Review Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya: Sebuah Refleksi Tentang Ketidaksempurnaan dan Harapan
Cover Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya adalah karya reflektif dari seorang psikiater, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, yang menghadirkan tema kesehatan mental dengan cara yang ringan, segar, dan menyentuh. Bukunya diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 224 halaman ini pertama kali terbit pada Februari 2025.

“Kalau bisa reinkarnasi, kamu ingin jadi apa?”

Sebuah pertanyaan sederhana—sampai seseorang menjawab, “semangka.” (pohon semangka). Awalnya, begitu membaca judul buku ini, aku langsung berhenti sejenak. Serius, semangka? Bukannya lucu, aku justru bertanya, “Kenapa harus semangka?”

Tapi saat membaca lebih jauh, aku menyadari di balik jawaban itu tersimpan luka, kelelahan, dan harapan yang diam-diam sangat dekat dengan kita. Dari satu baris yang tak biasa, aku justru menemukan salah satu buku paling hangat dan menenangkan yang pernah kubaca.

Buku ini bukan soal bagaimana menjadi hebat, tapi justru soal bagaimana menerima diri apa adanya meski tak sempurna.

Baca juga: Review Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna

Tentang Buku dan Kisah di Dalamnya

Sumber: Canva

Melalui kisah nyata seorang pasien bernama Lalin, pembaca diajak masuk ke ruang konsultasi yang tidak hanya berisi diagnosis atau terapi, tapi juga kejujuran dan renungan. Lalin mengidap autoimun, memiliki banyak luka masa lalu, dan merasa lelah menjadi “manusia hebat” yang dituntut terus kuat. Dalam sebuah sesi, Lalin menjawab, “Kalau bisa reinkarnasi, saya ingin jadi pohon semangka.” (hlm. 77)

Pohon semangka bukan pohon tinggi yang mencolok. Ia merambat di tanah, hampir tak terlihat, tapi buahnya manis dan menyegarkan. Di sinilah kekuatan metafora itu bekerja, keinginan untuk menjadi sederhana, berguna, dan tidak harus selalu berada di garis depan.

Tak hanya tentang Lalin, buku ini juga menyajikan kisah dan metafora lain—ubur-ubur yang melayang tanpa beban, ikan mas koki yang tak bisa menyimpan ingatan, bunga matahari yang selalu mencari cahaya. Semuanya dikemas dengan gaya naratif santai, kadang lucu, tapi selalu mengajak refleksi.

Refleksi: Saat Aku Juga Ingin Jadi Semangka

Aku membaca buku ini di tengah masa sulit—saat merasa stuck, lelah memenuhi ekspektasi orang lain, dan mempertanyakan arah hidup. Dan di tengah kelelahan itu, kalimat ini muncul, “Narasi ‘waktu yang tepat’ bisa berubah jadi penyesalan jika kita terlalu sibuk menunggu.” (hlm. 56)

Buku ini terasa seperti pelukan diam. Tidak menggurui, tidak menawarkan solusi instan, tapi menyadarkan bahwa kita tidak harus selalu kuat. Tidak apa-apa merasa gagal, kecewa, atau ingin menyerah—selama kita tahu bahwa semua itu bagian dari proses menjadi utuh.

Yang paling aku suka adalah cara penulis mengajak kita memahami orang lain. Bahwa mungkin, ada orang di sekitar kita yang tampak biasa-biasa saja, tapi menyimpan luka sangat dalam. Dan mungkin, mereka hanya ingin menjadi semangka—tak mencolok, tapi bermakna.

Baca juga: Review Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye: Sebuah Perjalanan Menemukan Diri Lewat Sosok Perempuan Luar Biasa

Pelajaran: Tidak Harus Tinggi untuk Berarti

Salah satu pelajaran terpenting dari buku ini adalah menerima ketidaksempurnaan. Kita sering merasa harus terus naik level, harus terus berprestasi, harus jadi “versi terbaik”—padahal, mungkin kita hanya butuh ruang untuk menjadi diri sendiri. “Kita tak perlu menjadi tinggi untuk berarti.” (hlm. 103)

Sumber: Canva

Buku ini juga mengajarkan pentingnya memberi ruang—untuk diri sendiri, untuk bernapas, dan untuk memahami luka orang lain. Sama seperti pohon pinus yang tidak tumbuh terlalu rapat agar tetap bisa hidup berdampingan. “Bahkan pinus pun memberi jarak agar bisa tumbuh bersama.” (hlm. 110)

Kenapa Buku Ini Layak Dibaca?

Di tengah gempuran buku-buku pengembangan diri yang sibuk menyuruh kita jadi versi terbaik setiap hari, buku ini tampil beda. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tidak menjanjikan “healing dalam 7 hari.”

Buku ini justru datang seperti teman lama yang duduk di sebelahmu lalu berkata, “Nggak apa-apa kok kalau kamu belum baik-baik saja.” Dan jujur, itu melegakan.

Buku ini layak dibaca bukan karena ia menjanjikan jalan keluar, tapi karena ia memberi ruang untuk kita bertanya, diam, bahkan menangis jika perlu. Dengan gaya narasi yang santai tapi dalam, buku ini menawarkan cara baru melihat hidup—bukan sebagai lomba, tapi sebagai proses.

Kamu akan suka buku ini jika pernah merasa gagal padahal sudah berusaha, bingung kenapa hidupmu rasanya gini-gini aja, capek pura-pura kuat di depan orang lain.

Buku ini tidak menggurui, tapi juga tidak terlalu manis. Ia jujur. Ia hangat. Dan ia membiarkan kita beristirahat dari segala tuntutan untuk menjadi “hebat.” Karena pada akhirnya, seperti yang buku ini bisikkan pelan-pelan, “Menjadi tinggi itu hebat, tapi menjadi cukup pun tak kalah kuat.”

Penutup: Kadang Kita Tak Butuh Hebat, Hanya Ingin Damai

Buku ini membuatku sadar bahwa menjadi “hebat” bukan satu-satunya tujuan hidup. Kadang, kita hanya ingin hidup tenang—tanpa tekanan, tanpa perlombaan. Seperti semangka yang tumbuh rendah di tanah: sederhana, manis, dan menyejukkan.

Sumber: Canva

Damai bukan tentang berhenti bermimpi. Tapi tentang memberi ruang untuk bernapas, berhenti sebentar, dan mengizinkan diri menjadi cukup. Karena pada titik tertentu, yang kita butuhkan bukan kemenangan—melainkan kedamaian.

Jika kamu sedang berada di persimpangan hidup, merasa lelah jadi “anak baik,” “rekan kerja andalan,” atau “versi ideal” yang dibentuk orang lain—buku ini bisa menjadi teman terbaikmu. Karena pada akhirnya, seperti semangka, kita tak perlu tinggi untuk memberi makna—cukup tumbuh dengan tenang dan tetap menyegarkan.

Mungkin, buku ini tak akan mengubah segalanya. Tapi bisa jadi, ia akan menemanimu memahami hal-hal yang selama ini kamu diamkan.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya