Bening di Sungai Kalimas

Perahu melaju menyusuri gelombang air yang mengalir stabil. Aku dan Ayah bergantian mendayung satu sama lain, berpapasan dengan ikan-ikan yang sedang menari-nari di bawah. Kelopak teratai tampak mekar mengambang. Bebatuan dan kerikil kecil terlihat jelas berserakan di bawah. Air sungai terpandang bening, sembari mataku menatap Ayah, yang sedang menceritakan presiden pertama Republik Indonesia ketika menjadi anak kos di kota ini. 

Brakkk … perahu menabrak sebuah benda yang tidak diketahui. Ayah tiba-tiba menghilang. Aku terombang-ambing penuh ketakutan. Kelap-kelip lampu jalanan menyinari beberapa kali sebelum menyala penuh dengan sorotan tajam. Entah mengapa perahu itu sirna.

Aku pun tersadar dari lamunan panjang. Persis setiap memandang ekspektasi yang hancur tentang sesuatu, jalinan cerita rumit entah terbangun sendiri atau berasal dari masa lalu, selalu muncul dalam angan. 

“Kak, kok duduk situ aja tah? sini loh!” teriakan Nenek penjaga angkringan memanggil dari samping. Padahal aku sangat ingin kembali untuk melanjutkan lamunan tadi. 

Nenek itu menyampaikan keheranannya ketika melihatku melamun di sana, katanya hampir satu jam sejak dirinya tiba untuk persiapan buka angkringan. Aku hanya menimpali dengan senyum sambil melanjutkan makan, karena biasanya lamunan itu berkali lipat lebih lama dibandingkan tadi. 

“Mbah seneng banget loh, baru jam segini sudah ada yang beli. Laris-laris,” ucapnya sambil mengibas lalat-lalat yang hinggap di atas tumpukan gorengan dan sate-satean. 

Suara sendunya menjelaskan bahwa musim hujan dalam beberapa bulan ini menjadikan angkringannya sepi. Pembeli banyak yang absen karena aroma bacem dan sekumpulan lalat yang datang dari sungai di belakang angkringan. Orang-orang mungkin tidak berselera melihat pemandangan ini ketika makan. Sungai keruh kecoklatan, bau amis, dan bermacam-macam sampah mulai dari kertas, plastik, hingga popok berseliweran. 

“Padahal pemerintah sudah buat aturan, Mbah. Tapi pabrik-pabrik gede pinter ngakali,” ucap seorang Bapak berusia 40 tahunan memakai jaket ojek online nimbrung di sampingku. 

Ngakali yok opo?” tanya Nenek tersebut. 

“Aku baca dari berita kapan lalu, industri-industri nakal itu pada buang limbah cair di sungai pas musim hujan. Air sungai kan lagi deres ya, Mbah. Jadi pencemaran susah dideteksi soale wes nyampur.” 

“Walah, pemerintah gurung iso ngatasi, opo maneh wong cilik yo, Cak?”

Aku tenggelam, tidak pada percakapan mereka, tetapi pada hal lain di luar kendali. Aku tidak tau bagaimana layar ini bisa muncul secara mendadak di kepala. Potongan adegan beberapa waktu lalu, yang membawa jalan dan hatiku pada arah berbeda. Di teras rumah, Ayah sedang duduk sambil membaca koran, dan aku pun menghampirinya. 

“Yah, Bening udah tau kalau ternyata pabrik e panjenengan juga nyumbang pencemaran di Sungai Kalimas. Temen-temen komunitas yang meneliti dan menyelidiki ini tau sumber pencemaran dari industri mana aja. Opo’o kok tegane? sakno masyarakat, Yah.”

“Bening, kon iku seh enom. Belum tau gimana tuntutan pekerjaan.” 

Pria ini bukanlah Ayah yang aku kenal di masa kecil senang menceritakan sejarah pahlawan-pahlawan. Mengajakku ke rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh. Mengenalkan bahwa rumah kos itu telah melahirkan pemuda-pemuda dengan beragam idealisme. Ayah juga pernah mengatakan kalimat seorang tokoh, bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh para pemuda”.

“Sekarang aku tau kenapa Ayah begitu tega. Ayah telah kehilangan idealisme dan menjadi tua menyebalkan,” beliau kemudian terdiam. Aku pergi dengan perasaan sedih dan kecewa. 

Aku menyusuri kampung-kampung yang dilewati Sungai Kalimas. Melihat betapa tangguhnya mereka yang menggantungkan hidup di bantaran sungai ini. Tawa canda masih begitu mudah menyebar satu sama lain. Kehidupan tampak baik-baik saja, meskipun aku sangat yakin mereka pasti memiliki impian sunyi dalam jiwa. Impian atas sungai jernih, ikan-ikan hidup bertebaran di dalamnya, dan kelopak teratai mekar sempurna ketika matahari terbit.

“Kalau menurut Kakaknya, gimana?” Bapak ojek online menghentikan lamunanku.

Mereka bertanya terkait pendapatku mengenai pencemaran di Sungai Kalimas. Aku menjelaskan sebaik mungkin mengenai pola-pola pencemaran itu terjadi. Aku sampaikan dengan pilu dari mana asal muasal sampah-sampah ini, persentase limbah industri dan limbah rumah tangga sebagai penyumbang utama. Hal apa saja yang mungkin saat ini bisa kita lakukan untuk meredam pencemaran.

Mereka pun mengangguk-angguk penuh semangat, seperti anak kecil mendapat penjelasan tentang sebuah dunia baru.

Mbuh kapan kalau sungai ini bersih terus banyak wisatawan, pasti daganganku rame. Iya kan, Kak?” tanya Nenek penjaga angkringan melirikku, dan tak ada jawaban selain senyum tipis sambil mengaminkan hal itu. 

“Nanti biaya sewa tempat ini pasti bakal naik loh, Mbah,” sahut Bapak ojek online.

“Waduh, jangan kalo yang itu,” jawaban Nenek diiringi tawa kami bersamaan.

Aku telah berpamitan kepada mereka. Duduk di sebuah bangku yang jauh dari angkringan, lalu membuka ponsel. Ada banyak notifikasi dari aplikasi hijau. Namun, untuk sekarang ini hanya satu pesan yang akan kubalas. Sahabatku, sekaligus my psychologist. Dia menanyakan kabar maladaptive daydreaming yang sedang melekat pada tubuhku. 

Aku membalas pesannya dengan mengatakan bahwa tampaknya lamunanku tidak lagi mengganggu interaksi dengan sekitar, berlangsung lebih singkat, dan tidak serumit sebelumnya. Lalu aku mengetik sebuah nama pada kolom pencarian pesan, membuka blokir pada kontak tersebut. Menuliskan beberapa kalimat dengan jemari yang terasa berat.

“Yah, kesedihan Sungai Kalimas dan masyarakat sekitar akan terus menghantui kehidupan kita. Bagaimana panjenengan siap menanggung hutang atas perasaan mereka? Aku akan pulang hanya ketika Ayah berhenti,” dan setelah terkirimkan, aku memblokirnya kembali. 

Aku tidak tahu apakah sikap kepada Ayah akan membuat Tuhan mengutukku. Kekecewaan dan rasa sakit telah tumbuh subur dalam diriku, bersamaan dengan idealisme yang bahkan ditanam oleh Ayah sendiri. Aku memang masih berjuang merapikan kekusutan benang-benang di kepala yang sedang menjerat, dan berjanji tetap merawat idealisme ini. 

Sebelum mematikan ponsel, sebuah notifikasi pengingat kalender muncul untuk mengingatkan agenda besok, (07.00-12.00: acara komunitas, bersih-bersih Sungai Kalimas). 

_

Karya: Sindah Laili Nurjanah, seseorang yang lahir di Kediri 27 Juli 2004, juga sebagai mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro yang memiliki ketertarikan pada tema-tema lingkungan, kritik sosial, dan kesehatan mental. Puisi dan cerpen menjadi manifestasi keresahan, dengan beberapa karyanya telah meraih penghargaan serta dimuat dalam antologi bersama, buletin, dan media. Sapa melalui instagram @sindah_nurjanah.

Editor: Azkal Azkia Nurrohmat

Foto: Unsplash.com/Gláuber Sampaio

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya