Skizofrenia Bukan Kutukan!

Alya menatap jendela sempit di ruang kontrakannya yang selalu beraroma lembap. Kota Konoha, pagi itu, masih sama: berisik, panas, dan penuh orang-orang yang tampak selalu bergerak lebih cepat dari waktu. Di trotoar sempit, pedagang kaki lima menjajakan sarapan, klakson mobil saling bersahutan, asap knalpot membentuk kabut tipis yang lalu menempel di rambutnya. Alya menghela udara panjang, tapi paru-parunya terasa penuh debu. Ia kembali menunduk pada meja kerja, menatap tumpukan dokumen yang harus diselesaikan hari itu. Gaji honorer bulanan yang pas-pasan membuatnya bergantung pada jam lembur, juga sedikit harapan pada bos yang pelit senyum. Ibunya selalu menanyakan kapan Alya bisa pulang lebih awal, menyiapkan makan malam hangat, tapi Alya tidak mampu menjawab. Ia merasa bersalah. Dan perasaan itu menghinggapi tulang punggungnya.

Sudah dua minggu terakhir Alya merasa ada sesuatu yang salah dalam pikirannya. Kadang ia mendengar suara-suara samar, bisikan, seolah mengajaknya melakukan hal-hal tidak masuk akal. Ia mulai menertawakannya, meyakinkan diri bahwa itu hanya efek kelelahan dan stres. Tapi malam-malamnya dipenuhi mimpi buruk, dan bangun dengan tubuh gemetar menjadi rutinitas yang tidak bisa dihindari. Di kantor, teman-temannya melihat perubahan itu. “Kamu kenapa, Alya? Tampak kusut sekali?”, tanya Lintang, sambil menyodorkan secangkir kopi. Alya tersenyum saja, rasa lelahnya begitu dalam untuk dijelaskan, pikirnya. Stigma di Konoha memang nyata: setiap orang yang terlihat lemah dianggapnya tak kompeten, tak berdaya. Bahkan kadang, berbahaya.

Dokumen untuk mengurus bantuan kesehatan mental sudah menumpuk di mejanya dari sebulan lalu. Setiap ia mulai mengurusnya, langkahnya tertahan birokrasi Konoha yang berlapis-lapis. Syarat administrasi yang panjang, biaya transportasi tinggi untuk datang ke puskesmas, dan jam layanan yang terbatas membuat Alya merasa terjebak. Ia bertanya-tanya, apakah kota ini benar mau melihat warganya sehat, atau hanya sibuk menjaga citra pemerintahan yang banyak aturan dan miskin empati? Di rumah, ibunya terus-terusan menanyakan soal pekerjaan dan gaji. “Alya, jangan sampai terlambat lagi. Hidup itu keras, kamu harus menyesuaikan diri.” Kata-kata itu menekan lebih dalam dari bunyi klakson di jalanan. Alya merasakan kombinasi berat: tubuhnya letih, pikirannya kusut, dan hatinya seakan terkunci dalam kotak kecil yang sempit.

Dalam sunyi malam, Alya menulis di jurnal kecilnya: “Apakah aku salah karena merasa begitu rapuh? Apakah dunia ini terlalu cepat atau aku yang terlalu lamban?” Ia menatap pena yang bergetar di tangannya, seakan mencari jawaban dari tinta hitam di atas kertas. Kota yang sama yang memberinya pekerjaan, juga mengekang, menekan, dan menumbuhkan bisikan-bisikan di kepalanya. Malam itu, ia sadari satu hal, tekanan tak hanya berhulu dari dirinya sendiri, tapi justru dari sistem yang seharusnya melindungi. Juga, kota yang teramat padat, regulasi yang menyeramkan, tetangga yang takut berkomentar karena stigma, dan orang-orang yang bahkan tidak tahu cara menolongnya. Ia merasakan kebutuhan untuk pergi, untuk mencari ruang yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari Konoha. Mungkin hanya di sana, pikir Alya, pikiran bisa berhenti keliling, hatinya menemukan nafas.

Hari-hari Alya di Konoha terasa seperti siklus yang tak berujung: bangun, bekerja, pulang, menulis di jurnal, tidur, dan memulai lagi. Tapi kini, siklus itu mulai retak. Suara-suara samar di kepalanya semakin sering timbul, kadang hanya seperti bisikan halus di sudut telinga, kadang seperti teriakan yang memaksa. Ia berusaha menutup telinga, tapi bisikan itu tetap ada, memberi arahan yang ia tahu salah, namun rasanya sulit untuk diabaikan. Di kantor, dokumen yang seharusnya selesai minggu lalu kini menumpuk, menunggu tanda tangan, cap, dan stempel. Birokrasi Konoha seperti labirin tanpa peta. Setiap langkah untuk mengakses bantuan kesehatan mental membutuhkan formulir, fotokopi, tanda tangan pejabat, dan waktu yang tak pernah cukup. Biaya transportasi untuk pergi ke puskesmas pun membuatnya berpikir ulang. Gaji honorer yang serba pas itu akan ludes hanya untuk mengantre di meja pelayanan.

Alya merasa asing di kota sendiri. Stigma masyarakat semakin menekan. Teman-teman pegawai sering menatapnya dengan tatapan aneh, dan tetangga yang dulu ramah kini menyingkir saat melihatnya. “Hati-hati, Alya, jangan sampai terbawa hal-hal aneh,” ujar seorang tetangga dengan nada setengah menuduh, setengah prihatin. Di rumah, ibunya tidak menyadari, mungkin juga menolak, bahwa Alya membutuhkan lebih dari sekadar nasihat. “Kamu harus kuat, Alya. Hidup itu keras, jangan lemah,” tegurnya, tanpa tahu ia tak cuma lelah fisik, tapi juga mental. Setiap hari Alya bertarung sendirian, menahan bisikan-bisikan yang kadang mengatakan hal-hal yang menakutkan.

Sore itu, Alya tergerak untuk sekali ini mengurus dokumen agar mendapat sesi psikolog di puskesmas. Ia bawa semua salinan yang dibutuhkan, formulir sudah diisi, juga surat rekomendasi dokter. Tapi petugas bilang, “Datang lagi besok. Dokumen belum lengkap, harus ada tanda tangan lurah.” Besok, imbuhnya, akan ada petugas lain yang harus meninjau. Transportasi umum yang lambat dan mahal membuatnya merasa terperangkap. Alya menatap meja yang penuh dokumen, napasnya terasa berat, kepalanya berdenyut. Ia merasa kota ini bukan sekadar fisik yang menekan, tapi juga sistem yang menjerat. Malam itu, mimpi buruk kembali menyergap. Ia bermimpi dikejar bayangan gaib, yang berbisik bahwa sebentar lagi orang-orang akan meninggalkannya; pekerjaan, keluarga, dan teman-teman ilusi belaka. Bangun dengan tubuh gemetar, Alya menatap langit-langit kamar, mencoba menenangkan diri. Tapi pikirannya tidak mau berhenti. Ia merasa terjebak dalam kota yang bising, di antara manusia yang tidak berempati, aturan yang mengekang.

Alya mulai bertanya, suara-suara itu nyata, kah? Atau hanya refleksi dari stres yang bertahun-tahun menumpuk? Ia merasakan ada yang menekan luar dalam secara simultan, seperti dua sisi gunting menekan dada dan perutnya. Ia ingin lari, tapi kemiskinan, tanggung jawab pada keluarga, menahan langkahnya. Di meja kecil di pojok kontrakan, Alya menulis lagi di jurnal: “Aku ingin pergi. Tidak tahu ke mana, tapi jauh dari sini.” Pena gemetar di tangannya.

Ia tahu keputusannya tidak mudah. Pergi berarti meninggalkan pekerjaan yang menahan gaji kecilnya, meninggalkan ibu yang mengandalkan kehadirannya, dan menghadapi risiko ekonomi yang lebih besar. Tapi seiring malam semakin larut, satu pikiran menyembul dalam benaknya, jika ia tidak mencari ruang aman, ia bisa saja hilang dalam labirin kota yang menekan ini. Alya menutup jurnalnya dan menatap jendela. Kota Konoha masih berkilau dengan lampu-lampu jalan, mobil yang bergerak cepat, dan kehidupan yang tampak normal bagi orang lain. Tidak bagi Alya, kota ini adalah mahluk penggencet, penyeru bisikan-bisikan, yang membuatnya mempertanyakan kewarasan sendiri. Ia memejamkan mata, dalam hati berbisik, “Suatu saat, aku akan pergi entah. Mencari sunyi. Mencari tetirah.”

Alya menatap koper tua di sudut kamar kontrakan, menyadari bahwa kota Konoha yang bising dan menekan bukan lagi tempat yang aman baginya. Bisikan-bisikan di kepalanya semakin sering muncul, memaksa, membingungkan, tapi juga memberi peringatan. Ia tahu, jika tidak segera mengambil langkah, ia bisa tenggelam dalam tekanan mental yang terus menumpuk. Dengan keberanian yang tersisa, Alya memilih tetirah pergi ke pegunungan yang jauh, mencari jeda bernapas, memahami diri, menenangkan segala yang kini menguasai hidupnya.

Di desa, udara segar dan kesederhanaan hidup perlahan menenangkan jiwanya. Ia membantu warga lokal, mengajar anak-anak, selain tetap menulis jurnal, memeriksa bisikan-bisikan lama dengan penuh kesadaran. Tidak ada lampu kota, tidak ada birokrasi. Alya mulai memahami bahwa skizofrenia bukan kutukan. Skizofrenia, gumamnya, sewajar kondisi medis yang memerlukan perawatan, kesabaran, dan ruang untuk pulih.

Tetapi dalam kealpaan Konoha tetap membayang. Ekonomi yang rapuh dan regulasi yang mengekang selalu menunggu, mengingatkan Alya bahwa tetirah hanyalah langkah sementara. Saat kembali ke kota, ia membawa ketenangan, strategi, dan jiwa baru sebagai bekal menghadapi tekanan sosial, stigma, dan birokrasi tanpa kehilangan diri. Ia belajar bahwa kesehatan mental adalah perjuangan yang memerlukan ruang, waktu, dan keberanian. Di sudut kantor, di tengah tumpukan dokumen, Alya menutup mata sejenak. Ia tersenyum tipis. Tetirah bukan pelarian. Di pegunungan yang jauh, ia menubuh pada alam, tenang, lebur dengan hangat yang melingkupinya.

Penulis: M. Hikmal Yazid

Editor & Ilustrator: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya