Matahari Surabaya tidak pernah kenal kompromi. Meski teknologi transportasi cerdas sudah mulai memadati jalanan protokol seperti Jalan Tunjungan, di balik gedung-gedung pencakar langit yang angkuh, detak jantung kota yang sebenarnya masih bersembunyi di gang-gang sempit. Salah satunya adalah Gang Jangkrik, sebuah pemukiman padat di kawasan Genteng yang seolah menolak untuk tunduk pada waktu.
Pukul dua belas siang, aspal di Gang Jangkrik sudah memancarkan uap tipis, membuat Bu Sri yang sedang menjemur kerupuk di depan rumahnya harus menyeka keringat beberapa kali dengan punggung tangannya yang penuh keriput.
Gang Jangkrik bukan sekadar jalan setapak yang hanya bisa dilalui dua motor berpapasan. Ia adalah urat nadi kehidupan. Di sini, suara klakson ojek online berpadu dengan lengkingan penjual pentol keliling. Aroma terasi yang disangrai Bu Tejo bersaing sengit dengan harum bumbu rawon dari warung Ning Salmah di seberang gang.
“Bu, wis mari jemure? Engkok udan loh, mendunge teko kidul!” teriak Cak Mad, ketua RT setempat, yang duduk diambang pintu rumahnya yang bercat hijau pudar. Di tangannya, sebuah radio transistor tua masih setia melantunkan langgam Jawa, bersaing dengan suara bising anak anak yang sedang bermain di lapangan sepak bola.
Cak Mad adalah personifikasi arek Suroboyo sejati: blak-blakan, sedikit temperamental tapi hatinya emas. Kaos oblong putihnya selalu terselip rapi di balik sarung yang dipakainya setiap hari, seolah siap siaga untuk rapat dadakan atau kerja bakti.
“Sik, Cak! Setengah jam maneh garing iki,” jawab Bu Sri tanpa menoleh, fokus membalik satu per satu kerupuk yang mulai mengeras.
“Cak, jek ngrungokno radio ae. Gak bosen?” tegur Rizal, pemuda tetangga yang baru pulang kerja dengan jaket ojek kebanggaannya.
Cak Mad terkekeh, “Iki dudu radio biasa, Zal. Iki suarane arek Suroboyo. Nek kowe ngrungokno temenan, kowe iso krungu suarane Bung Tomo lagi sambat mergo arek enom saiki lali carane mangan sego sambel bareng-bareng.”
Rizal tertawa lepas. “Lali carane opo lali bayar, Cak? Wis, aku tak adus dhisik. Engko bengi sido „cangkrukan‟ nang Balai RW, kan?”
“Sido. Ojo lali gowo gorengan!” teriak Cak Mad saat Rizal menghilang di balik pintu kayu yang berderit.
Bagi warga kampong, “cangkrukan” bukan sekedar duduk dan merokok. Ia adalah instituisi tertinggi dalam demokrasi kampung. Di sana, kebijakan RT diputuskan, masalah utang-piutang dicarikan solusi, dan gosip terbaru tentang Kelurahan dikuliti habis-habisan.
Hari itu, suasana kampung sedikit riuh. Ada kabar bahwa lahan kosong di ujung gang—yang selama ini jadi lapangan sepak bola darurat anak-anak—akan dibeli pengembang untuk dibangun minimarket. Kabar ini sontak memicu perbincangan panas di grup WhatsApp warga. Malamnya, Balai RW penuh sesak. Pak RW dan Cak Mad duduk di depan, menghadapi warga yang ekspresif.
“Lha nek lapangan iku ilang, anak-anak kate dolan nang endi, Pak RW? Nang mall?” protes Mas Broto, seorang bapak muda dengan gaya rambut kekinian.
Warga lain menyahut setuju. Di Surabaya, ruang terbuka hijau adalah barang langka, dan lapangan di ujung gang itu adalah paru-paru kecil mereka.
“Sabar, sabar, dulur-dulur,” Rizal mencoba menenangkan massa. “Awak dewe durung mutusi opo-opo. Iki jik rembukan.”
Perbincangan berlangsung alot. Prinsip “Pager Mangkok”—lebih baik punya tetangga yang baik daripada pagar tembok tinggi—sangat terasa malam itu. Kebersamaan di kampung ini jauh lebih berharga daripada minimarket modern yang akan merusak tatanan warung kelontong milik warga.
Akhirnya, warga sepakat menolak mentah-mentah tawaran pengembang. Mereka bertekad menjaga lahan itu. Beberapa hari kemudian, perwakilan pengembang datang langsung ke Balai
RW. Mereka terkejut melihat kekompakan warga Gang Jangkrik yang menolak uang tunai demi sebuah lapangan sepak bola kecil.
“Kami hargai keputusan Bapak-Ibu. Tapi tolong pertimbangkan lagi,” ujar perwakilan pengembang dengan wajah bingung.
Cak Mad maju ke depan, menyilangkan kedua tangan di dada. “Wis, Mas. Keputusan kene bulat. Kampung iki gak butuh dunya, kene butuh seduluran. Lapangan iku luwih larang regane timbang duwit sampeyan.”
Perwakilan pengembang itu akhirnya mengangguk pasrah.
Sore harinya, suasana kembali normal. Bu Sri sudah selesai menjemur kerupuknya. Bu Tejo masih mengolah terasinya. Anak-anak kembali bermain bola di lapangan, riang gembira. Cak Mad tersenyum sambil menyeruput kopi hitamnya di depan rumahnya.
Surabaya memang kota metropolitan yang terus tumbuh, tetapi di gang-gang sempit seperti Gang Jangkrik, semangat perjuangan dan kekeluargaan ala arek Suroboyo akan selalu abadi, sekuat aroma terasi yang tak pernah hilang dari udara kampung.
Penulis: Kanara
Editor: Azkal Azkia Nurrohmat
Foto: Unsplash.com/Max Burger
