Catatan Webinar Bersama Mila: Belajar Menulis dari Keresahan
Webinar Proses Kreatif Bersama Mila

MenulisID kembali sukses menggelar webinar bertema “Dari Hobi ke Karya: Membedah Proses Kreatif Bersama Mila” pada Sabtu malam (29/11). Sebagai komunitas yang aktif mendorong gerakan literasi, MenulisID menggandeng Mila, penulis muda yang karyanya telah diterbitkan dan banyak menginspirasi pembaca. Mila dikenal lewat karyanya, Youth: Kamu Unik dengan Warnamu Sendiri. Buku ini adalah buku ketiganya setelah dua buku karyanya lahir yang berjudul My Answer is You (2015) dan Tak Bertuan (2020).

Webinar digelar melalui Zoom Meeting dan dimulai pukul 19.00 ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah. Antusiasme terlihat dari para peserta, terutama mereka yang menaruh ketertarikan pada proses menulis dan ingin memperdalam proses kreatif mereka. 

Kak Soffya Ranti, selaku founder komunitas MenulisID mengungkapkan alasannya memilih Mila sebagai pembicara pada webinar kali ini. “Mila adalah salah satu narasumber dengan niche yang sangat dekat dengan para penulis pelajar maupun pemula, terutama yang memiliki minat pada budaya Korea dan dunia K-Pop. Karya-karyanya lahir dari pengalaman pribadi, lalu diramu menjadi buku self-improvement yang relevan dan menginspirasi.” 

Webinar dipandu oleh Mas Cori, selaku Partnership Leader MenulisID. Sepanjang acara, Mas Cori membantu menjembatani para peserta yang ingin bertanya dan berdiskusi langsung dengan Mila. Suasana webinar begitu hidup karena penyampaian Mila yang santai dan hangat, sehingga para peserta merasa nyaman untuk berinteraksi dengannya. 

Pertama-tama, Mila memperkenalkan dirinya sebagai seseorang dari latar belakang keperawatan yang memililki hobi menulis sejak lama. Ia memulai perjalanan kepenulisannya dengan menerbitkan novel pertamanya pada tahun 2015. Lima tahun kemudian, ia melahirkan kembali karya puisi berjudul Tak Bertuan.

Catatan Webinar Bersama Mila: Belajar Menulis dari Keresahan

Mila membagikan perjalanan kreatifnya yang berawal dari kebiasaan menulis diari dan mengunggah cerita di Facebook. Kemudian, ia mulai mengenal Wattpad sebagai platform membaca dan menulis cerita.

Mila mulai berkembang lebih jauh setelah bergabung dalam komunitas literasi, tempat ia belajar menulis prosa dan puisi.

Sejak 2019 hingga sekarang, Mila mulai menekuni penulisan nonfiksi. Ia beberapa kali mengirimkan naskah ke berbagai penerbit, namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Mila mengakui bahwa ia juga kerap mengalami penolakan dari para penerbit.

Kendati demikian, ia tidak pernah berhenti berkarya. Buah itu ia petik di tahun-tahun berikutnya. Pada 2020 ia berkolaborasi menulis dengan seniornya di komunitas menulis untuk menerbitkan buku.

Hingga pada 2024, Mila berhasil menerbitkan bukunya sendiri berjudul Youth: Kamu Unik Dengan Warnamu Sendiri. Kini bukunya telah dibaca banyak pembaca dan menjadi salah satu karyanya yang paling dikenal.

Catatan Webinar Bersama Mila: Belajar Menulis dari Keresahan

Ada cerita menarik di balik lahirnya buku Youth. Mila bercerita bahwa ia juga merupakan penggemar K-pop. Namun, kecintaannya itu justru sering membuatnya menjadi sasaran olok-olok dari sekitarnya. Ia kerap mendengar stigma negatif terhadap K-popers, mulai dari dianggap fanatik, alay, hingga cemoohan seperti “pemuja plastik”.

Kondisi tersebut membuat Mila sempat merasa sedih dan tidak percaya diri. Namun, alih-alih larut dalam perasaan negatif, ia justru menjadikan keresahannya sebagai bahan bakar proses kreatifnya. Mila ingin menunjukkan bahwa seseorang bisa tetap menjadi diri sendiri, bahagia, dan terus berkembang tanpa perlu merasa berkecil hati. 

Langkah pertama yang Mila lakukan dalam proses kreatifnya adalah mengolah emosi menjadi ide. Ia menjadikan pengalamannya itu sebagai tema utama dalam buku Youth. Dari ide tersebut, ia kemudian menyusun outline sebagai panduan untuk memudahkannya menulis secara terstruktur.

Mila menulis dengan ritme pelan dan tenang, menyelesaikan naskahnya bab demi bab, sambil menjaga agar setiap tulisannya tetap jujur dan memiliki kekuatan pesan. 

Ia juga menekankan pentingnya riset. Mila banyak membaca buku-buku seputar self-improvement untuk memperkaya dan memperkuat tulisan nonfiksinya. Tantangan juga dihadapi Mila, yaitu peralihan dari menulis fiksi ke menulis nonfiksi yang membutuhkan pendekatan berbeda. 

Setelah naskah selesai, Mila memasuki fase revisi. Ia sengaja mengendapkan naskahnya selama beberapa waktu agar bisa menilainya ulang dengan pikiran yang jauh lebih segar. Barulah setelah ia memastikan semua siap, Mila mulai menyerahkan naskahnya ke editor. 

Catatan Webinar Bersama Mila: Belajar Menulis dari Keresahan

Sesi berikutnya, Mila membagikan lima tips menulis yang ia gunakan dalam proses kreatifnya. Pertama, ia mengajak para peserta untuk mindfulness, yaitu merasakan seluruh pancaindra kita agar emosi dapat tertangkap dan dituangkan secara lebih hidup dalam tulisan. 

Kedua, ia menekankan pentingnya kejujuran. Menurutnya, karya yang menyentuh pembaca selalu berangkat dari ketulusannya penulisnya. 

Ketiga, memilih satu pesan utama yang ingin disampaikan dalam tulisan. Terlalu banyak pesan justru akan membuat pembaca bingung dan mengaburkan fokus karya. 

Keempat, Mila mendorong para peserta untuk rajin menabung ide. Menurutnya, writer’s block bukanlah karena kehabisan ide, melainkan karena penulis lupa mencatatnya. Ide bisa muncul di berbagai momen, jadi jangan lupa untuk mencatat ide itu.

Terakhir, Mila menyampaikan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Kebanyakan penulis berhenti menulis karena merasa tulisannya tidak pernah jadi versi terbaik. Jangan menunggu sempurna untuk memulai dan mempublikasikan karya, yang terpenting adalah kita harus berani menuntaskan tulisan yang kita mulai.

Di akhir juga, Mila memberikan tips untuk jangan lupa kenali penerbit yang akan kita tuju, mulai stalking akun media sosial penerbit, dan menghadiri event yang diadakan penerbit. Di sana, kita bisa punya kesempatan untuk mendapatkan informasi lengkap terkait penerbit yang akan kita tuju. 

Catatan Webinar Bersama Mila: Belajar Menulis dari Keresahan

Webinar malam itu berlangsung dengan seru dan penuh kehangatan. Para peserta aktif terlibat diskusi, mengajukan pertanyaan, dan saling berbagai padangan bersama Mila.

Kak Soffya Ranti juga turut menyampaikan, “Melalui kelas ini, aku berharap teman-teman bisa berani menuangkan ide apa pun dalam bentuk karya, jangan menunggu sempurna. Mulailah dari keresahan, pengalaman, dan hal-hal sederhana yang bermakna,” pesannya.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya