Agustus, akhir tahun 1990-an.
Cahaya lampu berwarna merah, biru, dan hijau memantul di dinding gang sempit, menimpa mata siapa pun yang lewat tanpa ampun. Lampu itu berasal dari sebuah bangunan di ujung gang, menyala terlalu terang untuk ukuran rumah kampung. Dari luar, bangunannya tampak biasa saja. Dinding tembok abu-abu, pintu kayu yang catnya mulai mengelupas, jendela kecil dengan tirai kusam. Jika dilihat sepintas, ia tak berbeda dari rumah-rumah lain di Moroseneng. Namun, siapa pun yang pernah melangkah masuk seperti mengetahui, bangunan itu menyimpan dunia yang berbeda.
Begitu pintu terbuka, suara musik keras langsung menghantam telinga. Dentuman bass bercampur tawa pecah, teriakan, dan bunyi gelas beradu. Udara di dalamnya pengap, bercampur bau rokok, parfum murah, dan keringat. Ramainya mengingatkanku pada rumah sendiri saat kecil, ketika saudara-saudaraku berkumpul dan bertengkar berebut ikan goreng buatan ibu. Namun, di tempat ini, tak ada ibu yang menengahi juga tak ada tangan yang mengelus kepala sambil berkata sabar. Hanya tubuh-tubuh yang datang dan pergi, membawa keinginan masing-masing.
Aku berdiri sejenak di ambang pintu. Perasaanku selalu sama setiap kali masuk ke tempat ini. Ada rasa asing, meski aku sudah hafal setiap sudutnya. Karena itu aku tak pernah menyebut bangunan ini rumah. Bagiku, ia lebih pantas disebut tempat kerja. Tempat orang-orang mencari senang, meski sering kali pulang dengan tubuh lelah dan hati kosong.
Di salah satu sudut ruangan, duduk berjejer perempuan-perempuan muda. Wajah mereka cantik, sebagian tampak dipoles berlebihan, sebagian lain terlihat pasrah. Umur mereka tak jauh dariku. Beberapa di antaranya bahkan pernah memanggil namaku saat kami masih anak-anak. Kami pernah duduk sebangku di sekolah dasar, berbagi pensil, dan tertawa karena hal-hal sepele. Waktu memisahkan kami dengan cara yang aneh. Kami sama-sama berhenti sekolah, tapi melangkah ke arah yang berbeda.
Hari ini aku melihat salah satu dari mereka. Rambutnya tergerai, matanya menatap kosong. Di sampingnya duduk seorang lelaki. Lelaki itu mengenakan kemeja rapi, tapi kerahnya sudah terbuka. Tatapannya liar, napasnya berat. Ia mencondongkan tubuh ke arah perempuan itu, seolah takut keinginannya keburu padam jika terlalu lama menunggu.
Aku mendekat. Tanganku menyentuh saku kecil di tas. Aku mengeluarkan barang dagangan. Selapis perisai bening, tipis, dan mudah dilupakan namanya. Lelaki itu menoleh, menatapku sejenak, lalu mengangguk. Ia membeli dua. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan uang. Aku menerimanya dengan senyum kecil yang kupelajari dari pengalaman.
“Alhamdulillah,” ucapku pelan.
Aku tak tahu pada siapa sebenarnya aku bersyukur. Pada Tuhan, pada lelaki itu, atau pada keadaan yang memaksaku berada di sini.
Setiap bulan Agustus, Moroseneng selalu berubah wajah. Bendera merah putih dipasang di depan rumah-rumah, umbul-umbul melintang di gang-gang sempit. Anak-anak berlatih lomba, ibu-ibu sibuk membicarakan hadiah, bapak-bapak menghitung biaya. Sebagai karang taruna, kami ikut sibuk. Kami ingin perayaan yang meriah, seperti kampung-kampung lain. Tapi meriah membutuhkan dana, dan dana tak pernah datang dengan mudah.
Kami pernah mencoba menjual makanan. Laris, tapi banyak yang basi karena cuaca panas dan kurang pengalaman. Kami pernah mengamen dari kampung ke kampung. Pendapatannya kecil, lelahnya besar, dan risikonya dikejar satpol PP selalu mengintai. Hingga suatu malam, saat kami duduk melingkar di balai RT, salah satu temanku melontarkan ide yang membuat kami terdiam lama.
Menjual rokok dan kondom di rumah-rumah lokalisasi. Awalnya hanya diam. Lalu tawa kecil pecah. Tawa yang bercampur ragu dan nekat. Kami tahu ide itu salah di mata banyak orang, tapi juga tahu ide itu paling masuk akal. Di Moroseneng, kebutuhan selalu berjalan seiring dengan peluang.
Aku lahir, tumbuh, dan besar di kampung ini. Moroseneng, pojok barat Surabaya. Nama kampung ini sering membuat orang luar tersenyum aneh. Moro berarti datang. Seneng berarti senang. Datang untuk bersenang-senang. Nama yang terdengar ringan, bahkan jenaka. Tapi bagi kami yang tinggal di sini, nama itu seperti doa yang tak selalu terkabul.
Siang hari, Moroseneng tampak seperti kampung biasa. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, ibu-ibu menjemur pakaian sambil bergosip, bapak-bapak duduk di gardu membicarakan harga kebutuhan pokok. Tak ada yang istimewa. Namun saat malam turun, kampung ini menjelma wajah lain. Musik keras keluar dari rumah-rumah tertentu. Lampu-lampu menyala terang, mengusir gelap dengan cara yang kasar. Orang-orang datang dari berbagai penjuru kota. Mereka datang membawa kelelahan, keinginan, dan uang.
Aku tumbuh di antara dua dunia itu. Terbiasa melihat perempuan berdandan tebal sejak sore, terbiasa mendengar teriakan mabuk, terbiasa melihat kejar-kejaran antara satpol PP dan para pekerja malam. Aku terbiasa, tapi tak pernah benar-benar tenang.
Akhirnya kami sepakat. Kami nekat. Lelaki menjual, perempuan menghitung uang. Setiap malam kami berkeliling, menawarkan rokok dan selapis perisai bening itu. Sebagian orang menolak, sebagian menerima tanpa banyak bicara. Seminggu berlalu, uang terkumpul lebih dari cukup. Kami bersorak kecil di balai RT. Dana itu cukup untuk mengundang orkes terkenal saat itu.
Malam pentas seni, kampung kami berubah menjadi lautan manusia. Lampu terang, musik keras, tawa bersahut-sahutan. Anak-anak menari, orang dewasa ikut berjoget. Aku berdiri di antara keramaian itu, tersenyum, tapi hatiku terasa aneh. Seperti ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh sorak-sorai.
Tahun 2002.
Waktu bergerak tanpa permisi. Aku mulai bekerja tetap, mulai memikirkan masa depan. Aku bertemu seseorang yang kemudian menjadi istriku. Kami tumbuh di kampung yang sama, menghirup udara yang sama, menyaksikan pemandangan yang sama. Ketika rencana pernikahan mulai dibicarakan, kekhawatiran muncul perlahan.
Pantaskah tempat ini menjadi rumah bagi anak-anakku kelak. Akankah mereka tumbuh dengan pandangan yang sama seperti yang kulihat sejak remaja. Akankah mereka menganggap semua ini biasa, seperti aku dulu. Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul saat malam sunyi, ketika musik belum menyala dan gang-gang masih gelap.
Aku dan istriku sering terdiam lama saat membicarakannya. Kami tak punya jawaban pasti. Kami hanya punya janji. Janji untuk menjaga keluarga kami sebaik mungkin. Janji yang terdengar sederhana, tapi terasa berat.
Tahun-tahun berlalu. Anak-anakku lahir. Tangis mereka memenuhi rumah kecil kami. Setiap kali menggendong mereka, aku selalu berharap mereka tak perlu memahami kampung ini seperti aku memahaminya. Aku berharap mereka hanya mengenal Moroseneng sebagai tempat bermain, bukan tempat orang-orang datang untuk melupakan diri sendiri.
Tahun 2013.
Kabar itu akhirnya datang. Pemerintah kota memutuskan menutup seluruh kampung lokalisasi. Hari-hari menjelang penutupan terasa aneh. Beberapa rumah tampak lebih sepi. Beberapa perempuan pulang ke kampung halaman. Beberapa tetap bertahan, bingung harus melangkah ke mana.
Hari penutupan tiba tanpa pesta. Tak ada musik. Tak ada lampu menyilaukan. Gang-gang terasa sunyi dengan cara yang asing. Seolah kampung ini kehilangan suaranya, sekaligus menemukan lukanya. Bangunan-bangunan yang dulu ramai kini terkunci. Debu mulai menempel di jendela-jendela kecil.
Anak-anakku sudah bersekolah saat itu. Mereka pulang membawa cerita tentang pelajaran dan teman-teman baru. Aku mendengarkan sambil tersenyum. Dalam hati, aku bersyukur mereka tak tumbuh terlalu lama di tengah hingar-bingar yang dulu kuanggap biasa.
Aku berdiri di depan rumah suatu sore. Menatap gang yang kini lengang. Moroseneng masih bernama Moroseneng. Tapi aku kini mengerti, tak semua yang datang akan benar-benar senang. Dan tak semua yang senang akan pulang dengan utuh.
Aku menghela napas panjang. Dalam diam, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah kami benar-benar telah merdeka, atau hanya berganti bentuk keterikatan. Cahaya sore perlahan memudar. Kampungku tenggelam dalam sunyi yang baru. Sunyi yang terasa asing, tapi mungkin perlu.
_
Penulis: Icha Maharani, mahasiswi akhir Sastra Jawa yang memiliki minat di bidang sastra dan aksara nusantara. Memiliki mimpi untuk belajar seluruh jenis naskah nusantara. Sekarang sedang mencari ilmu untuk mencapai target-target selanjutnya. Instagram @ichmharani.
Editor: Azkal Azkia Nurrohmat
Foto: Unsplash.com/Febrian Adi
