung di portal dan hanya dibatasi warga yang menetap yang bisa masuk. Diperbolehkan masuk asal membawa hasil tes swab yg berlaku 2×24 jam. Tapi kamu tahu sendiri, lah. Harganya itu agak gak masuk akal dengan kondisi yang agak kacau ini.”

Sesapan kopi pertama mendarat di bibir Dolla, “Orang-orang ketakutan betul dengan virus ini, Ndu. Beberapa tetanggaku yang mempunyai riwayat penyakit terpaksa di karantina di puskesmas kampung. Padahal mereka tidak merasakan gejala yang sama dengan virus ini.”

Gendu yang masih memikirkan nasib workshopnya, hanya memutar-mutar rokok kretek di tangannya. Sembari mengembuskan napas, Dolla kembali menimpal, “Aku jadi kasihan melihat anak-anak mereka, Ndu. Ya, meskipun setiap hari dapat kiriman makanan dari pihak kelurahan, tapi keluarga mereka jadi trending topik pembahasan di kampung.”

Semilir angin datang dari guNdukan kecil yang di tumbuhi banyak pohon lamtoro dan asem di tengah kampung mereka. Gendu mencoba menikmati suasana. Ia menyelonjorkan kaki ke bangku panjang yang lenggang sebab tanda silang disetiap jarak satu meternya. Kemudian berkata.


“Beberapa tetanggaku juga mengalami nasib yang sama, Doll. Mereka dijemput orang-orang dengan pakaian APD lengkap dan seluruh sudut rumahnya disemprot menggunakan disinfektan.”

Kondisi yang sangat mencekam kala itu membuat beberapa orang saling melaporkan tetangganya yang diduga sedang mengalami gejala sakit. Petugas kesehatan yang turut mempertebal suasana dengan penjemputan paksa serta teror suara sirine, membuat banyak orang mengalami gangguan psikis.

“Akhir-akhir ini sekolah juga sudah mulai masuk, hanya saja melalui daring.  Keponakanku yang orang tuanya agak gaptek sedikit kerepotan karna harus mengakses zoom meet untuk menerima pelajaran dan tugas baru.” Ucap Gendu yang keluar berdampingan dengan kepulan asap pertamanya.

Dolla yang masih sibuk dengan tumpukan pesan dari grup wa kerjanya hanya menyimak Gendu yang masih antusias membicarakan keadaan yang sedang terjadi tanpa sepatah katapun.

“Tapi akibat mereka sering berinteraksi dengan gadget, habit bermain mereka jadi hilang, Doll. Mereka lebih nyaman menghabiskan waktu dengan menonton yutup dan bermain game online.”

Dolla yang masih terpaku pada layar ponselnya mulai tertarik dengan pembicaraan Gendu, ia mencoba mengingat ulang bagaimana serunya masa kecilnya yang ia nikmati dengan bermain layang-layang, gobak sodor, juga sepak bola dilapangan yang sedang ada didepannya, dan merasakan betapa menyedihkannya jika masa kecil dilalui hanya dengan menatap layar ponsel. Sebab permainan yang dilakukan dengan berinteraksi langsung dengan teman sebaya tak kalah menyenangkan dibanding dengan permainan yang ada dilayar gadget. Selain mengasah motorik gerak pada anak, dolanan bareng semacam itu menumbuhkan rasa empati terhadap satu sama lain.

***

Matahari sudah hampir diatas kepala, mereka berdua sepakat menyudahi pertemuan kali ini dan akan bertemu dilapangan sore nanti. Sesampainya dirumah, Dolla yang masih bertahan dengan ingatan masa kecilnya mencoba membongkar koleksi buku cerita yang ia simpan digudang, beberapa masih utuh namun sisanya sudah jadi debu sebab menjadi santapan rayap. Ia kumpulkan satu demi satu koleksi buku yang ia punya.

Tak butuh waktu lama Dolla sudah berada di ruang tamu dengan tumpukan buku berjenis komik, novel, dan pengetahuan umum. Bolpen yang sedari tadi ia simpan di pelipis telinganya, mulai ia gunakan untuk menulis daftar buku serta jumlah yang terkumpul.

Sebuah rak buku usang setinggi orang dewasa ia dirikan. Beberapa permainan tradisional seperti dakon, bola bekel, lompat tali, dan bakiyak panjang yang ia simpan juga sudah berada diruang tamu. Ibunya yang bingung dengan kondisi ruang tamu yang berantakan mencoba bertanya pada anaknya.

“Ngapain kok dikeluarkan semua bukunya, Le? Mau di jual ke loak? Jangan, Le, eman-eman!”

“Enggak, Bu,” sahut Dolla.”Aku mau bikin taman baca di teras rumah. Boleh kan, Bu?”

Ibu Dolla yang merasa aneh dengan ide Dolla mencoba meyakinkan apa yang barusan diucapkan anaknya yang putus sekolah semenjak SMP akibat salah pergaulan. Kala itu, Dolla sangat jarang pulang ke rumah. Ibu berpikir kalau putranya itu menghabiskan hari-harinya untuk bermain dengan teman-temannya. Sesekali pamit ketia ia hendak melakukan pendakian atau pergi keluar kota. Tanpa ibu tahu bahwa anaknya yang dicap bandel ini sering berkecimpung dibeberapa sanggar dan taman baca masyarakat. Ia juga sering mengikuti pelatihan seperti pengolahan sampah, pembibitan dan reboisasi hutan, workshop kerajinan, hingga yang terakhir ia mengikuti pelatihan Navigasi Darat selama empat bulan untuk menambah wawasannya tentang Pencarian dan pertolongan dihutan.

“Lha wong kamu ini gak sekolah kok akal-akalan bikin perpustakaan, toh, Le?” Ibu menimpali.

“Aku memang gak sekolah, Bu, tapi aku gak berhenti belajar.” Tandas Dolla.

“Terus mau diajak ngapain anak-anak yang datang keperpusmu nanti? ” Ibu mencoba meyakinkan keputusan Dolla.

“Yaa sementara bisa diajak mengenal permainan tradisional dulu, Buk, biar nggak melulu main gadget. Kan, sekarang juga sudah jarang ada yang tau permainan-permainan tradisional seperti dakon, bola bekel, dll. Sembari mengembalikan kebiasaan mereka pada dolanan bareng nanti pelan-pelan mulai tak selipin kegiatan mengolah kerajinan dari barang bekas.”

Tanpa jawaban sepatah katapun Ibu mencoba membantu membereskan buku-buku dan menata dirak yang sudah Dolla siapkan, seakan ibu mendukung niat baik anaknya. Siang itu, ibu dan Dolla terbenam dalam diskusi panjang, berbagai aktivitas yang belum ibu ketahui dari anaknya perlaham mulai ibu pahami, juga alasan kenapa anaknya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah mulai ibu terima. Selain karena kurang cocok dengan cara pengajaran yang diterapkan disekolahnya kala itu, ternyata Dolla sudah lebih dulu memilih apa yang ingin ia pelajari.

Terik matahari siang itu mulai menurunkan derajatnya, dan mungkin ibu hampir lupa kapan terakhir kali ia memiliki suasana sehangat ini dengan anak sulungnya.

***

Sore dilapangan kampung, Gendu datang lebih awal. Ia memunguti pecahan kaca yang berceceran dilapangan yang hampir mengenai kakinya yang telanjang.

Dari kejauhan Dolla melihat Gendu yang sedang membungkuk memunguti pecahan kaca, tanpa basa basi ia langsung mengikuti apa yang sedang Gendu lakukan.

“Sembarangan sekali orang-orang ini, Doll, pantesan jarang ada anak kecil yang mau main dilapangan ini sekarang.” Gendu mulai mengeluarkan umpatan yang sedari tadi ia tahan.” Iya, Ndu, bahaya juga kalau mereka bermain dengan kondisi lapangan yang banyak sampah pecahan kaca dan kayu bekas bangunan seperti ini.” Yang mereka ingat lapangan ini dulu masih sangat bersih dari sampah, di penuhi rumput jika musim kemarau dan menjadi lapangan berlumpur yang sangat menyenangkan dijadikan wahana bermain jika musim hujan tiba.

Dua plastik besar terkumpul berisi penuh dengan pecahan kaca dan paku. “Kita coba liat diatas gunung, Ndu, barangkali masih banyak sampah kacanya”.

Mereka berdua bergeser keatas gundukan kecil setinggi rumah berlantai dua yang didominasi tumbuhan kaktus dan pohon lamtoro. Gundukan yang disebut ‘gunung’ oleh orang-orang kampung ini menjadi cikal bakal toponimi penamaan kampung Gunung Anyar.

Gunung ini masih sering mengeluarkan lumpur berwarna abu-abu yang memiliki bau seperti lumpur Lapindo yang ada di Sidoarjo. Menurut orang tua jaman dulu arah luberan lumpur ini menjadi sebuah pertanda kondisi pertanian atau bahkan pagebluk yang akan melanda kampung Gunung Anyar. Biasanya, setahun sekali ada tradisi bersih desa yang dilakukan dengan mengelilingi kampung disertai bacaan doa dan dzikir, lalu di adzani di setiap sudutnya yang menghadap pada empat arah mata angin.

Namun saat kondisi pandemi covid melanda tradisi itu sempat dihilangkan untuk sementara, sebab ketakutan dan kepercayaan manusia terhadap tuhannya yang mulai menipis. Bahkan musala dan masjid sempat ditutup untuk mengurangi penyebaran virus.

Langit sore mulai berwarna kuning keemasan, Gendu dan Dolla sudah berada diatas gunung. Mereka menyaksikan perubahan gunung yang sangat drastis. Pohon-pohon besar tempat mereka bermain dulu sudah banyak yang ditebang, entah siapa yang melalukannya, yang pasti ulah manusia yang kurang kesadaran.

Kupu-kupu yang dulu sering berterbangan dan tak kenal musim juga enggan menampakan diri, bahkan springbed rusak yang tak seharusnya berada disini bertengger santai ditengah hamparan kaktus epek-epek.

Gendu dan Dolla masih diliputi kebingungan menyaksikan kondisi gunung yang sangat berubah dari yang mereka ingat.

“Berapa tahun kita tidak menginjakkan kaki digunung ini, Ndu? ” Dolla mencoba mengingat lagi kapan mereka terakhir bermain diarea gunung.

“Ya, sekitar 9 tahunan, Doll, semenjak kita lulus SD.”

“Kalau dibiarkan seperti ini, Ndu. aku yakin, tiga sampai lima tahun mendatang gunung ini akan kehilangan keasriannya.” Dolla dan Gendu yang sedari tadi mengamati perubahan gunung dari hilangnya pohon-pohon besar dan cara orang-orang memperlakukan gunung ini mulai pesimis dengan kondisi keasrian gunung yang ada dikampung halamannya.

“Lebih buruk dari itu, jika dibiarkan terus menumpuk, sampah-sampah ini bisa membuat gunung hilang dan di alihfungsikan menjadi tempat penampungan sampah, Doll.” Gendu yang mulai membaca potensi yang mungkin akan terjadi.

Lahan seakan menemukan jawaban atas perilaku manusia yang sengaja menganggap gunung dan lapangan ini sebagai lahan mati yang tak bertuan dan lebih cocok menjadi tempat penampungan sampah atau lahan parkir mobil pribadi. Terbukti dibeberapa sudut lapangan memang sudah terparkir beberapa mobil pribadi dan gerobak kaki lima.

“Kalau memang itu yang akan terjadi, Ndu. Kita harus lebih cepat dari mereka sebelum ketakutan-ketakutan ini menjadi kenyataan!” Dolla seakan menangkap apa yang Gendu maksut.

“Baiklah, atas kealpaan kita merawat kampung halaman, mulai besok kita bersihkan sampahnya dan mulai menanam Doll.”

“Sepakat!”

Tanpa pikir panjang mereka saling menanam kesadaran, bahwa kampung halaman, tempat dimana mereka dibesarkan, harus dijaga. Sebab yang mereka tau, baik buruknya dampak lingkungan, bergantung pada manusia yang hidup disekitarnya.

***

Langit sudah berwarna jingga kemerah-merahan, mereka beranjak pulang dengan membawa nyala merah langit sore itu didadanya masing-masing.

Setelah lulus dari sekolah dasar kedua sahabat kecil ini memang mulai jarang bertemu, Gendu yang melanjutkan sekolah di SMP Negeri dengan fullday-nya dan Dolla yang terpaksa harus menuruti kemauan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan disalah satu pesantren, di daerah Malang.

Namun setelah mereka selesai dengan pendidikannya masing-masing, mereka lebih sering bertemu di beberapa komunitas pegiat kesenian dan lingkungan, mereka juga sering terlibat dalam kegiatan literasi anak di taman baca yang di dirikan oleh Ebiet –pemuda asal Kemlagi, Mojokerto, pemilik taman baca yang sering ia kunjungi beberapa tahun terakhir ini sebelum wabah covid melanda dan membuat mereka tak bisa berkegiatan rutin lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dua minggu berlalu, Gendu dan Dolla masih menggelorakan semangatnya seperti sore kala itu. Setelah selesai dengan urusan sampah yang menumpuk di lapangan dan di atas gunung, mereka mulai mengumpulkan beberapa tanaman berjenis cemara udang dan beringin.

Beberapa anak kecil sekitaran rumah Dolla juga mulai sering berkumpul diteras rumah yang kini ia jadikan sebagai tempat bermain dan membaca. Griyo Maos. Begitu mereka menyebutnya. Habitat alternatif kampungan yang memberikan edukasi melalui dongeng ringan dan kesadaran lingkungan.

***

Memasuki minggu ketiga, Gendu dan Dolla mulai mengajak teman-teman kecil mereka untuk menanam pohon di area gunung. Bukan perkara mudah memang, beberapa orang tua yang memiliki kekhawatiran sebab vegetasi gunung yang di dominasi dengan tumbuhan kaktus, menjadikan sebagian anak tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan menanam.

Belum lagi soal hewan liar dan benda-benda tajam yang berpotensi melukai anak mereka sebab yang mereka tau lapangan gunung sudah menjadi tempat pembuangan barang rusak dan tak terpakai. Namun Dolla dan Gendu bersedia untuk memintakan izin ke masing-masing orang tua mereka dengan bersedia menjadi penanggung jawab selama mereka berkegiatan diarea lapangan dan gunung.

Mereka sangat berantusias. Sore itu setelah mengambil bibit seukuran tongkat pramuka di Griyo Maos besama sekitar dua puluh anak dan delapan remaja seumuran Dolla, mereka berangkat bersama menuju gunung. Dengan lubang sesuai jumlah bibit yang sudah mereka siapkan di hari-hari sebelumnya. mereka mulai menanam harapan pada lahan terbuka hijau satu-satunya yang ada di kampung halaman mereka.

Hari ini kami menanam doa,
Di tengah terpaan badai dan batu cadas,
kupunguti niatnya dari kepingan angan yang segar sekaligus purba.
Aku dan anak-anak merawat gunung,
anak-anak dan gunung: merawat rasa cintaku yg berani
Padamu, matahari yang sebentar lagi terbenam,
Aku titip rindu pada air laut yg menguap,
naik menjadi awan,
dan turun sebagai hujan.
Padamu,matahari yg sebentar lagi terbenam,
Sampaikan rinduku pada padang rumput,
lebat pohon dan ladang kaktus,
yang oleh burung, kupu-kupu dan tikus di jadikan tempat bersarang.
Padamu matahari yang kini sudah tenggelam,
sampaikan maafku pada padang rumput, lebat pohon, dan ladang kaktus
yang oleh orang-orang ingin di keruk tanahnya,
di gunduli hutannya, dan di kotori hamparannya.
Tapi tenang, bung!
Kami serupa kayu bakar,
dan anak-anak adalah bara api.
Kini doa sudah kami tanam,
ku lubangi tanahnya dengan jarum jam.
Semoga kata kata menjadi nyata,
di suatu masa yg masih jadi cita cita.

Tulis Dolla sore itu. Tak hanya selesai disitu, Semenjak lapangan mulai terlihat bersih, beberapa anak juga mulai terlihat sering bermain sepak bola dan layang-layang. Mereka merasa aman sebab Dolla, Gendu dan kawan-kawan sebayanya juga sering berada di area gunung untuk sekedar menyirami tanaman atau merapikan rumput juga membuat kompos dari sampah organik dan daun kering yang ada di sekitaran lapangan dan gunung.

Penulis: Faizuddin
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya