Namaku Nicky.
Sebelum Ketintang mempertemukanku dengan mereka, aku seorang yang kesepian bahkan saat dikelilingi banyak orang. Aku perempuan sendiri yang tidak pernah dirayakan.
Kesepian itu bukan soal tanpa teman, melainkan soal tak punya tempat pulang, tanpa harus menjelaskan diri. Aku hidup dengan banyak suara di kepala, tetapi nyaris tak ada ruang untuk bercerita. Maka ketika tiba di Ketintang, sepuluh tahun lalu, aku tidak sedang mencari keluarga. Aku hanya ingin bertahan. Bertahan dari banyaknya kegagalan yang tidak ada seorang pun tahu, hanya diriku dan Tuhan, kita saling menjaga rahasia.
Aku datang paling akhir. Kos itu sudah hidup sebelum aku tiba, hidup dengan cerita mereka masing-masing. Gang sempitnya sudah hafal suara penghuni lama. Dapur kecilnya sudah tahu siapa yang suka kopi pahit, siapa yang selalu lupa beli gas. Aku datang seperti tanda koma di kalimat yang hampir selesai dan kadang tidak penting.
Sore itu matahari tenggelam lamban, menyentuh atap-atap rumah warga dengan warna kuningan. Ketintang menyambutku dengan bau gorengan, bisingnya suara kendaraan; Ketintang selalu dilewati walau hanya sekadar menjadi jalan tercepat untuk menghindari kemacetan di jalan utama dan suara televisi yang tidak jelas acaranya. Kos itu tidak ramah, cat temboknya mengelupas seperti orang yang lelah berpura-pura terlihat teguh. Lantainya pudar, tempat parkirnya horor, gelap, penuh sarang laba-laba.
Empat kamar. Satu dapur. Satu kamar mandi dengan pintu yang hanya bisa ditutup jika kita menahannya sambil berdoa. Mereka sudah ada di sana.
Karyn di kamar depan. Suaranya selalu terdengar lebih dulu sebelum orangnya terlihat. Ia reporter salah satu televisi swasta, MC acara apa saja yang pasti diusahakannya; pembukaan toko sampai lomba tujuhbelasan. Hidupnya penuh panggung, tapi jarang punya tempat duduk.
Noza di kamar tengah. Rapi, tenang, selalu terlihat seperti seseorang yang terlalu lama belajar menahan diri. Bekerja sebagai customer service, profesi yang mengajarinya seni tersenyum ketika hati mau kalap.
Stefi di kamar sebelah. Ramai, cerewet, tawanya bisa mengisi ruang kosong. Customer service juga, tapi dengan gaya yang lebih berisik, seperti ingin meyakinkan dunia bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku masuk tanpa upacara dan tanpa perayaan. Tidak ada perkenalan panjang. Hanya senyum, anggukan, dan kalimat singkat, “Masuk aja, santai.”
Dan entah bagaimana, justru dari kesederhanaan itulah hidupku berubah arah. Dari yang mulanya sepi, menjadi bercahaya.

1
Hari-hari pertama aku lebih banyak mengamati. Aku pendatang, dan aku belajar tahu diri. Aku belajar mengenal mereka lewat kebiasaan kecil, hal-hal remeh yang justru menjalin kedekatan kami.
Stefi selalu bangun paling dini. Ia memasak mie instan dengan telur, seperti ritual suci anak kos. Sambil memasak, ia menelpon Kakaknya. Percakapannya selalu sama, seperti siaran ulang: tukar kabar, makan, jangan lupa doa. Tapi di balik suara lembut itu, ada rindu tersimpan rapi.
Noza bangun tergesa. Ia mesti melupakan satu hal setiap pagi. Kadang helm, kadang kartu akses kantor, kadang niat hidup. Ia tertawa sambil mengumpat, “Hidup kok kayak update aplikasi, banyak fitur tapi tetap bug.”
Karyn jarang terlihat setiap pagi. Ia pulang subuh atau pagi, membawa sisa panggung di suaranya. Kadang masih pakai heels, duduk di lantai dapur sambil membuka sepatu, lalu berkata, “Capek, ya, jadi manusia serba bisa.”
Aku mendengar saja ocehannya. Awalnya diam. Lalu mulai ikut tertawa. Pelan-pelan, aku bercerita. Tentang kuliah S2 yang melelahkan. Tentang tesis yang terasa seperti labirin. Tentang kesepian yang tak bisa dijelaskan dengan istilah akademik apa pun. Serta tentang soal kenapa aku merasa tertinggal dengan yang lain yang seusiaku?
Mereka mendengarkan. Tidak menghakimi. Tidak memberi solusi berlebih.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku merasa kata-kataku tidak jatuh sia-sia ke lantai.
2
Kami pun menjadi dekat seperti nadi.
Kami tidak butuh alasan besar untuk berkumpul. Cukup satu orang pulang lebih awal, cukup satu panci nasi hangat. Kami makan keroyokan di Lorong dapur sempit, duduk di lantai jika kursi tidak muat. Lauk seadanya, cerita berlapis-lapis. Cerita hal apapun, bahkan jika orang lain melihat kami pasti akan bilang “dasar oversharing”.
Kami merayakan hal kecil dengan sungguh-sungguh. Hal-hal sepele yang menjadi berkesan bahkan hal-hal yang menurut manusia normal lain itu tidak berharga, bagi kami mahal dan tinggi nilainya.
Karyn dapat job baru, kami beli es teh dan gorengan, lalu pura-pura sedang pesta besar.
Stefi lolos seleksi kerja, kami peluk dia ramai-ramai sampai ngambek.
Noza dapat bonus kecil, ia traktir mie ayam dan bersikeras meyakinkan kami bahwa itu restoran terbaik se-Ketintang Baru.
Jika gagal, kami juga merayakannya dengan cara yang lebih khidmat. Makan tanpa banyak bicara. Saling berpelukan tanpa disusul motivasi picisan.
Aku ingat pada suatu malam, aku pulang membawa kabar buruk soal tesisku. Revisi datang seperti hujan yang awet. Aku duduk di teras, menatap jalanan gang yang basah.
Stefi datang membawakanku teh.
Karyn menyodorkan coklat sambil bercanda, “Terapi tradisional.”
Noza memesan makanan via online dan berkata, “Kalau hidup ada tombol skip kayak iklan, enak, kali ya.”
Kami pun terbahak. Bebanku jadi terasa lebih ringan. Ketawa kami lebih renyah, entah kenapa kecewa itu hilang.
3
Kami sering jalan bersama. Tidak selalu ke tempat jauh. Kadang hanya ke alun-alun, ke warung kopi murah, ke mall dekat kosan jika ada uang lebih dan keberanian pulang larut. Kami naik motor berboncengan sesak, saling mengeluh tentang panas, lalu memaki cuaca sambil tetap memotretnya.
Kami abadikan semuanya. Bukan karena ingin pamer, tapi karena takut lupa. Lupa dengan kenangan yang nantinya akan kuingat lagi jika kami sudah tak bersama.
Berfoto di pinggir jalan dengan wajah kusam kepanasan.
Menjepret makanan sebelum disantap meski akhirnya keburu dingin.
Memotret pose kaki berjejer seolah hidup bisa diringkas menjadi empat pasang sepatu.
Media sosial waktu itu seperti album keluarga versi murah dan gratis. Kami unggah dengan caption yang lucu, emoji yang banyak, dan saling menandai akun dengan alay. Saling berbalas komentar. Tawa berlangsung dalam layar, lalu berlanjut lagi di kehidupan nyata.
Kami terlihat bahagia.
Kami memang bahagia.
Kami begitu bahagia.
Aku hafal kebiasaan mereka.
Karyn selalu memastikan ada foto sebelum pulang.
Stefi jarang minta untuk difoto, tapi yang selalu menyimpannya paling lama.
Noza paling heboh mengatur pose, lalu menertawakan hasilnya sendiri.
Dan aku?
Aku bahagia hanya berdiri di antara mereka, merasa tidak sendirian. Aku merasa hidupku sedang dirayakan dan dipeluk.
4
Kami tidak pernah bertengkar besar.
Tidak ada gegeran sebab uang.
Tidak ada drama banting piring.
Tidak ada dalam kamus hidup kami untuk sibuk saling menyakiti. Yang ada hanya kelelahan yang dibagi agar pantas menjadi lebih manusiawi.
Malam-malam di Ketintang sering diisi obrolan absurd. Tentang masa depan. Tentang mimpi yang ndakik-ndakik. Tentang ketakutan menjadi biasa-biasa saja. Tentang kegagalan yang belum kami rasakan namun sudah kami perkirakan. Serta hal-hal yang seolah kami ramalkan nantinya yang sebenarnya itu alasan agar kita tetap terikat dan bersama saat itu.
“Takut nggak sih nanti hidup kita cuma gini-gini aja?” tanya Noza.
Karyn menjawab, “Takut. Tapi lebih takut lagi kalau nggak hidup sama sekali.”
Stefi tersenyum kecil.
Aku diam, menyimpan kalimatku sendiri, aku takut kembali sendirian.
5
Ada satu malam terkenang.
Hujan turun deras. Listrik padam. Ketintang gelap seperti jeda panjang dalam film. Kami duduk melingkar di lantai dapur, mengandalkan cahaya lilin. Bayangan kami menari di dinding.
Kami bercerita tentang keluarga. Tentang sejenis trauma. Tentang mimpi yang tertunda. Tentang kehidupan yang tidak semuanya bahagia. Tentang kekecewaan banyak hal yang luput dari rengkuhan kami dan masih banyak lagi.
Aku bercerita tentang kesepian. Tentang bagaimana aku sering merasa kosong meski dikelilingi orang. Tentang ketakutan kembali ke ruang sunyi itu. Kembali pada kegagalan dan tak seorang pun membersamai.
Mereka memang tidak memberi solusi.
Mereka memelukku.
Pelukan hangat. Sederhana. Tidak menjanjikan apa pun selain kehadiran.
Malam itu kami berfoto dalam satu bingkai.
Tampak wajah kelelahan. Mata berbinar. Senyum simpul tanda kami tak mau berpisah.
Kami unggah dengan satu kata, “rumah”.
6
Aku yang pergi duluan.
Aku datang paling akhir dan pergi paling awal, seperti tamu yang terlalu cepat merasa betah. Kuliahku selesai. Hidup memanggil ke arah lain. Aku berkemas dengan perasaan campur aduk; mulai lega, takut, dan kehilangan.
Kami makan bersama untuk terakhir kalinya.
“Jangan nanti menghilang,” kata mereka.
Aku mengangguk. Aku pegang janji itu.
7
Waktu bekerja dengan caranya sendiri, pelan, diam-diam, tapi pasti.
Sepuluh tahun berlalu. Kami masih berteman di media sosial. Masih saling melihat hidup masing-masing. Karyn di panggung lebih besar. Stefi dengan hidup lebih tenang. Noza dengan rutinitas yang terus berjalan.
Kami saling melihat, tapi tidak lagi saling merecoki.
Tidak ada balasan.
Tidak ada sapaan.
Kami hampir asing, tapi tidak benar-benar lupa.
Aku masih ingat kebiasaan mereka. Cara Karyn melawan sunyi. Cara Stefi memastikan semua sudah makan. Cara Noza tertawa sebelum melamun.
Ingatan itu tidak pudar. Ia hanya berpindah tempat.
Ketintang pernah hidup di sela-sela kami yang mewujud dalam pelukan, pada meja makan, pada foto-foto yang kini tersimpan. Dan meski kini kami hanya saling melihat dari kejauhan, doa baik tetap terberikan.
Karena kami pernah hidup sepenuh itu, bersama.
Dan bagiku, itu sudah cukup.

Ini adalah foto kami berempat, sepuluh tahun lalu.
Kami duduk dalam satu bingkai yang sempit, seolah jarak apa pun di luar foto tidak penting saat itu. Wajah kami masih menyimpan keyakinan yang belum diuji, senyum yang belum mengenal arti pulang sendirian. Ketintang tidak terlihat jelas di belakang kami, tetapi ia selalu ada dalam udara, dalam suara yang tak tertangkap kamera.
Ketintang pernah hidup di sela-sela kami.
Ia hidup di tawa yang terlalu keras untuk ruang kecil, di langkah kaki yang pulang larut, di percakapan yang tidak pernah selesai karena selalu dipotong oleh hari esok. Ia mendengar pesan-pesan yang tak sempat kami kirimkan: tentang takut gagal, tentang ingin bertahan sedikit lebih lama, tentang harapan yang kami simpan agar tidak terdengar kekanak-kanakan.
Di sana, kami adalah orang-orang yang terpinggirkan dengan cara paling sunyi—bukan karena ditolak, tetapi karena belum tiba waktunya. Ketintang menjadi tempat singgah bagi hidup yang belum menemukan alamat tetap. Ia menampung suara kami yang ragu, namun juga menjaga agar kami tidak benar-benar runtuh.
Kini foto itu tinggal ingatan.
Kami hanya saling melihat dari kejauhan, tanpa sapaan, tanpa balasan. Namun Ketintang tidak ikut menjauh. Ia tetap tinggal sebagai gema yang mengingatkan bahwa kami pernah saling menguatkan tanpa banyak kata.
Jika suatu hari ingatan ini terasa kabur, biarlah foto itu menjadi penanda bahwa kebersamaan kami pernah nyata, bahwa Ketintang pernah hidup di sela-sela kami sebagai rumah sementara bagi orang-orang kecil yang berani bermimpi, meski akhirnya harus berjalan sendiri-sendiri.
Penulis: Nicky Subekti. Ia memilih menulis kisah-kisah yang dekat dengan hidupnya sendiri.
Editor & Ilustrator: Hamimie
