Aku turun dari angkutan umum terlalu cepat, seperti dulu ketika masih anak-anak dan selalu salah menebak jarak. Beberapa langkah kemudian aku baru sadar, halte yang kumaksud masih dua blok lagi. Namun, aku tidak kembali. Aku memilih berjalan, membiarkan kakiku menyesuaikan diri dengan kota yang terasa asing sekaligus terlalu akrab.
Ketandan masih di tempat yang sama, tersembunyi di antara jalan besar dan gedung tinggi, seperti seseorang yang sengaja tidak ingin dilihat. Pintu masuknya tidak berubah banyak—gang sempit yang memaksa dua orang berpapasan saling memiringkan tubuh. Aku masuk tanpa ragu, meski dadaku terasa aneh, seperti hendak bertemu seseorang yang sudah lama tidak membalas pesan.
Gang itu lebih pendek dari ingatanku. Atau mungkin aku saja yang sekarang terlalu tinggi.
Kemudian, aku berhenti di tikungan kecil tempat dulu kami sering duduk, aku dan Bima. Dulu tanahnya masih berpasir, kadang lembap, kadang retak. Sekarang sudah diplester rapi, tapi sudutnya masih sama. Aku refleks melongok ke kanan, ke halaman rumah yang dulu kami yakini bekas makam. Tidak ada lagi tanda-tanda yang bisa dijadikan bahan cerita seram. Halamannya bersih, ada pot bunga plastik, dan seorang ibu sedang menyapu sambil bersenandung pelan.
Aku tersenyum kecil. Dulu kami takut setengah mati melewati tempat itu setelah magrib, meski tidak pernah benar-benar melihat apa pun.
Azan dari Masjid An-Nur terdengar. Suaranya tidak berubah, hanya terasa lebih dekat. Atau mungkin aku yang sekarang lebih peka. Masjid itu masih berdiri, dengan tembok yang warnanya sudah beberapa kali berganti, tapi bentuknya sama. Aku ingat betul bagaimana aku dan Bima sering duduk di serambinya, menunggu orang tua selesai salat, sambil menendang kerikil dan membicarakan hal-hal yang waktu itu terasa penting: siapa yang paling cepat lari, siapa yang berani lewat halaman bekas makam sendirian.
Kami tidak pernah berjanji apa pun. Kami hanya selalu ada.
Aku melanjutkan berjalan. Beberapa rumah sudah direnovasi, beberapa tetap bertahan dengan kusen kayu tua dan pintu yang mengelupas catnya. Aku mengenali satu-dua wajah, atau mungkin hanya merasa mengenal. Ada yang menatapku lama, lalu mengangguk kecil, seolah tidak yakin apakah aku benar-benar orang yang ia kira.
Aku tidak menyapa siapa pun. Kepulanganku bukan untuk reuni.
Bima dan aku tumbuh bersama tanpa pernah membicarakan masa depan. Kampung ini sudah cukup bagi kami. Dunia kami terbentang dari ujung gang sampai masjid, dari halaman bekas makam, balai serbaguna bekas SD, sampai warung kecil yang sekarang sudah tutup. Kami belajar banyak hal di sini, tentang takut, tentang berani, tentang diam.
Kami mulai berbeda ketika SMA. Karena suatu hal, aku harus pergi dari kampung ini. Saat aku sibuk dengan rencana pergi, Bima sibuk dengan kenyataan harus tinggal. Tidak ada pertengkaran, tidak ada air mata. Perpisahan kami terjadi seperti sore biasa: aku mengemas tas, dia membantu mengikatkan tali, lalu kami duduk sebentar di tikungan gang, tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kalau pulang, kabari,” katanya.
Aku mengangguk. Aku selalu pandai mengangguk.
Merantau tidak seperti yang sering diceritakan orang. Tidak ada kemenangan besar, tidak ada kegagalan dramatis. Yang ada hanya hari-hari panjang yang membuat kampung ini terasa semakin jauh. Aku jarang menghubungi Bima. Bukan karena lupa, tapi karena tidak tahu harus mengatakan apa. Hidup kami bergerak di jalur yang berbeda, dan jarak perlahan menjadi kebiasaan.
Aku mendengar kabar tentangnya dari orang lain. Katanya ia bekerja di dekat sini, kadang membantu kegiatan kampung, kadang terlihat duduk sendirian di serambi masjid. Aku menyimpan kabar itu seperti benda rapuh: tidak disentuh, tapi juga tidak dibuang.
Alasan kepulanganku kali ini sederhana. Rumah lama milik orangtuaku akan direnovasi. Pemilik barunya ingin “menata ulang kawasan” agar lebih ramah wisata. Kata-kata itu terasa asing di telingaku, meski kampung ini memang sudah lama menjadi tujuan orang luar.
Aku berdiri di depan rumah itu. Rumah yang dulu sering kami datangi, tempat kami berteduh saat hujan tiba-tiba turun. Dindingnya sudah dicoret tanda, seperti tubuh yang akan dioperasi. Aku menempelkan telapak tangan ke temboknya. Dingin.
“Sudah lama pulang?”
Aku menoleh. Bima berdiri tidak jauh dariku. Lebih kurus, rambutnya lebih pendek. Tapi matanya sama. Kami saling memandang beberapa detik, cukup lama untuk menyadari bahwa banyak hal tidak bisa diulang.
“Baru,” jawabku.
Kami tidak berjabat tangan. Kami hanya berdiri, membiarkan jeda bekerja. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi semuanya terasa tidak perlu. Kampung ini sudah tahu cerita kami.
“Masih suka duduk di sini?” tanyaku, menunjuk tikungan gang.
Bima mengangkat bahu. “Kadang.”
Kami duduk sebentar, seperti dulu. Azan magrib terdengar lagi. Suaranya membelah senja, mengisi ruang di antara kami. Tidak ada kesedihan yang berlebihan. Yang ada hanya kesadaran bahwa beberapa hal tidak hilang, hanya berubah bentuk.
Aku bangkit lebih dulu. Waktuku tidak lama. Aku pamit sembari aku meminta maaf kepadanya. Setelahnya, aku melangkah pergi. Bima hanya tersenyum lalu melambaikan tangan, karena ia memang tidak pernah benar-benar pergi dari sini.
Saat aku sudah sampai di ujung gang, lampu jalan mulai menyala satu per satu. Dari kejauhan tampak anak-anak usia SD hendak berjamaah shalat Maghrib di Masjid An-Nur. Aku tersenyum saat melewatinya. Ah, jadi teringat saat kami seusia mereka, dimarahi pak ustad karena berebut mengucapkan “Aamiinn” paling kencang.
Aku melangkah ke jalan besar. Suara kendaraan menelan gang di belakangku. Ketandan kembali diam, menyimpan kami berdua di tempat yang berbeda: aku di luar, Bima di dalam, bersama semua yang tidak pernah sempat kami ucapkan.
Saat melangkah keluar gang, aku menoleh sekali lagi. Kampung Ketandan tidak melambaikan tangan. Ia hanya diam, seperti biasa. Menyimpan semua yang pernah ada, tanpa berusaha menahan siapa pun.
_
Penulis: Desinta Mega, seorang pengajar serabutan sekaligus content writer. Telah menulis banyak artikel dan dimuat di berbagai media online. Tertarik menulis cerpen karena gemar mengamati kondisi kanan-kiri.
Editor: Azkal Azkia Nurrohmat
Foto: Unsplash.com/Joris Beugels
