Kreco Suka Bola

Kreco, nama aslinya Gilang. Tersebab dia suka makan kreco; siput sawah yang dimasak kuah gurih. Maka tiap kali ada bazar di sekitar Petemon, kudapan itu selalu yang dia incar. Semua anak muda di Petemon Kuburan sangat sayang pada Kreco. Kami menjaganya dengan cara kami sendiri, mengajaknya bergiat bersama meski dia tunanetra.

Keterbatasannya bukan jadi pembatas bagi kami untuk beraktifitas bersama. Bahkan, dalam perayaan tujuh belasan lalu, dia menyanggupi untuk menjadi ketua panitia. Tak kami sangka Kreco mampu. Dia adalah pimpinan yang tegas, disiplin, dan mau mendengarkan kami semua. Seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana. Bagi kami, Kreco bukan teman, tapi saudara yang sungguh-sungguh kandung.

“Kalian ngomongin apa?” tanya Kreco pada kami.

“Sepak bola, Co.” Teguh menjawab.

“Sepak bola itu apa?” tanya Kreco lagi.

Kami saling pandang. Saling menunggu siapa di antara kami mau lebih dulu menjelaskan olahraga ternama dunia itu pada Kreco.

“Sepak bola itu rebutan bola oleh dua tim, Co,” tiba-tiba Husni yang pendiam itu menyahut. “Tapi pakai kaki.”

“Oke, dua tim. Terus rebutan pakai kaki? Nggak paham aku” ucap Kreco lagi.

Lalu Husni berusaha menjelaskan dengan rinci. Tentu saja kami saling menimpali dengan penjelasan aturan permainan.

“Gini aja, Teman-teman. Besok kita buatkan miniatur lapangan dari triplek.” celetuk Rizal.

“Aku siapkan dua set batu yang masing-masing bentuknya beda biar Kreco bisa membedakan tim satu dan lainnya.” Tukas Harman.

Totok berdiri, “Aku nanti yang ngecat papannya.” Kami semua saling pandang.

Lalu Kreco membalas, “Ya percuma kamu cat, Tok. Aku kan nggak bisa lihat. Aneh-aneh kamu ini.”

Respon Kreco kami sambut dengan tertawa lepas. Totok hanya senyum malu-malu.

Karena kebetulan hari itu kami libur, sejak pagi kami mulai membuat miniatur lapangan sepak bola. Siangnya baru kami selesai. Usai makan siang, kami segera berkumpul di teras gardu jaga, tempat kesukaan kami.

Di situ mulailah kami menggelar lapangan sepak bola. Batu-batu yang sudah dibentuk segitiga kami tata di satu sisi sesuai pola tim sepak bola. Sedangkan batu lain yang berbentuk nyaris kotak, kami berdirikan juga membentuk pola sebuah tim di lapangan.

Lalu Antok meraih tangan Kreco, “Yang di sebelah kirimu kita namai saja tim Barat, yang di kanan tim Utara. Oke ya?”

Kreco meraba semua batu di masing-masing tim, “Lha kok menclek nama timnya? Yawis nggak papa. Sip lanjut.”[1] sahut Kreco.

Lalu Antok meletakkan sebuah kelereng sebagai bola dan mulai menjelaskan bagaimana sepak bola dimainkan. Caranya dengan membantu Kreco meraba tiap pergerakan tim Barat dan Utara.

Kami juga bergantian menjelaskan beberapa hal yang bisa terjadi dalam sebuah pertandingan seperti offside, kartu merah, penalti.

“Aku mulai paham. Nanti malam kita lanjut lagi ya, Rek. Aku tak mandi dulu,” kata Kreco. Dan kami pun bubar.

Malamnya kami kembali berkumpul, bermain miniatur sepak bola lagi. Setelah cukup puas bermain, Pujo menyeletuk.

“Oke sekarang kita nonton siaran sepak bola online aja gimana?” kami semua setuju.

Lalu Pujo menyandarkan tabletnya dan memutar sebuah rekaman pertandingan sepak bola yang ada di jagad maya. Sebuah pertandingan liga Itali antar dua klub besar di sana. Saat pertandingan dimulai, Antok yang sejak awal menjelaskan ke Kreco tentang sepak bola, terus menceritakan apa yang terjadi di lapangan sepak bola.

Hingga akhirnya, “Goooooool!” Kami semua, begitu pun Kreco, bersorak-sorai. Malam itu kami sangat gembira. Kedudukan masih satu-kosong ketika siaran harus dihentikan karena paket data Pujo habis. Kami penonton kecewa.

“Walaaaah. Klasik alasanmu, Jo.”

“Jual aja tabletmu buat beli paket data, Jo.”

Aneka celetukan bernada guyon terlontar meriah membuat suasana makin segar. Bahkan Pujo pun ikut tertawa meski dia yang sedang digojlok. Dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa, Kreco tak mau diantar pulang. Dia sudah hafal jalan menuju rumahnya. Sambil sesekali meraba tembok. Perlahan tapi pasti, Kreco sampai di rumahnya.

“Bu, aku pengen nonton sepak bola,” pinta Kreco pada ibunya.

“Ibu sih boleh-boleh aja, Lang. Kamu bisa ditemani ayahmu kalau dia libur. Kalo ibu nggak bisa ikut. Kan ibu harus masak dan jualan,” jawab ibunya, “Lagian apa kamu ngerti sepak bola itu gimana?” tanya ibunya.

“Tahu, Bu. Aku udah tahu sepak bola itu gimana”

Ibunya heran. Memandangi Gilang dengan tatapan penuh tanya.

“Temen-temen ngasih tau aku gimana itu sepak bola. Mereka bahkan membuatkanku miniatur lapangan sepak bola agar aku mudah ngerti. Meskipun mulut mereka banyak bocor, hehe, tapi mereka semua baik ke aku, Bu. Aku senang berkawan mereka semua,” kata Gilang pada ibunya.

Ibunya menghampiri Gilang dan memeluk anaknya, “Kita beruntung hidup di lingkungan yang ramah ya, Nak”

“Tapi kan juga berkat ibu dan ayah,” kata Gilang sambil memeluk erat ibunya.

Ya, sejak bu Hana tahu kalau anaknya menyandang keterbatasan pandang, dia aktif terlibat dalam banyak kegiatan di kampung; jumantik, petugas posyandu balita dan lansia, petugas bank sampah, hingga kader tabulampot. Bagi bu Hana, dengan aktif terlibat dalam kegiatan kampung, maka jalan edukasi untuk ramah pada disabilitas terbuka lebar. Ayahnya juga sebisa mungkin menyelipkan ihwal disabilitas setiap kali cangkruk[2] dengan warga kampung.

Bu Hana juga selalu mengajak Gilang ikut giat dan membiarkan anaknya bermain dengan anak sejawat. Buahnya bisa dipetik sekarang; jalinan kuat antara Gilang dan jawat lain yang tumbuh menjadi anak-anak muda yang tidak merundung penyandang disabilitas.

Kekhawatiran tak dimiliki Bu Hana saat Gilang berkumpul dengan muda lain di kampungnya. Bu Hana percaya, di kampungnya tak mungkin mereka menyakiti anaknya. Dan itu memang terbukti.

Beberapa hari kemudian mereka berkumpul di teras rumah Farah, “Hey, Rek! Iki onok Liga Futsal Tarkam Sawahan.”[3] Seru Kikin.

“Iya, aku baca pengumumannya kemarin di Instagram. Pesertanya berkisar 40 tahun ke atas.” Sahut Antok.

“Futsal itu apa, Rek?” tanya Kreco.

“Kayak sepak bola, Co. Cuma jumlah pemainnya lebih sedikit.” Kata Totok, “Satu tim futsal pemainnya cuma lima. Lapangannya juga lebih kecil.” Sambung Totok.

Selama dua mingguan bapak-bapak di kampung Petemon Kuburan berlatih dengan banyak coach yaitu besama kami, para pemuda. Selain latihan fisik, bapak-bapak kami juga latihan menggocek bola. Meski usai latihan banyak yang ngos-ngosan tapi mereka melakukannya dengan suka ria. Tak ada keluh kesah, paling-paling setelah latihan minta pijit istrinya di rumah.

Tibalah LFTS alias Liga Futsal Tarkam Sawahan dimulai. Pertandingan pembuka adalah kampung Kedungdoro Pompa melawan kampung kami, Petemon Kuburan.

Peluit dibunyikan dan, “Mas Nono langsung nyerang, Co. Dia menggiring bola ke sisi kanan dan mengoper ke pak Gani.” Kata Husni di dekat telinga Kreco. Husni yang sejak awal merangkul pundak Kreco harus setengah berteriak karena suasana sangat ramai dan bising. Selain teriakan para suporter, juga musik dangdut yang digeber oleh panitia membuat kami harus berteriak.

Wadoooooh! Yok opo se, Pak?”[4] seru Totok sambil wajahnya tegang.

“Kenapa, Rek? Kenapa, Rek?” Kreco bertanya karena kebingungan.

“Pak Gani, Co. Dia kelolosan nggak bisa menahan bola, akibatnya diambil lawan.” Kata Husni.

Sebentar kemudian…

“Goool!” seruan keras bergaung. Tapi kami diam. Hanya duduk dan tidak ada reaksi, membuat Kreco heran.

“Siapa yang dapat gol?” tanya Kreco.

“Tim sana, Co. Sementara satu kosong buat mereka.” Jawab Husni, “Tenang, Co. Masih banyak waktu.”

Pertandingan belanjut. Tim saling buka serang. Hingga babak satu berakhir kedudukan imbang, satu sama. Kelima bapak-bapak dari tim Petemon Kuburan tampak ngos-ngosan dan mandi keringat. Setelah istirahat, babak kedua dimulai.

Wis aku ae,”[5]

Kini giliran Fardi yang menjadi mata Kreco. Mukanya didekatkan ke telinga sahabatnya dan terus bercerita apa yang terjadi di lapangan. Waktu babak kedua hampir habis. Kedua tim tegang dan saling serang makin seru meski tak sampai adu okol.

“Wih wih… Pak Topan langsung nyerang, Co. Dia giring sendiri bolanya. Dua, tiga, pemain dilewati,” seru Fardi.

Wajah Kreco nampak tegang. Kreco menyimak baik-baik semuanya. Dia membayangkan apa yang diceritakan Fardi di telinganya.

“Pak Topan menembak, Co. Tapi membentur tiang gawang. Lho… bolanya mantul. Langsung disaut pak Dedik. Ditembak….”

“GOOOOOL!” teriakan keras keluar dari mulut Fardi berbarengan dengan sorakan kami para warga kampung Petemon Kuburan. Kreco juga ikut teriak dan berjingkrak girang. Skor berakhir dua satu untuk kemenangan Petemon Kuburan, menjadi penutup pertandingan pertama.

Kreco tak bisa melupakan pengalaman pertamanya “menonton” sepak bola. Dia juga tak akan melupakan persahabatan yang terjadi antara kami, muda-muda kampung Petemon Kuburan.

Kreco adalah kami, kami adalah Kreco.


[1] Lho, kok nama timnya tidak sinkron. Ya sudah tidak masalah. Sip, lanjut! (ed).

[2] Mengobrol ramai-ramai, biasanya di gardu atau pos jaga (ed).

[3] Teman-teman! Ini ada liga Futsal Tarkam Sawahan (ed).

[4] Waduh, gimana ini, Pak? (ed).

[5] Sudah, giliran aku saja (ed).

Penulis: Andreas, penulis pemula yang mulai menyukai menulis sejak kemarin sore. Menemukan keasyikan menulis karena bisa menghadirkan sesuatu yang tidak bisa dihadirkan negara.

Editor & Ilustrator: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya