Pernah denger atau baca soal Tradisi Setonan/Senenan?
Sejak saya membaca novel Rara Mendut dan Genduk Duku gubahan Romo Mangunwijaya, muncul banyak sekali rasa penasaran. Salah satu yang sangat ingin sekali saya kulik adalah kegiatan Setonan. Dalam buku novel tersebut, acara Setonan ini seakan-akan menjadi pementasan yang sangat dinanti-nanti oleh khalayak: tidak hanya oleh penduduk tataran Mataram, namun juga para putri dan abdi dalemnya.
Dalam sejarah Kesultanan Mataram, kekuatan militer bukan hanya sekadar jumlah prajurit atau senjata perangnya. Militer Mataram dikenal dengan disiplinitas, strategi, dan keahlian personalnya yang tinggi.
Salah satu bentuk manifestasi budaya militer itu adalah Setonan, sebuah pertunjukan ketangkasan prajurit yang tidak sekadar ritual atau hiburan semata, melainkan juga simbol kekuatan, loyalitas dan spiritual.
Baca Juga: Transisi Sejarah Wakaf Era Kolonial
Mengenal Lebih Dekat Tradisi Setonan atau Senenan
Setonan atau Senenan merupakan sebuah rangkaian acara yang mempertontonkan keahlian para prajurit perang Mataram dalam berkuda dan memainkan senjata seperti tombak. Dalam buku Babad Tanah Jawi (The Chronicle of Java) yang disunting oleh Willem Remmelink terdapat keterangan mengenai penamaan Setonan atau Senenan. Setonan diambil dari kata “Seton” yang berarti Sabtu, di mana perhelatan ini biasanya diadakan pada hari Sabtu di wilayah Istana. Sedangkan di wilayah-wilayah Mataram lainnya diadakan pada hari “Senen” atau Senin.
Tertulis dalam buku Babad Tanah Jawi bahwa Baginda Panembahan Senopati selama berada di Mataram, beliau sering mengadakan pesta. Para punggawa di Mataram diperintahkan untuk beradu ketangkasan menunggangi kuda dan menggunakan tombak-tombak yang terbuat dari batang pisang. Jika salah satu dari mereka ada yang jatuh dari kuda atau terkena tombak tumpul, maka ia dikatakan kalah.
Dikutip dari akun instagram @sejarahjogya, Setonan atau Senenan diartikan sebagai bentuk latihan perang dengan menggunakan tombak tumpul dengan menunggangi kuda, dan dilakukan di alun-alun depan istana. Pada tahun 1670, Susuhanan Amangkurat I di Plered pernah memerintahkan kepada setiap bangsawan untuk wajib melaksanakan perang-perangan dengan menggunakan pakaian kebesaran. Dalam beberapa versi, Setonan atau Senenan juga diiringi dengan alunan gamelan yang menambah suasana khidmat.
Lebih dari Atraksi: Fungsi Strategis dan Simbolis Setonan/Senenan
Setonan atau Senenan menjadi ajang bagi prajurit menunjukan kemahirannya dalam manuver perang dan penguasaan berkudanya. Ini merupakan bentuk latihan sekaligus pamer kekuatan untuk menunjukkan kesiapan pasukan kapan pun dibutuhkan.
Dalam konteks kerajaan, Setonan atau Senenan juga berfungsi sebagai ritual simbolik prajurit kepada raja atau sultan. Acara ini sering dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari besar kerajaan, seperti peringatan kemenangan atau penyambutan tamu agung.
Seperti yang tertuang dalam buku gubahan Y.B. Mangunwijaya, novel trilogi Rara Mendut, acara Setonan dilakukan setelah kemenangan Tumenggung Wiraguna atas Pati. Dengan demikian, Setonan turut menegaskan legitimasi kekuasaan raja melalui tampilan kekuatan militernya.
Tradisi ini juga menjadi bukti betapa eratnya hubungan antara budaya, spiritualitas, dan kemiliteran dalam sistem kerajaan Jawa pada masa Mataram. Setiap gerakan, kostum, hingga irama musik pengiring memiliki makna filosofis yang mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan kekuasaan.
Baca Juga: Jejak Martabak Manis: Dari Hak Lo Pan ke Terang Bulan Favorit Semua Kalangan
Setonan atau Senenan dalam Narasi Sejarah
Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa Setonan atau Senenan sering diadakan di area luas seperti alun-alun. Seperti pada koleksi digital KITLV, terdapat dua gambar yang memperlihatkan suasana Setonan atau Senenan. Prajurit-prajurit yang tampil dalam adu ketangkasan biasanya merupakan pasukan pilihan.
Dalam beberapa kesempatan, Setonan dan Senenan juga dikaitkan dengan latihan macapat atau pementasan seni militer yang menjadi bagian dari pendidikan para bangsawan muda. Kini, Setonan atau Senenan mungkin sudah tidak lagi menjadi bagian dari latihan perang. Namun, tradisi ini masih tetap hidup dalam bentuk pertunjukan budaya di beberapa keraton pewaris Mataram seperti Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Setonan bukan sekedar nostalgia belaka, hal ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati prajurit Mataram tidak hanya pada senjata, tetapi pada jiwa yang disiplin, terlatih dan terhormat.
Baca Juga: Belajar Humoris dari Kisah Abu Nawas
Referensi:
Digital Collections, Leiden University Libraries (KITLV)
Seri Litografi Mataram, instagram @sejarahjogya


