Ada kalanya mendukung tim esports terasa seperti pekerjaan paruh waktu yang melelahkan hati. Bagi saya, pekerjaan itu adalah ketika saya mendukung sebuah tim bernama KT Rolster. Selama hampir empat tahun, tim ini mengajarkan saya makna sebenarnya dari kata ‘harap-harap cemas’ dan tak lupa ‘do not get excited’—sensasi di mana janji kemenangan selalu terbentang di depan mata, namun kegagalan hanya sejengkal di belakangnya.
Saya bukan sekadar penonton, yang walaupun belum pernah menyaksikan pertandingan tim ini secara langsung; saya adalah penumpang setia rollercoaster emosi yang dibentuk oleh roster shuffle setiap tahunnya, winning streak yang memabukkan di 2023, hingga kekecewaan di setiap babak eliminasi. Saya memilih KT Rolster di tahun 2022, bukan karena mereka dominan, melainkan karena narasi perjuangan mereka terasa autentik.
Artikel ini merupakan jurnal saya. Sebuah catatan pribadi tentang bagaimana saya menyaksikan KT Rolster berevolusi dari tim yang terus-menerus merombak diri menjadi tim yang mampu mencetak sejarah di kancah internasional, Worlds, pada 2025. Inilah kisah tentang patah hati, euforia, dan mengapa komitmen seorang penggemar sejati tidak akan pernah terikat pada gelar juara.
Musim Spring 2022, Sorakan Pertama “KT Fighting!”

Lee “Aria” Ga-eul, Kim “Life” Jeong-min, Kim “Gideon” Min-seong, Kim “Aiming” Ha-ram, Lee “VicLa” Dae-kwang, Kim “Rascal” Kwang-hee, dan Moon “Cuzz” Woo-chan.
Foto: League of Legends Champions Korea
Pada musim Spring 2022, saya melihat barisan pemain baru KT Rolster—yang sebagian besar adalah wajah-wajah veteran yang mencari kesempatan untuk kesekian kalinya. Ada Kim “Rascal” Kwang-hee, Moon “Cuzz” Woo-chan, Kim “Aiming” Ha-ram, dan Kim “Life” Jeong-min, serta kedatangan Lee “Aria” Ga-eul dan debut pemain rookie Kim “Gideon” Min-seong di jungle dan Lee “VicLa” Dae-kwang di mid lane. Media dan banyak analis menempatkan kami sebagai tim medioker; potensi ada, tetapi hasil diragukan. Namun, justru keraguan itu yang membuat saya tertarik.
Di tengah dominasi tim besar lain, KT terasa seperti underdog yang layak dipertaruhkan. Ketika mereka akhirnya berhasil meraih babak Playoffs di musim Summer, terlepas dari hasil akhir musim (yang berakhir di posisi ke-5), saya telah menemukan tim untuk saya dukung sepenuhnya. Ini adalah sorakan pertama “KT Fighting!” yang sesungguhnya.
Tim ini tentunya sudah lama di LCK, mewarisi rivalitas lama Telecom War (dengan SKT/T1) yang legendaris. Mendukung KT terasa bagaikan melanjutkan tradisi lama yang mendambakan kejayaan. Di tengah dominasi T1 yang tak terkalahkan, memilih KT di 2022 adalah keputusan yang melawan arus. Namun itu adalah pernyataan: saya di sini untuk mendukung underdog.
Sejak awal saya telah mengetahui bahwa KT memiliki gaya bermain yang terasa sulit diprediksi dan tidak terduga. Seringkali unggul di awal (early game), tetapi para penggemar termasuk diri saya paham, justru itu bukan sebuah ‘kelegaan’ melainkan ‘pertanyaan’ apakah mereka akan konsisten atau jatuh bangun.
Salah satu tujuan utama ketika kita mendukung tim esports League of Legends adalah ‘mendorong’ mereka untuk bisa melambung naik menuju turnamen internasional Worlds. Namun saat itu, KT belum berhasil unjuk gigi bahwa mereka layak bertanding di ajang bergengsi tersebut. Mereka harus tunduk dalam Regional Qualifier melawan DRX, yang siapa sangka mampu meraih kejuaraan Worlds 2022.
Jeratan Bo5 dan Kekecewaan di Perempatfinal, Bukti Pahit dari Kutukan 2023 KT

Gwak “Bdd” Bo-seong, Kim “Aiming” Ha-ram, Kim “Kiin” Gi-in, Son “Lehends” Si-woo, dan Moon “Cuzz” Woo-chan.
Foto: League of Legends Champions Korea
Jika musim Spring 2022 adalah sorakan pertama, maka tahun 2023 adalah tahun di mana saya benar-benar menjadi penumpang rollercoaster sejati KT Rolster. Di off-season itu, tim melakukan manuver besar yang membuat jantung setiap penggemar berdebar. Roster yang terbentuk terasa seperti sebuah janji yang akhirnya ditepati. Kedatangan top laner Kim “Kiin” Gi-in, yang sudah lama dihormati; Gwak “Bdd” Bo-seong, mid laner yang konsisten dan andal; dan support veteran yang ringan lidah, Son “Lehends” Si-woo. Secara kolektif, mereka adalah super team baru, dan bagi kami, para penggemar setia, ini terasa seperti kesempatan nyata untuk meraih gelar.
Kami menyaksikan kemenangan demi kemenangan. Ada satu periode di musim Summer LCK di mana KT Rolster tampil tak terbendung, meraih 17 kemenangan beruntun (hanya satu kali kekalahan) yang memabukkan. Setiap pertandingan yang mereka menangkan terasa seperti penegasan: tahun ini, akhirnya, adalah Tahun KT.
Sayangnya, bagi penggemar KT Rolster, euforia selalu menjadi awal dari kejatuhan.
Kutukan itu tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu di tempat yang paling menyakitkan: seri Best-of-5 (Bo5). Setelah harapan tinggi selangit, kami kembali merasakan pahitnya kekalahan di Semifinal LCK. Namun, pukulan terberat datang di panggung global, Worlds 2023. Setelah berjuang keras untuk lolos dari pertandingan eliminasi, kami kembali tersandung dan jatuh di Perempatfinal. Kekalahan itu bukan sekadar kekalahan; itu adalah pembenaran sinis atas semua meme dan keraguan komunitas terhadap KT.
Saya ingat saat Nexus itu hancur; bukan amarah yang saya rasakan, melainkan rasa sakit yang mendalam karena deja vu. Harapan sebesar itu—yang diinvestasikan pada roster bertalenta luar biasa ini—semuanya berakhir di satu titik eliminasi yang kejam. Momen itu membuktikan bahwa kutukan itu memang nyata, dan sebagai penggemar, saya harus menanggung bukti paling pahit dari kenyataan tersebut.
Perpisahan Emosional Sang ADC Veteran (Deft) dan Ujian Kepercayaan di 2024

Foto: League of Legends Champions Korea
Setelah badai emosional tahun 2023, awal tahun 2024 seharusnya membawa harapan baru. Namun, bagi saya dan banyak penggemar lainnya, itu justru terasa seperti momen perpisahan yang panjang dan melankolis. Roster super team yang harus bubar, dan yang paling menyentuh adalah mendengar kabar bahwa ADC veteran nan legendaris, Kim “Deft” Hyuk-kyu, akan menjalani musim terakhirnya bersama KT Rolster sebelum memenuhi kewajiban wajib militer.
Tidak hanya itu, KT melakukan pergerakan off-season yang ambisius. Di tengah perubahan, tim masih mempertahankan mid laner andalan, Bdd, dan merekrut top laner Lee “PerfecT” Seung-min. Namun, daya tarik terbesar terletak pada kehadiran kembali dua Juara Dunia: Hong “Pyosik” Chang-hyeon di jungle dan Cho “BeryL” Geon-hee di support.
Ini bukan sekadar rekrutan pemain veteran; ini adalah reuni intifag dari DRX 2022 yang secara di luar ekspektasi siapapun memenangkan Worlds 2022. Melihat Pyosik, Deft, dan BeryL berdiri di bawah bendera KT Rolster, ekspektasi penggemar meledak. Harapannya melampaui gelar LCK—kami berharap keajaiban sekali lagi terulang.
Namun, roster bertabur bintang ini berjuang menemukan konsistensi, dan ujian kepercayaan yang sesungguhnya datang di akhir musim.
Pukulan terberat adalah kegagalan KT untuk mengamankan tiket terakhir ke Worlds 2024. Setelah berjuang keras di Regional Qualifier LCK, kami harus menerima kekalahan terakhir, ironisnya, dari sang rival abadi, T1. Kegagalan untuk lolos ke Worlds, ditambah dengan perpisahan Deft, terasa seperti akhir yang pahit bagi sebuah roster yang seharusnya memiliki cerita akhir yang jauh lebih baik.
Perpisahan Deft menandai akhir dari era ini, menguatkan tekad saya, dan membebaskan saya untuk menantikan era berikutnya yang lebih bersejarah.

Lee “PerfecT” Seung-min, Hong “Pyosik” Chang-hyeon, Gwak “Bdd” Bo-seong, Kim “Deft” Hyuk-kyu, dan Cho “BeryL” Geon-hee.
Foto: League of Legends Champions Korea
Capaian Historis 2025: Dari Terburuk LCK Cup ke Final Worlds – From Proof to Legacy

Foto: Colin Young-Wolff/Riot Games
Setelah perpisahan emosional Deft dan kegagalan kualifikasi Worlds 2024, tahun 2025 terasa seperti membangun kembali dari nol. Hanya PerfecT di top lane dan Bdd di mid lane yang bertahan, ditemani oleh kembalinya veteran Cuzz di jungle, bot laner baru Seo “deokdam” Dae-gil, dan support dari akademi Han “Way” Gil.
Perubahan ini juga terjadi di belakang layar: setelah pengabdian panjang sejak 2020, head coach Kang “Hirai” Dong-hoon akhirnya meninggalkan tim, dan pucuk pimpinan kini dipegang oleh legenda KT Rolster sendiri, Go “Score” Dong-bin. Melihat jungle ikonik dari era 2012 kini memimpin tim dari balik layar, harapan untuk regenerasi warisan tim terasa nyata.
Namun, harapan itu segera diuji. Awal tahun 2025 terasa suram. Di LCK Cup, penampilan tim sangatlah mengecewakan, dengan hasil yang membuat kami harus menelan kenyataan bahwa tim ini kembali dilabeli sebagai tim papan tengah yang lemah.
Masa-masa awal musim 2025 adalah periode ketidakpastian total—sebuah fase di mana tim secara terbuka mencari formula terbaiknya. Sering terjadi pergantian pemain antara tim utama LCK dan tim LCK Challengers. Kami melihat PerfecT harus berbagi slot dengan pemain Shin “Casting” Min-je di top lane, sementara deokdam bersaing ketat dengan Park “Paduck” Seok-hyeon di bot lane. Dinamika yang tidak stabil ini, ditambah dengan performa yang kurang maksimal dari support Way, menempatkan KT Rolster di posisi yang sangat sulit.
Puncak dari fase adaptasi ini adalah keputusan manajemen yang berani dan krusial: mereka mengganti Way secara permanen dengan pemain Jeong “Peter” Yoon-su di support. Pergantian ini, meskipun berisiko di tengah musim, terbukti menjadi kunci sinergi yang hilang. Dengan formula tim yang akhirnya stabil—PerfecT, Cuzz, Bdd, deokdam, dan Peter—keajaiban yang sesungguhnya mulai terbentuk.
Meskipun formula tim stabil, rollercoaster KT Rolster tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka harus gagal di babak Road to MSI (Mid-Season Invitational), dan satu-satunya harapan untuk bisa bersinar di turnamen internasional adalah Worlds.
Di musim Summer, tim ini tetap menunjukkan penampilan yang tidak konsisten. Satu hari mereka tak terkalahkan, hari berikutnya mereka terseok-seok melawan tim tiga besar teratas. Namun, kami melihat semangat baru yang berjuang keras.
Mereka berhasil lolos ke babak Playoffs LCK, dan di sana, fighting spirit mereka muncul di waktu yang paling krusial. Melawan prediksi, KT Rolster tampil heroik dengan mengalahkan tim teratas, GenG, dalam sebuah seri Bo5 yang mendebarkan. Kemenangan ini, bukan peringkat di musim reguler, yang secara dramatis mengamankan slot otomatis ke Worlds 2025. Kegagalan meraih tiket ke MSI kini terasa tidak penting.
Keberhasilan kualifikasi ke Worlds sudah merupakan penebusan. Tetapi yang terjadi di Worlds melampaui mimpi terliar saya. Melawan semua prediksi, KT Rolster—yang dibangun dari ketidakpastian dan percobaan roster—tampil dengan semangat ‘KT Fighting’ yang sesungguhnya. Mereka membuktikan bahwa perjuangan keras melampaui statistik. Kami tidak hanya lolos ke Semifinal, kami terus melaju, mengukir sejarah dengan berhasil melaju ke babak Final Worlds untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi.
Momen itu merupakan validasi terbesar dari segala air mata, kekecewaan, dan jam begadang sejak 2022. Melihat para pemain KT Rolster berdiri di panggung megah Final Worlds terasa bagaikan kemenangan moral. Namun, di sisi lain, perjuangan harus terhenti. Meskipun kami berhasil meraih gelar Runner-Up, kekalahan di babak puncak itu tetap menyengat. Bagi kami, kekalahan ini membawa kepahitan yang mendalam, terutama karena kami tahu betapa besarnya impian Bdd—salah satu pilar terlama tim—untuk memenangkan Worlds, khususnya bersama KT Rolster. Impian itu, yang sudah bertahun-tahun ia kejar, sekali lagi harus tertunda.
Kepahitan itu nyata, tetapi ia tidak menghancurkan. Justru, kekalahan di Final Worlds ini menegaskan kembali pelajaran utama dari seluruh perjalanan ini: mendukung KT Rolster tidak pernah hanya tentang trofi. Ini adalah tentang loyalitas yang teruji, kesabaran yang tak terbatas, dan mentalitas untuk bangkit, berulang kali, dari titik terburuk hingga Final Worlds. Kami telah menempuh perjalanan yang menantang: From Proof to Legacy. Sejarah telah diukir, dan loyalitas telah terbayar lunas, bukan dalam bentuk piala, melainkan dalam bentuk warisan perjuangan yang abadi.

Lee “PerfecT” Seung-min, Moon “Cuzz” Woo-chan, Gwak “Bdd” Bo-seong, Seo “deokdam” Dae-gil, dan Jeong “Peter” Yoon-su.
Foto: Christina Oh/Riot Games
Melampaui Roster Shuffle: Mengapa Komitmen Saya Tidak Pernah Bergantung pada Nama Besar
Setelah Final Worlds 2025 yang begitu menyengat—sebuah pencapaian yang terasa seperti kemenangan sekaligus kekalahan—saya menyadari satu hal: loyalitas saya terhadap KT Rolster telah melewati ujian yang paling berat, yaitu masa roster shuffle yang brutal. Dari perombakan di akhir 2022, perpecahan super team 2023, perpisahan emosional dengan Deft di 2024, hingga ketidakstabilan roster di awal 2025, tim ini terus berubah wajah.
Mengikuti tim lain, hasil buruk atau perginya pemain bintang seperti Deft atau Kiin mungkin akan menjadi alasan untuk mencari tim baru. Tetapi di KT Rolster, perpisahan telah menjadi bagian dari identitas. Saya belajar bahwa mendukung tim ini bukanlah sekadar tentang memuja nama-nama besar, melainkan tentang mendukung seluruh pemain yang datang, melihat mereka membangun sinergi yang kuat, “menyambut” pemain rookie yang berhasil debut di roster utama, dan semangat bertarung yang diwariskannya.
Komitmen ini adalah tentang melihat Bdd tetap berjuang melewati tahun demi tahun, ini adalah tentang kepercayaan bahwa pemain rookie seperti PerfecT dan Peter bisa menjadi pahlawan di panggung terbesar, meskipun mereka berasal dari titik terbawah.
Itulah warisan yang saya dapatkan dari rollercoaster ini. Ke depan, baik musim 2026 atau seterusnya, saya tahu perjalanan KT Rolster akan terus dipenuhi dengan harapan, comeback yang mendebarkan, dan kemungkinan patah hati yang tak terhindarkan. Dan sebagai seorang penggemar yang telah melalui semuanya—dari posisi ke-8 LCK Cup hingga Runner-Up Worlds—saya tidak akan kemana-mana. Saya akan tetap di baris depan, siap untuk episode selanjutnya. Karena bagi saya, mendukung KT Rolster adalah sebuah mentalitas, sebuah janji, dan sebuah kehormatan.
