Pelajaran IPS di Luar Kelas

Aku duduk di bangku terminal ini lagi. Teringat tahun lalu bolak balik Malang – Lamongan, dan Terminal Purabaya Bungurasih selama 3 tahun. Ini jadi semacam ruang ketiga dalam rutinitas akademikku. Bukan kampung, bukan kampus. Bus berikutnya dua jam lagi, dan aku memilih mengisi waktu dengan cara yang aneh; menikmati secangkir teh hangat dan mengamati dinamika terminal Purabaya.

Dosen Sosiologi, aku ingat persis materi konsep marginalitas dalam kuliah. Teori teori besar tentang struktural fungsional, konflik kelas, mobilitas sosial. Tapi di terminal ini, semua konsep itu punya wajah. Punya keringat. Punya suara.

Calo itu mendekat lagi. Aku sudah hafal polanya. Senyum, tawaran bus tujuan Banyuwangi, aku menimpali “Mboten pak, Lamongan,[1] dia pergi tanpa tersinggung. Lima menit kemudian dia akan melakukan hal yang sama pada calon penumpang lain. Ini bukan soal personal, ini ekonomi bertahan hidup. Rejection rate tinggi, tapi dia terus beroperasi. Kalau dipikir, ini strategi survival yang cukup rasional. Minimize emotional investment, maximize attempt frequency. Efisien, meski melelahkan.

Aku perhatikan dia dari sudut mata. Pria paruh baya dengan tas selempang di perutnya. Berapa komisi per tiket? Berapa tiket yang harus terjual untuk makan tiga kali sehari? Pertanyaan pertanyaan ini muncul bukan dari rasa iba yang berlebihan, tapi dari keingintahuan intelektual. Ini sistem ekonomi informal yang beroperasi di celah-celah regulasi. Terminal ini punya ekosistem tersendiri, dengan aturan main yang berbeda dari ekonomi formal yang kulamat dari diktat kampus.

Remaja penjual permen tingting jahe dan kacang-kacangan datang. Kutaksir umurnya empat belas tahun, mungkin. Seharusnya ia duduk di bangku sekolah, tapi nasib mendamparkannya di sini dengan kardus bekas dan dagangan lima ribu dapat tiga. Aku beli enam bungkus. Bukan karena aku butuh permen, tapi karena aku ingin melihat bagaimana cara dia melayani. Gesit, cekatan, tahu timing. Anak ini belajar street smart lebih cepat dari anak seusianya yang belajar matematika di kelas.

Pierre Bourdieu bicara tentang modal budaya, modal sosial, modal ekonomi. Bocah ini punya modal budaya rendah, modal ekonomi nol, tapi modal sosialnya cukup tinggi. Dia tahu cara membaca situasi, tahu cara approach orang, tahu cara bertahan di ruang publik yang keras. Pertanyaannya, “apakah modal sosial semacam ini cukup untuk mobilitas vertikal?” atau “dia akan stuck di sini, di ekonomi informal, selamanya?”

Bapak paruh baya penjual gorengan duduk di sebelahku. Diam. Tidak teriak seperti pedagang lain. Strategi yang berbeda. Passive selling. Mungkin karena usia, mungkin karena lelah, mungkin karena dia tahu energi itu terbatas dan harus dialokasikan dengan bijak. Aku beli mendoan. Tangannya gemetar membungkus gorengan yang dimasak setengah matang itu. Usia produktif seharusnya sudah lewat, tapi dia masih di sini. Sistem jaminan sosial kita jelas tidak cukup menjangkau orang-orang seperti dia.

Aku lahap mendoan itu sambil berpikir tentang informal sector yang kami bahas minggu lalu. Teorinya rapi di buku, praktiknya ada di sini, di alam kasunyatan ini. Bapak ini bagian dari 60 persen tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor informal. Tidak ada BPJS Ketenagakerjaan, tidak ada pensiun, tidak ada jaminan. Kalau sakit, berhenti jualan. Kalau tidak jualan, tidak makan. Sederhana dan brutal.

Pengamen cilik mulai bernyanyi, dengan gitar mainan, lagu “Ayah”. Suara mereka kalah meriah dari deru mesin bus. Tapi mereka tetap bernyanyi, lalu berkeliling dengan membawa bungkus bekas detergen. Sebagian besar penumpang menggeleng. Mereka membalas dengan senyum, lanjut ke penumpang berikutnya. High rejection tolerance. Keterampilan yang sulit diajarkan, tapi mereka kuasai di usia dini.

Aku teringat perdebatan di kelas tentang child labor. Sebagian teman bilang ini eksploitasi, harus dihapus. Sebagian lagi bilang ini realitas ekonomi, menghapus tanpa solusi alternatif justru memperburuk. Aku tidak tahu mana yang benar. Yang aku tahu, anak anak ini ada di sini bukan karena pilihan, tapi karena tiada pilihan lain. Structural constraint, dalam bahasa akademis.

Pernah juga, seorang bapak duduk di sebelahku. Koper usang, pakaian sederhana. Kami ngobrol. Dia bilang dulu ingin jadi guru, tapi cuma lulusan SD. Sekarang kerja serabutan. Ingatanku lalu terlempar pada akses pendidikan, pada reproduksi kemiskinan antar generasi. Bourdieu lagi. Habitus yang terbentuk dari kondisi ekonomi, lalu mereproduksi kondisi ekonomi itu kembali. Lingkaran yang sulit diputus.

Aku mahasiswa Pendidikan IPS. Calon guru. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk anak anak seperti bocah penjual permen tadi? Kurikulum nasional tidak dirancang untuk anak anak yang harus bekerja siang hari. Sistem pendidikan kita mengasumsikan semua anak punya privilege yang sama, waktu, tempat, dukungan keluarga. Asumsi yang jelas keliru.

Aku memandang terminal ini sebagai laboratorium sosial. Setiap hari ribuan orang transit di sini. Sebagian besar tidak peduli dengan calo, pedagang asongan, pengamen cilik. Mereka invisible. Ini yang disebut symbolic violence dalam teori Bourdieu. Mereka ada, tapi tidak dilihat. Bekerja keras, tapi tidak diakui. Kontribusi mereka pada ekonomi kota signifikan, tapi tidak tercatat dalam PDB.

Terminal ini mikrokosmos dari inequality struktural. Di satu sisi ada penumpang dengan baju rapi, smartphone mahal, bisa beli tiket tanpa mikir. Di sisi lain ada pedagang asongan yang harus jual 100 bungkus permen untuk dapat uang 50 ribu. Mereka berbagi ruang yang sama, tapi hidup di dunia yang berbeda. Spatial proximity, social distance.

Aku tidak merasa sangat kasihan dalam artian emosional yang berlebihan. Aku hanya aware bahwa ada sistem yang usang di sini. Sistem yang membuat anak usia sekolah harus jualan permen. Sistem yang membuat ibu tua harus jualan gorengan di usia tidak produktif. Sistem yang membuat orang dewasa harus jadi calo dengan rejection rate 90 persen. Ini bukan soal nasib atau takdir. Ini soal struktur ekonomi politik yang tidak adil.

Dosen Ekonomi Politik kami pernah bilang, “poverty is not a personal failure, it’s a policy failure” Aku setuju. Orang orang di terminal ini bukan malas. Mereka bekerja lebih keras dari sebagian besar pegawai kantoran. Tapi sistem tidak mengalokasikan rewards secara adil. Capital accumulation terjadi di atas, sementara mereka yang di bawah dapat crumbs.

Bus jurusan Lamongan dipanggil. Aku berdiri, membereskan ransel. Sebelum naik, aku menoleh sebentar. Terminal masih ramai. Calo masih menawarkan tiket. Bocah penjual permen masih berkeliling. Bapak penjual gorengan sudah membereskan keranjang. Pengamen sudah ganti shift. Semua bergerak dalam ritme yang sama. Besok akan seperti ini lagi. Dan lusa. Dan seterusnya.

Aku naik bus, duduk dekat jendela. Bus keluar terminal. Aku buka laptop, buka file skripsi yang masih kosong. Ambisius, mungkin terlalu. Tapi ini yang bisa aku lakukan. Menulis. Mendokumentasi. Membuat visible yang selama ini invisible.

Apakah itu cukup? Jelas tidak. Skripsi tidak mengubah sistem. Paper akademis tidak membuat bocah penjual permen bisa sekolah. Tapi setidaknya ini permulaan. Awareness adalah langkah pertama sebelum action. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika aku jadi guru, aku bisa mengajarkan murid muridku untuk peduli terhadap inequality ini. Untuk tidak hanya menerima (taken for granted)struktur yang ada sebagai given, tapi untuk question, untuk kritik, untuk eventually change.

Lampu kota mulai menyala. Bus melaju ke arah timur. Aku menutup laptop, memandang keluar. Terminal Purabaya perlahan menjauh, tapi masalahnya tetap di sana. Kemiskinan struktural tidak hilang hanya karena aku pergi. Besok pagi, calo-calo datang lagi dengan senyum yang sama. Bocah penjual permen akan datang dengan kardus yang sama. Bapak penjual gorengan akan datang dengan keranjang yang sama.

Dan dua minggu lagi, aku akan duduk di bangku yang sama. Mengamati. Mencatat. Berpikir. Ini rutinitas kecilku. Kontribusi yang minimal, aku tahu. Tapi lebih baik dari tidak melakukan apa apa. Lebih baik dari just being another passenger yang lewat tanpa melihat.

Terminal ini mengajariku sesuatu yang tidak pernah diajarkan di kelas, bahwa teori harus grounded in reality. Bahwa konsep konsep besar tentang ketidakadilan sosial bukan sekadar abstraksi intelektual. Dan bahwa sebagai calon pendidik, tugasku bukan hanya transfer pengetahuan, tapi juga cultivate critical consciousness.

Aku tidak tahu apakah aku akan berhasil. Sistem terlalu besar, masalahnya terlalu kompleks, daya pengaruhku terlalu kecil. Tapi setidaknya aku mulai dari yang bisa aku lakukan; melihat, memahami, mencatat. Dan berharap bahwa suatu hari, dokumentasi ini bisa jadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

Terminal Purabaya. Ruang tunggu tanpa akhir. Bagi penumpang, ini tempat transit. Bagi pedagang asongan, ini tempat bertahan hidup. Bagi aku, ini tempat belajar tentang inequality yang sesungguhnya.

Penulis: Doni WanasaMahasiswa S2 Pendidikan IPS Unesa, Pemuda serba ingin tahu, atas ketidaktahuannya.

Editor & Ilustrator: Hamimie


[1] Maaf, tidak, Pak. Saya mau ke Lamongan.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya