Dua Wajah Shu Qi di JAFF 2025 — Resurrection dan Girl
Shu Qi for Vogue Moment Special Fall Issue 2025
Resurrection & Girl (2025)

Kehadiran dua film Shu Qi di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025 membuka ruang pembacaan yang menarik tentang bagaimana seorang aktor sekaligus pembuat film hadir dalam dua dunia sinema yang sangat berbeda. Resurrection dan Girl sama-sama bergerak dari tema kesadaran, ingatan, dan luka, tetapi memilih pendekatan yang berlawanan. Yang satu berangkat dari wilayah mimpi dan waktu yang terjebak, sementara yang lain berpijak pada realitas sosial dan sejarah keluarga. 

Profil Shu Qi: Perjalanan Panjang Seorang Aktris Legendaris Asia

Shu Qi filmography (dari kiri ke kanan): Gorgeous (1999); Millennium Mambo (2001); Visible Secret (2001); So Close (2002); The Transporter (2002); New York, I Love You (2008); The Assassin (2015); The Resurrected (2025); Resurrection (2025).

Shu Qi merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam sinema Tiongkok dan Asia Timur selama lebih dari tiga dekade terakhir. Karirnya berkembang lintas genre dan konteks produksi—mulai dari film komersial hingga sinema auteur—menjadikannya sosok yang mampu melampaui batas industri sekaligus generasi. Keberadaannya di berbagai festival film internasional menegaskan posisinya sebagai aktris yang konsisten bergerak di wilayah sinema yang beragam, tanpa kehilangan identitas artistik. 

Ia mulai dikenal luas pada akhir 1990-an dan awal 2000-an melalui peran-peran yang berani dan emosional, sebelum kemudian menapaki jalur sinema artistik bersama sejumlah sutradara penting Asia. Salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut adalah Millennium Mambo (2001) karya Hou Hsiao-hsien, di mana Shu Qi tampil sebagai Vicky—sosok perempuan muda yang terombang-ambing antara kebebasan dan kehampaan. Peran ini kerap dianggap sebagai citra ikonik sinema Asia awal milenium dan memperkenalkan Shu Qi sebagai wajah penting sinema arthouse. 

Kolaborasinya dengan Hou Hsiao-hsien berlanjut dalam Three Times (2005), film yang menempatkan Shu Qi dalam tiga peran berbeda di tiga periode waktu yang berbeda pula. Melalui film ini, kematangan aktingnya terlihat jelas, terutama dalam membangun emosi dengan pendekatan yang halus dan minim dialog. Puncak kerja sama tersebut hadir dalam The Assassin (2015), di mana Shu Qi memerankan Nie Yinniang—tokoh yang ditampilkan dengan kontrol gestur dan ekspresi yang presisi. Film ini memenangkan Best Director di Festival Film Cannes dan menjadi salah satu karya paling penting dalam filmografi Shu Qi. 

Di luar sinema auteur, Shu Qi juga memiliki kehadiran kuat dalam film arus utama. Seri If You Are the One (2008 & 2010), misalnya, menunjukkan kemampuannya menjangkau penonton yang lebih luas tanpa kehilangan kedalaman karakter. Pilihan peran yang beragam—mulai dari drama, romansa, hingga film aksi—membentuk reputasinya sebagai aktris serba bisa yang mampu bergerak lentur di antara tuntutan pasar dan visi artistik. 

Jejak internasional Shu Qi juga tercatat melalui partisipasinya dalam produksi Hollywood, yang paling dikenal adalah The Transporter (2002), di mana ia beradu peran dengan Jason Statham. Keterlibatan ini menandai langkah awalnya di industri film Barat dan memperluas eksposurnya ke penonton global. Meski demikian, Shu Qi tidak sepenuhnya membangun karier di Hollywood. Pilihannya untuk kembali berfokus pada sinema Asia justru mempertegas identitas artistiknya, dengan menempatkan kualitas peran dan eksplorasi karakter sebagai prioritas utama. 

Debut penyutradaraan Shu Qi melalui Girl (2025) menandai fase baru dalam perjalanan panjang tersebut. Film ini memperlihatkan ketertarikannya pada narasi yang intim, relasi antargenerasi, serta tokoh perempuan yang hidup dalam bayang-bayang sejarah keluarga. Kepekaan terhadap emosi, keheningan, dan detail karakter—yang selama ini menjadi ciri khas aktingnya—dipindahkan ke balik kamera. Dengan langkah ini, Shu Qi tidak hanya hadir sebagai ikon layar, tetapi juga sebagai pembuat film yang mulai merumuskan bahasa sinematiknya sendiri. 

Resurrection: Kesadaran yang Terjebak dan Cerita yang Tak Pernah Usai

Sinopsis: 

Kesadaran seorang wanita terperangkap dalam zona waktu abadi selama prosedur pembedahan. Terkurung dalam banyak mimpi, ia menemukan jasad sebuah android dan berusaha membangunkannya dengan menceritakan kisah-kisah tanpa akhir. 

Production Company: Huace Pictures, Dangmai Films (Shanghai), CG Cinema, Arte France Cinema, Obluda Films

Producer: Charles Gillibert, Yang Lele, Zuolong Shan

Scriptwriter: Bi Gan

Cinematographer: Jingsong Dong

Production Designer: Liu Qiang, Tu Nan

Editor: Bi Gan

Main Cast: Jackson Yee, Shu Qi

Notable Achievement

  • Winner Jury’s Special Award – Cannes Film Festival, France. 2025
  • Winner Busan Award-Artistic Contribution Award Busan International Film Festival, South Korea. 2025

Resurrection mengisahkan kesadaran seorang perempuan yang terperangkap dalam zona waktu abadi selama prosedur pembedahan. Dalam kondisi tersebut, ia terkunci dalam lapisan mimpi yang saling berkelindan. Di salah satu dunia mimpi itu, ia menemukan jasad sebuah android dan berusaha membangunkannya dengan menceritakan kisah-kisah tanpa akhir. 

Struktur cerita film ini tidak berjalan secara linear. Disutradarai oleh Bi Gan, Resurrection bergerak seperti arus kesadaran yang terus berpindah, membiarkan penonton berada di antara kepingan dunia yang tidak selalu saling menjelaskan. Plotnya terfragmentasi, dan setiap bagian terasa berdiri sebagai ruang tersendiri—dengan gaya visual, ritme, dan atmosfer yang berubah-ubah. 

Tokoh perempuan yang diperankan Shu Qi dalam Resurrection memang tidak muncul secara dominan sepanjang durasi film. Kehadirannya terbatas pada pembuka cerita dan kembali muncul menjelang akhir, namun keterbatasan waktu layar tersebut tidak mengurangi bobot perannya. Justru sebaliknya, sosok ini berfungsi sebagai penggerak utama yang memungkinkan film berpindah dari satu lapisan mimpi ke lapisan berikutnya. 

Ia tidak dibangun sebagai karakter dengan latar psikologis yang rinci atau perkembangan emosi yang konvensional. Perannya lebih menyerupai dalang yang menggerakkan struktur cerita, sosok yang memicu peralihan antar dunia dan menjaga alur film tetap bergerak meski narasinya terfragmentasi. Melalui kisah-kisah yang ia ceritakan kepada android—yang berulang, bercabang, dan seolah tak berujung—film ini menemukan ritmenya sendiri. 

Keputusan untuk menempatkan tokoh ini di pinggiran durasi, namun di pusat fungsi naratif, menegaskan pendekatan Resurrection yang tidak menempatkan karakter sebagai pusat empati, melainkan sebagai mekanisme penceritaan. Shu Qi hadir bukan untuk menjelaskan atau menyederhanakan dunia film, melainkan sebagai penyambung antar plot, figur yang memastikan bahwa mimpi, waktu, dan cerita terus bergerak meski tanpa arah yang pasti. 

Dengan demikian, peran Shu Qi dalam Resurrection tidak diukur dari seberapa sering ia muncul, melainkan dari seberapa menentukan keberadaannya terhadap struktur film secara keseluruhan. Ia menjadi poros yang menghubungkan kesadaran, cerita, dan waktu yang membeku—menjadikannya figur kunci dalam dunia film yang penuh lapisan dan ketidakpastian. 

Girl: Kesunyian, Pertemanan, dan Luka yang Diwariskan

Sinopsis: 

Taiwan, 1988. Hsiao-lee, seorang gadis pendiam dan tertutup, tumbuh dalam kesunyian yang kelam. Pertemuannya dengan Li-li, gadis ceria dan bebas, membangkitkan kembali mimpi-mimpi yang telah lama terpendam. Namun ketika Hsiao-lee mulai membuka diri terhadap dunia, masa lalu ibunya, Chuan, kembali menghantui — menggema dengan luka dan kesedihan yang belum sembuh. Terjebak antara duka yang diwarisi dan kerinduan akan kebebasan, Hsiao-lee harus menghadapi bayang-bayang kehidupan yang tak pernah ia pilih. 

Production Company: Mandarin Vision Co., Ltd. 

Producer: YEH Jufeng

Scriptwriter: Shu Qi

Cinematographer: YU Jin-Pin

Production Designer: HUANG Mei-Ching

Editor: William CHANG Suk-Ping, LAI Kwun-tung

Main Cast: Roy CHIU, 9m88, BAI Xiao-Ying

Notable Achievement

  • Venice International Film Festival
  • Toronto International Film Festival
  • Busan International Film Festival

Berbeda dengan pendekatan abstrak Resurrection, Girl dibuka di Taiwan pada tahun 1988. Hsiao-lee, seorang gadis pendiam dan tertutup, tumbuh dalam kesunyian yang kelam. Pertemuannya dengan Li-li—gadis yang ceria dan bebas—perlahan membangkitkan mimpi-mimpi yang lama terpendam. Namun ketika Hsiao-lee mulai membuka diri terhadap dunia, masa lalu ibunya, Chuan, kembali menghantui, membawa luka dan kesedihan yang belum sembuh. 

Sebagai debut penyutradaraan Shu Qi, Girl memilih jalur yang jauh lebih membumi. Film ini berfokus pada tokoh dan relasi antar karakter, dengan alur cerita yang berjalan relatif jelas. Kekuatan utamanya terletak pada cara perubahan emosional tokoh utama ditampilkan secara perlahan, tanpa tekanan dramatik yang berlebihan. 

Hsiao-lee digambarkan sebagai tokoh yang tidak mudah dibaca. Keheningan menjadi bagian penting dari karakternya, dan film ini memberi ruang bagi gestur-gestur kecil untuk berbicara. Pertemanan dengan Li-li berfungsi sebagai titik kontras sekaligus pemicu perubahan, tetapi tidak pernah ditawarkan sebagai solusi yang sederhana. Bayang-bayang masa lalu sang ibu terus hadir, membentuk ruang emosional yang membuat Hsiao-lee terjebak di antara duka yang diwariskan dan kerinduan akan kebebasan. 

Pendekatan visual Girl cenderung intim. Kamera sering berada dekat dengan tokoh, memungkinkan penonton mengamati perubahan sikap, respons, dan cara Hsiao-lee memandang dunia di sekitarnya. Shu Qi tampak lebih tertarik pada proses batin dibandingkan konflik besar, menjadikan Girl sebagai film yang bekerja lewat kedekatan emosional. 

Penulis naskah sekaligus sutradara Shu Qi di lokasi syuting film debut penyutradaraannya, “Girl” (2025).
Foto: simonchouchou (X)

Jika Resurrection berbicara tentang kesadaran yang terjebak dalam waktu dan cerita, maka Girl menyoroti individu yang terikat pada sejarah keluarganya sendiri. Keduanya sama-sama menempatkan tokoh perempuan sebagai pusat, tetapi dengan cara yang berbeda: satu bergerak di wilayah mimpi dan simbol, sementara yang lain berpijak pada realitas sosial dan relasi antargenerasi. 

Diputar berdekatan dalam konteks festival, kedua film ini memperlihatkan spektrum kehadiran Shu Qi dalam sinema kontemporer. Di Resurrection, ia menjadi bagian dari visi besar Bi Gan yang eksperimental dan penuh lapisan. Di Girl, ia tampil sebagai pembuat film yang percaya pada kekuatan karakter, keheningan, dan cerita yang personal.

Melalui Resurrection dan Girl, JAFF 2025 menghadirkan dua pengalaman menonton yang kontras namun saling melengkapi. Keduanya menunjukkan bahwa sinema dapat bergerak ke arah yang sangat berbeda—abstrak maupun intim—tanpa kehilangan daya resonansinya. Dalam dua film ini, Shu Qi hadir sebagai penghubung antara dunia mimpi dan dunia nyata, antara pengalaman visual yang eksperimental dan cerita manusia yang sunyi namun dekat. 

Baca Juga: Belajar Mendengarkan yang Rapuh: Dua Film Panjang Korea Selatan di JAFF 2025 — Summer’s Camera dan The World of Love

Referensi 

20th JAFF Film Festival “Transfiguration” Festival Catalogue 

https://cnalifestyle.channelnewsasia.com/entertainment/shu-qi-best-director-girl-busan-international-film-festival-471951

https://www.asiapacificscreenawards.com/apsa-academy-members/shu-qi

https://www.festival-cannes.com/en/p/shu-qi

https://www.nst.com.my/amp/lifestyle/groove/2025/10/1285137/showbiz-shu-qi-named-best-director-busan-film-festival

https://www.rottentomatoes.com/celebrity/qi_shu

https://e.vnexpress.net/news/life/arts/shu-qi-s-directorial-debut-girl-shortlisted-for-top-prize-at-venice-film-festival-4919725.html

https://www.taipeitimes.com/News/taiwan/archives/2025/09/28/2003844565

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya