Novel Ayahku (Bukan) Pembohong adalah ditulis oleh novelis Tere Liye. Novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Sinopsis
Novel Ayahku (Bukan) Pembohong mengisahkan tentang Dam, seorang anak yang tumbuh dengan dongeng-dongeng luar biasa dari sang ayah tentang petualangan di Lembah Bukhara, Suku Penguasa Angin, dan persahabatan dengan pemain bola legendaris El Prince. Dam sangat mengagumi ayahnya saat
kecil, namun ketika dewasa, ia mulai meragukan semua cerita itu dan menganggapnya sebagai kebohongan.
Konflik memuncak ketika Dam menuduh ayahnya berbohong dan menjauhkan anak-anaknya dari sang kakek. Namun, setelah sang ayah meninggal, Dam menemukan bahwa cerita-cerita itu ternyata benar. Tokoh-tokoh dari dongeng ayahnya hadir di pemakaman, membuktikan bahwa sang ayah bukan pembohong, melainkan seseorang yang menyimpan kebenaran dalam kisah-kisah penuh cinta dan harapan.
Menceritakan Dam seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng luar biasa dari sang ayah.
Ayah Dam sering menceritakan kisah-kisah hebatnya sewaktu muda. Kisah sang ayah di Lembah Bukhara. Sebuah tempat misterius yang digambarkan sebagai lokasi penuh keajaiban. Di Lembah Bukhara, sang ayah mengakui bertemu dengan suku legendaris yang bisa mengendalikan angin.

Mereka digambarkan sebagai makhluk bijak dan kuat. Petualangan sang ayah di Lembah Bukhara bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan ia juga belajar tentang kesederhanaan, keberanian, dan pentingnya menjaga harapan dalam hidup.
Lembah Bukhara menjadi tempat di mana ia menemukan nilai-nilai yang kelak ia wariskan kepada Dam melalui dongeng. Ayah Dam mengisahkan bahwa Suku Penguasa Angin tinggal di padang penggembalaan luas yang dikelilingi empat gunung dan empat danau. Mereka menggembala dengan menunggangi layang-layang, menjadikan angin sebagai sahabat dan kendaraan.
Ayah Dam mengisahkan persahabatannya dengan El Prince, seorang pemain sepak bola legendaris yang dikenal sebagai sang kapten. Ia bahkan menyemangati El Prince ketika sang kapten hampir menyerah mengejar mimpinya menjadi pemain terbaik dunia.
Dalam kisah lain, sang ayah menceritakan tentang seorang tokoh yang berprofesi ganda: dokter dan hakim. Ia dikenal sebagai sosok yang paling jujur dan tidak bisa disuap, bahkan oleh pejabat tinggi sekalipun. Ia menyembuhkan orang dengan ilmu medisnya, dan menegakkan keadilan dengan hati nuraninya. Sang ayah mengaku pernah bertemu dengannya saat menjalani petualangan di negeri jauh.
Bahkan saat Dam sudah dewasa dan mempunyai anak. Ayah Dam yang sudah tua sering menceritakan kisah-kisah ajaib kepada cucu-cucunya, Zas dan Qon kisah tentang Suku Penguasa Angin, Lembah Bukhara, dan petualangan masa mudanya yang penuh warna. Anak-anak itu sangat menyukai cerita kakeknya, sama seperti Dam kecil dulu.
Namun, Dam yang sudah dewasa tidak lagi percaya pada cerita-cerita ayahnya. Ia menganggap semuanya hanya dongeng bohong belaka. Ketika ayahnya mulai menceritakan kisah-kisah itu kepada Zas dan Qon, Dam marah besar dan melarang ayahnya bercerita lagi. Ia bahkan sampai mengusir ayahnya dari rumah karena merasa cerita-cerita itu akan menyesatkan anak-anaknya.
Sampai di saat ayah Dam meninggal Dunia. Di pemakaman, Dam terkejut karena tokoh-tokoh dari dongeng ayahnya benar-benar hadir suku penguasa angin dan sang kapten.
Baca juga: Review Novel 3726 MDPL: Gunung, Cinta, dan Luka yang Harus Disembuhkan
Pesan Novel Ayahku (Bukan) Pembohong
Novel Ayahku (Bukan) Pembohong menyampaikan bahwa kasih sayang orang tua sering kali tersimpan dalam cerita sederhana yang penuh makna, dan sebelum kita menghakimi mereka, kita perlu memahami alasan di balik tindakan mereka.

Lewat imajinasi dan dongeng sang ayah, kita belajar tentang pentingnya menghargai waktu bersama keluarga, mendengarkan dengan hati terbuka, dan menyadari bahwa cinta tidak selalu ditunjukkan dengan cara yang langsung.
Saya sangat menyukai cerita dari novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye karena kisahnya begitu menyentuh dan penuh makna tentang hubungan seorang anak dan ayahnya. Ceritanya tidak hanya menghibur melalui dongeng-dongeng ajaib seperti Suku Penguasa Angin dan petualangan di Lembah Bukhara, tapi juga menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dalam.
Saya tersentuh oleh cara sang ayah menyampaikan kasih sayangnya melalui cerita, meskipun tidak dipahami oleh sang anak saat itu.
