Aku yakin, kita semua akan setuju jika mengatakan bahwa Kota Jakarta hanya untuk orang-orang kuat. Seperti halnya yang diangkat dalam novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna.
Dalam bukunya yang berjumlah 304 halaman ini, dia menceritakan tentang sebuah kota besar yang menjadi tempat bagi manusia berkelana mencari uang. Sebuah kota yang telah menjadi pelabuhan bagi ratusan ribu jiwa yang datang untuk menetap dengan segala mimpi yang mereka harapkan.
Dalam buku ini, dijelaskan bahwa Kota Jakarta adalah kota bagi mereka yang siap mempertaruhkan segalanya agar bisa hidup dengan aman, mereka bersedia bertaruh pada kehidupan, akan hidup mereka di kota besar yang penuh dengan gedung tinggi, yang selalu menyala setiap malam menjelang.
Brian Khrisna dalam buku ini membuka sudut pandang lainnya tentang kota besar yang orang kenal sebagai surga, sebuah tempat yang dianggap surga yang siap untuk melumat habis semua mimpi manusia yang datang, serta memakan habis harapan para manusia yang selalu bertaruh pada mimpi mereka dan pada akhirnya membawa mereka pada sebuah jurang keputusasaan.
Novel Sisi Tergelap Surga memusatkan pandangan kita pada warga yang ada di sebuah kampung yang berada di pinggiran Kota Jakarta. Brian Khrisna mengangkat kisah hidup dari penghuni kampung yang memiliki berbagai macam masalah kehidupan yang berbeda.

Baca juga: Review Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna
Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuhnya agar bisa memberikan makan dan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya, penjual nasi goreng yang memiliki masa lalu sebagai mantan narapidana, pemimpin kecil yang culas, seorang ayah yang menjadi badut jalanan dengan kostum ayam demi menyekolahkan anak-anaknya yang cerdas, pencuri motor yang hanya ingin membelikan ibunya obat, seorang remaja yang melumuri tubuhnya dengan cat berwarna silver, seorang anak pemuka agama yang menyembunyikan dosanya, seorang wanita yang rela menghilangkan kehidupan tenangnya demi menghilangkan label perawan tua dalam dirinya, seorang laki-laki alim yang memiliki rahasia besar dibalik topeng muslihatnya, sampai preman-preman yang bergelut di terminal namun memiliki hati yang lembut.
Mereka merelakan semua impian mereka, lenyap termakan kejamnya kehidupan. ”Apalagi yang bisa diambil dari orang-orang seperti mereka, yang bahkan sudah tidak punya apa-apa? Hidup mau, mati pun enggan. Di kota ini, tanah kuburan lebih mahal dari biaya hidup setengah tahun lebih.” Hal ini diungkapkan Brian Khrisna di halaman 38.
Mereka adalah bayangan-bayangan yang kerap kita abaikan saat lampu merah menyala. Sosok-sosok yang tak memiliki kemewahan untuk bermimpi, hanya kekuatan untuk bertahan. Dalam “Buruh, Bajingan, dan Cerita-Cerita Lainnya”, Brian Khrisna tidak sekadar menulis cerita. Ia mengiris luka kota, memperlihatkan denyut luka-luka kecil yang lama-lama jadi lubang menganga dalam hati masyarakat pinggiran.
Di halaman-halaman bukunya, kita dipaksa untuk berhenti, tapi bukan karena iba, melainkan karena kita ditampar oleh realitas yang terlalu sering pura-pura kita abaikan. Brian tak memoles kemiskinan jadi kisah heroik. Ia menelanjanginya. Membiarkan pembaca merasakan getirnya, amisnya, dan kesepiannya.
Gaya narasinya yang lugas tapi puitis membuat pembaca bukan hanya memahami, tapi merasakan. Buku ini juga menjelaskan sisi lain dari sebagian orang yang terkadang lupa, kita yang terbiasa hidup dalam ketenangan bisa seakan lupa tentang bagaimana banyaknya orang yang selalu menderita setiap pagi dan malam.
Dalam buku ini kita bisa belajar tentang bagaimana kerasnya kehidupan membantai setiap insan yang hanya mencoba untuk bertahan untuk tetap hidup. Seperti yang ia angkat dalam sosok seorang Ayah yang menjadi badut yang melambaikan tangan dipinggir jalan, mengharapkan belas kasih dari kendaraan yang lewat.

Brian Khrisna juga memberikan banyak contoh lainnya dari para pejuang kehidupan yang selama ini mungkin terabaikan, seperti seorang penjual nasi goreng yang selalu membuang nasinya yang tidak habis karena sepinya pembeli, remaja yang kehilangan keluarga mereka dan hanya menjadi pengelana tanpa tujuan, mencoba mencari keajaiban dari Tuhan di dalam kehidupan.
Berusaha? Setiap manusia pasti telah berusaha, tapi sayangnya garis takdir tidak memungkinkan mereka tertidur nyenyak. Beginilah isi singkat dari banyaknya kehidupan pahit yang diberikan penulis dalam setiap kalimat yang tertuang dalam setiap lembar. Namun, Brian Khrisna tidak lupa memberikan kalimat manis tentang kehidupan, tentang Tuhan yang selalu menyimpan bagian terbaik dalam setiap garis takdir manusia, ”Dalam hidup, kamu dihadapkan pada ribuan kemungkinan abstrak. Meski tampak seperti perjudian, Tuhan tidak pernah bermain dadu dalam memilih garis takdir setiap umat-Nya. Melainkan, ia duduk sebagai bandar utama yang membantumu mempertaruhkan segalanya.” Hal ini ia ungkapkan pada bukunya halaman 177.
Baca juga: Review Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye
Dengan membaca buku ini, dapat memberikan kita pelajaran hidup, kita juga bisa lebih bersyukur dan bisa lebih mengerti akan orang-orang yang berada di sekitar tempat kita hidup. Dalam buku ini kita bisa melihat bagaimana alasan orang-orang yang rela bekerja dengan berbagai pekerjaan demi bisa makan dan agar bisa memberikan kebahagiaan kepada orang tersayang.
Selain itu, buku ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti berbagai kalangan termasuk remaja
ataupun orang dewasa. Tidak hanya berisi satu tokoh, namun lebih dari tiga tokoh, membuat pembaca merasa lebih tertarik untuk membacanya, dan membuat buku ini jauh lebih menarik.
Memiliki plot slice of life, terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan terasa seperti dibiarkan mengalir saat membacanya membuat pembaca terasa seperti tenggelam dalam setiap kisahnya, namun tidak terasa membosankan, karena memiliki banyak plot twist dalam setiap bab kisahnya.
Buku ini memberikan pandangan yang berbeda terhadap banyak hal-hal tabu di kalangan masyarakat kita, memberikan masyakat kita pandangan baru, karena terkadang masyarakat kita lebih suka menghakimi tanpa tahu alasan dibalik banyaknya hal-hal yang terjadi, terkadang kita bersikap seakan kita adalah Tuhan yang tahu akan yang benar dan yang salah, dan menghakimi mereka.
Memberikan kita pandangan lain terhadap Kota Jakarta yang selalu dianggap sebagai surga oleh orang-orang yang berada di luar provinsi tempat Jakarta berdiri. Saya yakin, mungkin buku ini terdengar terlalu vulgar, tapi jika kita mendalami setiap kisah tokoh yang berada di setiap lembar halaman akan membuat kita menangis. Menangisi akan kehidupan yang terasa begitu kejam dan tragis kepada mereka yang terbilang kurang beruntung.
Kita bisa belajar dari mereka yang selalu berusaha untuk tetap tegar menjalani hari, tetap kuat dan terus bangkit di saat mereka berada di dalam titik terendah kehidupan mereka. Saya sangat merekomendasikan buku ini, menurut saya ini adalah salah satu buku terbaik dan harus kalian baca sekali seumur hidup.
