Meduro Kejawan

Gedung-gedung setinggi 4-5 meter berderetan, tak ada celah sedikitpun dari satu rumah ke rumah lainnya. Padat, dan sempit. Gang di sebuah perkampungan yang lebarnya paling luas mungkin hanya 5 meteran saja. Cara bicara masyarakatnya berbahasa Jawa Krama lugu, biasa disebut Jowo Kasar.

Ciri-ciri penduduknya hampir sama, memiliki tinggi rata-rata 150 cm saja, itu saja sudah terbilang tinggi. Kegiatan sehari-hari penduduknya sangat padat. Baik bekerja, maupun ibu rumah tangga. Dan disinilah aku hidup, padat penduduk, ramai namun asri. Kota Surabaya.

Aku hidup di wilayah Surabaya yang rata-rata penduduknya keturunan darah Inggris Timur, cendaan banyak orang di sini menyebutnya demikian. Hampir seluruh penduduknya tak ada yang keturunan asli Kota Surabaya, di tahun 2025 seperti ini. Terlebih saat kehadiran salah satu aplikasi yang mendunia, aplikasi toktok. Rasanya sangat terkenal. Dulunya, dikenal dengan produksi garamnya yang melimpah. Namun baru-baru ini, yang aku tahu dikenal dari gaya bicaranya yang khas.

Suatu hari aku sedang bepergian dengan putra semata wayangku, di sebuah acara perlombaan mewarnai tepatnya di tengah kota, pada pusat perbelanjaan, tempat favorit anak-anak karena ruangannya yang full AC, di sebuah mall. Aku pergi menuju mall dan pulang kembali ke rumah dengan mengendarai jasa antar. Dan sepulang dari perlombaan mewarnai, dimana aku dan anakku memenangkan perlombaan mewarnai itu dengan mendapatkan juara 3. Hal tersebut membuatku sangat antusias untuk menceritakan kepada siapapun yang menanyakan aku dari mana.

Karena pulangnya aku dan anakku memesan motor dari aplikasi penyedia layanan carter, aku pun tak luput dari pertanyaan yang membuatku akhirnya membagikan kebahagiaan yang aku alami kepada tukang carter.

“Habis dari lomba ya, Mbak?” Tanya bapak carter itu, pertanyaan yang umum diajukan sekedar basa-basi perjalanan.

Aku yang dalam suasana baik pun, tak segan langsung bercerita. “Iya, Pak. Lomba mewarnai ibu dan anak, Alhamdulillah menang juara 3.” Ucapku dengan cukup detail.

“Wah bagus itu! Lumayan untuk mengasah keberanian anak.” Sahutnya.

Asik mengobrol aku dan Pak carter itu, hingga kami tiba pada percakapan mengenai muasal sukuku. Sontak saja aku menjawab, “Aku asli Madura, Pak. Tapi aku mondok[1] di Jawa cukup lama, enam tahun. Makanya aku lancar basa Jawa.” Ucapku tanpa malu mengakui bahwa aku keturunan Madura.

“Iya, Mbak, walaupun gak mondok loh Mbak, kalau jaman sekarang, orang-orang di Surabaya ini hampir semuanya berbasa Jawa lancar. Soalnya lingkungan Jawa. Tapi ya tetap saja, logat sampean[2] itu masih kentara kalau orang Madura.” Ucapnya.

Aku pun seketika hanya menyeringai. Tak lama setelah itu, percakapan kami pun berakhir dengan tanggapanku atas ucapannya, “Iya loh, Pak. Sekarang itu orang Madura sudah seperti orang Jawa. Meduro Kejawan[3] kalau kata orang-orang.

Lalu aku berpikir, bahwa orang yang tinggal di Surabaya wilayahku tinggal, setidaknya kini persis yang aku obrolkan dengan tukang carter itu. Terlepas dari itu, tak menjadi sebuah permasalahan dalam kehidupan yang aku alami di kota Surabaya ini. Namun yang jadi persoalan adalah, “Lalu kenapa dengan keturunan Madura yang menetap di Jawa selalu dicap sebagai seorang yang berbeda? Seolah menjadi titik negatif seseorang, apabila ternyata dia adalah berasal dari keturunan Madura?”

Aku pun, tidak mengerti kenapa. Lebih dari itu semua, aku menyukai hidup di kota Surabaya ini, segala hal terasa begitu mudah. Baik pendidikan, akses internet, sandang pangan yang terjangkau, akses media sosial, bahkan dalam perekonomian. Terutama di Surabaya bagian Utara, harga bahan-bahan di pasar masih sangat terjangkau, bahkan murah. Itulah salah satu alasan aku menyukai tinggal di kota Surabaya.

Penulis: Febby Sadin, adalah nama pena dari seorang Febby Ani Musdalifah. Dia bekerja sebagai pendidik di Madrasah Ibtidaiyah Muslimat NU Kota Surabaya. Dia menjadi seorang penulis sejak duduk dibangku MTs. Inspirasi menulisnya berawal dari seorang guru disekolahnya saat duduk di bangku MI. Telah banyak karyanya lebih dari 10 Novel dan puluhan cerpen yang ia tulis. Semua akun medsosnya adalah Febby Sadin. Salam kenal!

Editor & Ilustrator: Hamimie


[1] Mondok adalah menimba ilmu disebuah lembaga pondok pesantren.

[2] Sampean : anda/kamu.

[3] Madura Kejawan : orang Madura tapi ngomongnya basa Jawa.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya