Review Novel Surat untuk Jenaka: Antara Cinta dan Hukum
novel surat untuk jenaka

Gimana, sih, rasanya jadi pejelajah waktu? Banyak yang mungkin berpikir bahwa alur ini sudah pasaran. Tapi tenang, Surat untuk Jenaka, meskipun mengangkat penjelajah waktu, plot dan konflik jelas beda. Banyak sekali pengetahuan yang bisa kita dapat di novel ini, mulai dari masa Hindia Belanda, sejarah, hukum, bahasa dan banyak hal. Penasaran? Yuk, baca sampai habis!

Sinopsis

Jenaka, mahasiswa hukum yang apatis, tak pernah menyangka warisan dari sang nenek buyutnya akan mengubah hidupnya. Ketika ia menemukan tumpukan surat-surat misterius di loteng rumah sang nenek, ia merasa seperti masuk ke dalam sebuah pertanyaan yang menggugah: siapa sebenarnya sang
nenek buyutnya?

Namun takdir berkata lain. Raden Panji Ayudhaningrat, bangsawan sekaligus pejuang revolusi, terlibat percintaan dengan sang nenek buyutnya lewat Jendela Cintaka. Jejak-jejak masa lalu yang terpatri dalam surat-surat itu membuat Jenaka memulai petualangan waktu—yang menyingkap tabir perjalanan, rahasia pembunuhan berdarah, dan mengungkap konspirasi dalam sejarah tak terduga.

Akankah ia berhasil membuktikan ketidakbersalahan sang kakek, atau justru tersesat dalam labirin masa lalu yang tragis? Dari kehidupan masa depan yang sudah ia kenal pasti, kebenaran yang ia temukan akan mengubah sejarah keluarganya selamanya.

Berawal dari tahun 2024 yang pada saat itu saya FOMO dengan novel-novel hits dan terbaru. Dulu, saya suka membeli novel hanya karena cover-nya lucu atau memang sering lewat di TikTok, tapi saat pre-order novel Surat untuk Jenaka, saya sempat berpikir ulang.

Kenapa? Karena alur tentang penjelajah waktu terasa sangat umum. Namun karena saya penasaran, akhirnya saya tetap membelinya.

Cerita dimulai saat sang tokoh utama bernama Jenaka yang pada suatu diberi warisan gelang berlian dari nenek buyutnya. Siapa sangka, bahwa gelang itulah yang membawa Jenaka terlempar ke tahun 1923, di mana dia bertemu dengan nenek buyutnya, Cantika. Di sana, Jenaka menghabiskan waktu bersama Cantika dan mengetahui bahwa ia akan dijodohkan dengan Raden Panji, padahal Cantika tidak menyukainya dan Jenaka tahu bahwa kakek buyutnya bukanlah Raden Panji.

Sumber: Canva

Namun, segalanya berubah ketika Raden Panji ditemukan tewas mengenaskan. Cantika pun dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Demi membersihkan nama baik sang nenek buyut, Jenaka bekerja sama dengan jaksa pribumi bernama Pram dan Jati—pria yang ternyata dicintai oleh Cantika dan juga merupakan kakek buyut Jenaka. Mereka berusaha mengungkap dalang di balik peristiwa tragis tersebut.

Banyak kejadian yang membuat suasana tegang, panik, dan juga dibumbui sedikit romansa. Bagaimana kelanjutannya?

“Apakah keadilan benar benar ada atau hanya fatamorgana?”

Kutipan tersebut sangat realistis dan relevan dengan kondisi saat ini. Banyak peristiwa yang terasa tidak adil, meskipun hukum tetap ada. Inilah yang ingin disampaikan dalam Surat untuk Jenaka.

Penilaian

Dampak yang saya rasakan saat membaca novel ini adalah memberikan banyak sekali ilmu sejarah di masa Hindia Belanda dan dijelaskan hukum Indonesia pada masa Hindia Belanda yang pada masa itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda.

Narasinya ditulis dengan rapi dan bagus, minim typo, serta dilengkapi dengan ilustrasi yang mendukung imajinasi pembaca. Plot konfliknya juga tidak pasaran. Novel ini tidak hanya fokus pada satu genre, tetapi mencampurkan unsur sejarah, hukum, romansa, hingga misteri secara seimbang.

Dari sudut pandang karakter, pembaca akan merasa seolah-olah ikut masuk ke dalam dunia novel. Karakternya pun diperkenalkan secara perlahan dan mendalam.

Jujur, saya sangat merekomendasikan novel ini untuk kalangan remaja. Meski alurnya agak berat, namun tetap bisa dinikmati secara santai. Apalagi, gaya bahasa yang digunakan sangat nyaman dan tidak terburu-buru dan sangat cocok untuk kalangan remaja.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya